
NEWSNESIA.ID – Emotional Health for All Foundation (EHFA) atau Yayasan Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri berbasis riset mencatat angka kejadian bunuh diri di Indonesia mencapai 4 kali lipat dari yang dilaporkan, atau diperkirakan lebih dari 300 persen.
Laporan yang tidak tercatat, menurut studi, karena beragam alasan. Di antaranya termasuk perbedaan standar dan sistem pencatatan bunuh diri di rumah sakit, serta banyak keluarga yang masih menyembunyikan kejadian bunuh diri akibat malu dan stigma masyarakat.
Angka kejadian bunuh diri tertinggi terjadi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Maluku Utara dan Kepulauan Riau. Sementara tingkat upaya bunuh diri tertinggi dari Sulawesi Barat, Gorontalo, Bengkulu, Sulawesi Utara dan Kepulauan Riau.
“Ini merupakan presentase tertinggi dari jumlah kejadian yang dilaporkan secara Nasional di dunia,” ujar Ketua EHFA, Dr. Sandersan Onie via siaran persnya, Jumat (9/11/2021).
Catatan EHFA untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia setiap tanggal 10 September.
Adapun metode bunuh diri yang paling sering di Indonesia di antaranya, gantung diri, meracuni diri sendiri, melompat dari ketinggian dan benda tajam.
Sementara faktor resiko bunuh diri meliputi kesepian, masalah keluarga hingga masalah keuangan. Menurut Sanderson, untuk setiap kematian bunuh diri, kemungkinan terdapat 8-24 kali upaya percobaan bunuh diri dengan penyebab tertinggi akibat tekanan psikologis, penyakit kronis hingga masalah keuangan.
“Agama, komunitas, serta akses ke perawatan psikologis, dapat menjadi faktor protektif yang dapat mencegah terjadinya bunuh diri,” tambah dia.
Rekomendasi
Sebagai upaya pengembangan program “Strategi Pencegahan Bunuh Diri Nasional”, tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah, meliputi:
- perlunya kebijakan nasional melalui kerjasama dengan institusi terkait;
- pengentasan moralisasi bunuh diri dari sisi agama;
- peningkatan penelitian akademis secara terlatih dan sistemik;
- pembentukan asosiasi lintas disiplin sebagai pengawasan upaya pencegahan bunuh diri;
- melakukan intervensi dengan pembatasan sarana bunuh diri;
- meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akademis tentang bunuh diri sebagai upaya pencegahan bunuh diri berdasarkan situasi, kondisi dan kearifan lokal setempat.
“Rekomendasi ini berdasarkan temuan data yang baru,” kata Sandersan.
Tim peniliti kemudian membentuk Asosiasi Indonesia untuk Pencegahan Bunuh Diri (Indonesian Association for Suicide Prevention-INASP) yang akan menjadi sarana membangun jaringan para pemangku kepentingan di seluruh Indonesia, sebagai badan perwakilan nasional untuk Pencegahan Bunuh Diri Indonesia di Panggung Internasional, dan sebagai pusat data tentang bunuh diri yang andal, kini dapat dilihat pada situs Inasp.id, termasuk tingkat bunuh diri dan pencobaan bunuh diri setiap provinsi, dan data krusial lainnya yang belum pernah dibuka untuk umum.
“Asosiasi ini akan menjadi kumpulan peneliti, dokter, orang-orang dengan pengalaman langsung, pemimpin teknologi, jurnalis, dan banyak lagi, di mana para anggota akan berkumpul dalam konferensi nasional tahunan guna menyajikan penelitian, data baru, dan pendekatan untuk pencegahan bunuh diri,” ungkap Sandersan.(narto)




















