
Benarkah, Bukan Kriminal Biasa?
Beberapa hari ini saya ingin sekali menulis dua kejadian yang menarik perhatian saya, sebagai orang Gorontalo di perantauan, tindakan kekerasan terhadap seorang politisi Nasdem Mikson Yapanto persoalan tambang emas di daerah Suwawa, dan satu lagi penganiayaan dengan senjata tajam yang diceritakan dari mulut ke mulut masih terkait dengan kader Partai Nasdem sebagai buntut perseteruan politik saat kampanye.
Konflik ini, mungkin bukan kriminal biasa maka saya ingin menjelaskan dalam perspektif politik dengan menggunakan teori “Relasi Kekuasaan dan Premanisme Pada Sistem Politik”.
Mengapa saya menggunakan teori ini untuk memetakan kedua kekerasan ada tangan – tangan kekuasaan didalamnya sebagai patron dan client.
Saya ingin mengingatkan kembali bahwa, relasi kekuasaan dan premanisme di Indonesia sangat erat, premanisme bukan hanya kriminalitas, tapi sistem kekuasaan informal yang saling menguntungkan (patronase) antara preman/ormas dan elite politik/penguasa, di mana preman dimanfaatkan untuk mobilisasi massa, pengamanan proyek termasuk pertambangan, bahkan intimidasi dengan kekerasan, sementara elite memberikan perlindungan dan ‘jatah’ kekuasaan.
Relasi yang saling memanfaatkan ini telah berlangsung dari zaman kolonial, berlanjut di Orde Baru, hingga kini, dan ini menunjukan logika kekuasaan yang tidak normal (informal) dan sulit dipisahkan dari politik, mereka memanfaatkan kelemahan hukum dan ketimpangan sosial untuk bertahan bahka mereka mengembangkan pengaruhnya dibawah tangan – tangan yang tidak terlihat dari aparat (yang biasa disamarkan dengan nama oknum).
Relasi Kekuasaan dan Premanisme
Sistem Informal, artinya Premanisme adalah bagian dari sistem politik informal di Indonesia, dan menjadi tontonan biasa bahkan diterima oleh sebagian warga sebagai sebuah kebenaran, di mana kekuasaan dijalankan lewat logika patron-klien, hubungan yang saling menguntungkan (Patronase), sedangkan Penguasa melindungi preman dan memberikan ‘jatah’ wilayah atau proyek, sementara preman menyediakan kekuatan massa, pengamanan informal, dan dukungan politik.
Preman Sebagai Alat Politik
Dalam praktek demokrasi di negeri Konoha ini, kekuatan jalanan (preman) digunakan untuk mobilisasi elektoral, mengintimidasi lawan politik, dan mengamankan kepentingan bisnis.
Preman Perpanjangan Tangan Kekuasaan
Kelompok preman/ormas sering menjadi perpanjangan tangan kekuasaan penguasa untuk menjalankan fungsi-fungsi di luar hukum formal, seperti pada masa Orde Baru yang diduplikasi oleh rezim reformasi saat ini.
Lemahnya penegakan hukum dan kompromi politik menjadi peternakan masal dan ruang hidup kekebalan premanisme, dan kita temukan mereka menjadi bagian dari struktur kekuasaan lokal dan nasional.
Dari analisa inilah bisa kita simpulkan bahwa kedua kekerasan yang menimpa Mikson Yapanto dan Rion Kaluku sebuah potret Premanisme di Gorontalo, menjadi fenomena kompleks yang berakar pada relasi kekuasaan informal, bukan sekadar kejahatan jalanan. Ia adalah bagian dari jaringan sosial-politik di mana kekuasaan, ekonomi, dan ketimpangan bersatu, memanfaatkan celah sistem untuk bertahan dan beroperasi di berbagai lapisan masyarakat, dari bawah hingga pemerintahan.
Dari struktur pemikiran diatas apakah kekerasan pada kader partai Nasdem sebagai sebuah peristiwa kebetulan atau ada kompetisi politik diantara elite politik lama dengan elite politik baru yang menjadi bintangnya saat ini “Bapak Rachmat Gobel”, tentu semua kesimpulan adalah menjadi otoritas yang membaca tulisan ini.
Bagi saya dalam perspektif demokrasi bahwa kerusakan ini sebagai akibat dari sistem politik dimana kedaulatan rakyat telah dibegal oleh para elite kekuasaan yang ditopang dengan premanisme. Dan praktek seperti ini terjadi di semua wilayah tanah air.
Kini saatnya kita merumuskan kembali sistem politik kita menegakan hukum tanpa tebang pilih karena dibawah pengawasan langsung rakyat yang berdaulat.
Dan bagi warga Gorontalo bahwa ini menjadi tugas dan komitmen bersama semua stake holder jika ini menghadirkan sebuab kota yang berani menyematkan dirinya sebagai “Kota Serambi Madina” penuh kedamaian dan bukan hanya slogan kosong yang tidak bermakna. dan akan diplesetkan menjadi kota serambi cowboy.(*)
Agung Mozin
Jakarta 10 Desember 2025





















