
NEWSNESIA.ID– Kemendikbudristek melalui Pusat Pengembangan Karakter (Puspeka) Ikut Serta Merayakan Hari Perempuan Internasional dengan menggelar webinar Hari Perempuan Nasional.
Webinar tersebut diselenggarakan dengan cara gabungan dan disiarkan secara live melalui kanal Youtube Kemendikbud R. serta diikuti lebih dari 1.000 peserta terdiri dari guru, pelajar, dosen, mahasiswa, orang tua, dan masyarakat umum yang tergabung secara daring.
Webinar tersebut mengangkat tema tentang Meningkatkan Peran Wanita dan Anak Perempuan pada Bidang Teknologi dan Informasi untuk Perlindungan dan Promosi Kesetaraan Gender (Enhancing Roles of Women and Girls in ICT for the Protection and Promotion of Gender Equality).
Hal itu sejalan dengan tema dari United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women yaitu DigitALL: Innovation and Technology for Gender Equality atau Inovasi dan Teknologi untuk Kesetaraan Gender.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim, dalam sambutannya mengungkapkan sebagai laki-laki yang dibesarkan oleh perempuan hebat, ia yakin semua orang memiliki hak memperoleh pendidikan yang setara.
Tidak ada lagi mitos yang menganggap perempuan cukup sekolah sampai jenjang tertentu saja, atau perempuan cukup mempelajari bidang-bidang tertentu saja.
“Saya selalu percaya kalau kita memberikan keleluasaan yang sebesar-besarnya bagi semua untuk belajar dan berkarya, Indonesia akan mampu melompat jauh ke masa depan,” ujar Mendikbudristek dalam Webinar di Jakarta, Kamis (16/3).
Hari Perempuan Internasional 2023 menjadi momentum yang tepat untuk mendukung perempuan dalam belajar, berkarya, dan berprestasi. Setiap perempuan berhak mengembangkan potensi dan berkarya sesuai dengan minat dan bidangnya masing-masing, serta merdeka untuk mengejar mimpi dan cita-citanya.
“Saya mengucapkan selamat Hari Perempuan Internasional untuk semua perempuan tangguh dan hebat di seluruh Indonesia. Mari kita terus bergerak serentak mewujudkan kesetaraan di dunia pendidikan dengan semangat Merdeka Belajar,” tutur Mendikbudristek.
Seiring dengan itu, Franka Makarim, Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan (DWP) sekaligus Ketua Bidang 1 OASE KIM yang menaungi Pengasuhan Anak dan Pendidikan Karakter, menyatakan saat ini perempuan telah mendapatkan kemerdekaan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
“Hari Perempuan Internasional adalah pengingat bagi sebagian perempuan yang sudah merdeka, bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk memerdekakan perempuan yang lain. Semua perempuan dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat saat ini,” ujar Franka.
Lebih lanjut lagi, ada dua tantangan besar yang solusinya harus diperjuangkan bersama.
Pertama, berkaitan dengan kesenjangan kesempatan bagi perempuan dalam menempuh pendidikan dan karir di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kedua, yakni terkait dengan kenyamanan dan keselamatan perempuan di ranah digital.
“Sampai hari ini perempuan masih lebih rentan menghadapi kekerasan dan pelecehan di media sosial. Kita punya tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi semua orang, khususnya bagi anak dan perempuan,” imbuh Franka.
Akhir pidato, Franka mengajak semua perempuan untuk memanfaatkan Hari Perempuan Internasional sebagai kesempatan untuk memperkuat komitmen mereka dalam membebaskan perempuan di era yang terus berubah dan berkembang teknologi digital.
Franka mengakhiri pidatonya dengan pesan ini.
”Setiap perempuan di seluruh dunia, terlepas dari latar belakangnya, berhak untuk mengembangkan potensi dan menggapai cita-citanya,” ucap Franka Makarim.
Rusprita Putri Utami selaku Kepala Pupeka Kemendikbudristek, menyatakan dukungannya terhadap kesetaraan hak bagi perempuan
“Peringatan Hari Perempuan Internasional merupakan momentum pengingat bagi kita semua untuk mendukung persamaan hak bagi perempuan, terutama dalam mendapatkan informasi dan layanan pendidikan serta berkontribusi pada teknologi digital,” ujar Rusprita.
Hingga saat ini, Puspeka masih aktif dalam upaya menciptakan kesetaraan, terutama di bidang pendidikan, dengan cara memproduksi dan menyebarkan konten mengenai kesetaraan dan akses perempuan dan anak-anak pada teknologi.(rls/FR)





















