
Oleh: Aris Setiawan/Ketua HMI Cabang Gorontalo
Kisah kebangkitan suatu daerah memang menjadi suatu hal yang istimewa. Keistimewaan itu semacam catatan pendek yang merangkum bagian heroisme yang bernas dan terawat, atau mungkin saja sengaja ‘dirawat’ dari generasi ke generasi dalam setiap era. Dijadikan sebagai referensi primordial tiap-tiap daerah dan sekaligus spionase untuk melihat ke masa depan.
Sebuah kota atau daerah mungkin saja memiliki catatan historis dan heroisme yang berbeda, tapi mereka punya satu ‘kesamaan’ dalam pengertian untuk merayakannya dengan penuh ekspresi dan selebrasi.
Semacam opium yang membuat candu pada satu momentum yang disebut milad, hari lahir atau apapun namanya.
Tampilan mirip parade ini tentu merupakan hal yang galib, di kota mana pun, tiap-tiap momentum seperti ini — akan disambut dengan umbul-umbul, atribusi dan ikon kedaerahan sebagai safari identitas, hingga kerumunan orang-orang yang berdecak kagum merasakan suka cita dari masa ratusan tahun silam.
Kesamaan itu tentu juga adalah bagian dari Gorontalo sebagai sebuah kota yang memiliki identitas, untuk menyambut hari yang istimewa. Gorontalo, dalam angka 295, bak melejit seperti astronot yang menancapkan benderanya di bulan. Namun justru semakin jauh dan semakin asing.
Memang, tak dapat dipungkiri sejarah berkata demikian. Tapi kini, semua itu tak lebih dari roman masa lalu yang perlahan membuat kita menjadi jauh dan asing di tanah kita sendiri, dan menutup mata atas banyak ketimpangan yang terjadi.
Dalam kurun beberapa tahun terakhir, kota berjuluk Serambi Madinah ini kerap menjadi sorotan. Karena salah satunya, pemerintahan kota dalam skema infrastrukturnya tidak berjalan maksimal, dan justru menjadi momok yang terus membuat resah masyarakat kota Gorontalo perihal lingkungan dan pembangunannya. ya benar, kota gorontalo, kota yang baru saja mendapatkan penghargaan Adipura yang kesekian kalinya (baca; penghargaan adipura)
Kepemimpinan Wali Kota Gorontalo, Marten Taha yang pada akhir masa baktinya, justru terus digerogoti oleh berbagai persoalan proyek infrastruktur yang mangkrak alias jalan di tempat. Wali Kota yang menerima penghargaan sebagai Kepala Daerah Terbaik Pedagogika Award 2021 ini, tidak dapat menjelaskan argumen yang spesifik kepada rakyatnya secara terbuka apa sebenarnya kendala yang dihadapi dan kapan pembangunan itu akan selesai., seperti ketika didapuk untuk menerima penghargaan Pedagogika Award 2021, sambil tersenyum lebar.
Utamanya adalah proyek pembangunan yang menggunakan dana pinjaman PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) yang diduga hampir semua bermasalah dan telah PK (putus kontrak) diantaranya mengenai kasus mangkraknya dua mega proyek, yakni proyek peningkatan mutu Jalan Nani Wartabone, dan proyek revitalisasi Kota Tua Gorontalo. Ke dua mega proyek yang berada di tengah kota tersebut bersumber dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai puluhan miliaran rupiah.
Karena, diketahui jika ke dua mega proyek tersebut harusnya selesai pada akhir tahun 2022 sesuai dengan MOU. Namun sampai awal tahun 2023, kedua mega dua proyek tersebut belum juga selesai.
Dan dengan gelontoran dana yang sebesar itu, sementara proyek masih mangkrak, tentu tidak menutup opini dan asumsi publik tentang penyimpangan, penyalahgunaan, bahkan di duga ada KKN dan semacamnya.
PEN, Perusak Ekonomi Nasional, kira kira begitu anggapan orang kebanyakan. program yang sebenarnya di targetkan untuk pemulihan ekonomi masyarakat tapi justru merusak ekonomi, bagaimana tidak, imbas dari proses pembangunan tersebut membuat para pelaku usaha kecil dan UMKM di seputar kawasan pekerjaan mengalami kemerosotan dalam pendapatannya ,tak heran ada yang sampai menutup usahanya karena tidak ada pembeli,dan juga ada yang beralih profesi untuk memenuhi kebutuhannya.
belum lagi dampak terhadap kesehatan masyarakat yang dikhawatirkan akan terkena penyakit, karena ada kubangan air di sepanjang jalan yang penuh dengan sampah dan kotoran. kalau memang pembangunan tersebut untuk jangka panjang, maka harus juga memperhatikan dampak dari proses pembangunan tersebut, diantaranya memberikan jaminan ekonomi dan kesehatan.
Ragam aksi demonstrasi dan kritikan telah dilakukan dan dipublikasikan lewat media massa. Dalam hal ini juga, dinas terkait, yakni kepala dinas PU Kota Gorontalo, Rifadli Bahsuan, memiliki peran vital dan dianggap lalai dalam mengemban tugasnya.
Mangkraknya infrastruktur di Kota Gorontalo tengah menjadi konsumsi dan keresahan kolektif publik. Bahkan sebuah kritikan bernada satire datang dari warganet Gorontalo yang hendak mempertanyakan kejelasan kerja-kerja pemerintah: “Mo tunggu berapa periode ini got baru selesai atii/ akan menunggu berapa periode lagi agar got ini selesai.”
Satire ini merujuk pada situasi kota saat ini dan kondisi masyarakat — terlepas dari asumsi dana PEN sejumlah miliaran rupiah — sebab dalam proyek revitalisasi jalan Nani Wartabone eks, Jl. Panjaitan, “terdapat puluhan meter galian selokan atau got yang meresahkan masyarakat”.
Alotnya proyek ini tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat umum atau kenyamanan dan aktivitas berkendara. Seperti peristiwa beberapa hari lalu, ketika sebuah mobil (plat merah) jatuh dan terperosok ke dalam galian selokan tersebut, yang berlokasi dekat SPBU bundaran Saronde.
Melainkan juga berdampak bagi para pelaku UMKM di sepanjang jalan. Revitalisasi jalan yang mengharuskan penggalian selokan itu, secara tidak langsung berdampak kurang baik bagi perekonomian masyarakat di sekitar area.
Apa lagi dalam hitungan hari ke depan, kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, artinya aktivitas berkendara otomatis meningkat drastis dan para pelaku UMKM yang biasanya mendapatkan penghasilan ekstra di sepanjang jalan tersebut selama puluhan tahun, harus mencari solusi lain. Dan tentu saja pemerintah tidak memiliki waktu yang cukup luang untuk memikirkan hal semacam ini.
*
Dengan itu, momentum istimewa tentu saja bukan hanya tentang heroisme dan presentasi bilangan angka yang menyentuh ratusan tahun, apa lagi euforia. Bukan juga tentang lusinan lencana penghargaan dari kepala daerah atau prestasi lainnya.
Tafsir tentang kebangkitan, mestinya dilihat sebagai sebuah pesan revolusi dan keseimbangan. Supaya ia, Gorontalo menjadi “nyata” dan bukan sekadar “fantasi” dari heroisme masa lampau.
Dan lebih daripada itu, dari dalam diri kita pastilah memendam percakapan tentang “kita” dan Gorontalo sebagai sebuah “tempat” yang membentuk pikiran kita tentang dunia yang luas ini, seyogianya selalu dan patut untuk dipertanyakan.
Apakah Gorontalo bagi kita?
Lantas siapakah orang Gorontalo itu?
Saya pikir tiap-tiap kita yang memijakkan kakinya di bumi Hulondhalo ini, memiliki jawabannya masing-masing. Barangkali masih tertutup oleh topeng hipokrit atau tersembunyi dalam ‘cangkang’ kepentingan-kepentingan yang, tanpa sadar membuat kita “semakin jauh dan asing” terhadap Gorontalo.(*)





















