
NEWSNESIA.ID, GORONTALO – Tumbilotohe merupakan tradisi pasang lampu yang menandakan akan berakhirnya bulan suci Ramadan yakni pada 3 malam terakhir bulan suci Ramadan.
Tradisi ini sangat melekat pada masyarakat Provinsi Gorontalo. Setiap daerah yang ada di Gorontalo memiliki beragam cara maupun kreatifitas dalam menyambut Tumbilotohe.
Salah satunya masyarakat Desa Tanah Putih, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango. Dlam menyambut malam Tumbilotohe masyarakat setempat bekerja sama membangun sebuah kapal besar yang dihiasi dengan gemerlap lampu hias, Rabu (12/04/2023)
Menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Botupingge yang memberikan kreasi tersendiri dalam menyambut malam Tumbilotohe menjadikan kapal buatan masyarakat Desa Tanah putih menjadi daya tarik sendiri bagi pengguna jalan melihat bentuk dan gemerlap lampu hias yang begitu indah.
Pemilihan konsep kapal merupakan inovasi baru dan bentuk kreatifitas masyarakat setempat mengingat sudah hampir tiga tahun terakhir semenjak Covid-19 melanda tidak ada lagi penyambutan malam Tumbilotohe yang meriah dengan adanya kreasi menggunakan lampu hias maupun lampu botol.
“Konsep kapal ini adalah salah satu inovasi baru kami setelah tiga tahun terakhir kami tidak ada penyambutan malam Tumbilotohe yang meriah seperti tahun ini. Dimana kami membuat kapal yg dihiasi lampu hias, hal ini disebabkan Covid-19 makanya tiga tahun kemarin tidak ada yg seperti ini” ungkap Robin Potale selaku ketua panitia.
Alasan lain pemilihan konsep kapal yakni, terinspirasi dengan kapal Nabi Nuh, agar supaya masyarakat dapat kembali mengingat kisah dari Nabi Nuh itu sendiri.
“Selain inovasi baru konsep kapal ini juga terinspirasi dari kapal Nabi Nuh. Jadi masyarakat bisa mengingat kembali kisah Nabi Nuh” ungkapnya
Dalam pembangunannya memakan anggaran kisaran 5 sampai 6 juta. Dana pembangunan sendiri diperoleh dari masyarakat dan 2 donatur. Mengingat tidak seluruh masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengadaan dana. Selain itu pembangunan kapal dengan lampu hias ini, bukan termasuk dalam program desa maupun karang taruna dan murni kesepakatan masyarakat sehingga dana yang diperoleh bukan dari pemerintah desa.
“Anggarannya kisaran 5 sampai dengan 6 juta dananya kami peroleh dari masyarakat dan 2 donatur, karena tidak semua masyarakat bisa ikut memberikan dana. Selain itu, ini kan bukan program pemerintah desa maupun karang taruna. Jadi semua dana masyarakatlah yang mengusahakannya” tuturnya lagi.
Sejauh ini terpantau pembangunan kapal dengan lampu hias tersebut masih dalam proses perampungan.
“Pembangunan kapal dengan lampu hias ini, kurang lebih sudah 85 persen, masih ada bagian-bagian yang akan dipasangkan. Lampu perkiraan dalam beberapa hari sebelum malam Tumbilotohe pembangunan kapal dengan lampu hias ini akan rampung” tuturnya.
Selanjutnya, Robin berharap kapal dengan lampu hias ini, dapat semeriah tahun-tahun sebelumnya. Dia juga berharap kedepannya masyarakat akan lebih meningkatkan kerja samanya, baik dari segi pengadaan dana maupun kontribusi tenaga dalam penyelenggaraan penyambutan malam Tumbilotohe.
“Harapan saya kapal dengan lampu hias ini bisa ramai dan semeriah tahun sebelumnya, dan juga saya berharap agar nantinya masyarakat lebih ditingkatkan lagi kerja samanya, baik dalam segi pengadaan dana maupun tenaga” ujarnya.
Robin juga menghimbau, bagi karang taruna maupun anak muda yang ada di Desa Tanah Putih untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan seperti ini.
“Saya juga menghimbau untuk karang taruna atau pun anak muda, untuk kegiatan mendatang mari bersama-sama ikut berkontribusi. Mengingat saat ini yang lebih banyak berkontribusi adalah orang-orang yang sudah tua semua” tutupnya. (Meis)




















