
newsnesia.id – Jika benar PT Gorontalo Minerals (PT GM) memegang cadangan emas bernilai ratusan triliun rupiah di tanah Suwawa, maka satu pertanyaan yang wajar muncul: mengapa rakyat tidak diberi ruang sedikit saja untuk bertahan hidup?
Cadangan emas di kawasan Bonebolango, berdasarkan proyeksi sumber daya dan rencana produksi perusahaan, diyakini sangat besar. Proyeksi dari induk perusahaannya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), menyebutkan bahwa potensi produksi tahunan bisa mencapai lebih dari 100.000 ons emas per tahun, dengan nilai triliunan rupiah.
Jika ditotal, cadangan emas di kawasan itu bahkan cukup untuk membiayai gaya hidup mewah pemilik modal hingga tujuh turunan, bahkan lebih.
Lalu, mengapa rakyat tidak boleh mengambil secuil saja? Rakyat Tidak Serakah, Mereka Hanya Ingin Bertahan Hidup.
Rakyat di Suwawa bukan menolak tambang. Mereka hanya ingin diberi ruang untuk tetap menambang secara tradisional di tanah yang selama ini mereka garap. Tanah yang mereka jaga. Tanah yang mereka percaya, diwariskan dari leluhur dan dititipkan untuk anak cucu mereka.
“Kami tidak ingin semuanya. Kami cuma mau sebagian kecil. Biar kami bisa makan, biar anak kami bisa sekolah, biar kami tidak perlu selamanya kerja kasar dan bertaruh nyawa seperti ini,” ungkapan salah seorang penambang dari Suwawa Timur.
Jika PT GM mengambil alih seluruh wilayah dan mengusir rakyat, yang kehilangan nafkah bukan hanya si penggali emas, ada ekosistem ekonomi kecil yang hidup di sekeliling tambang rakyat:
Tukang ojek yang setiap hari mengantar penambang ke lokasi.
“Kijang”, atau kuli panggul, yang memanggul karung-karung material dari gunung ke bawah.
Penjual makanan, pemilik warung, penyedia alat tambang sederhana, tukang servis mesin, hingga penjahit celana tambang.
Mereka semua bukan bagian dari PT GM. Tapi mereka semua menggantungkan hidup dari aktivitas tambang rakyat.
Jika tambang rakyat dimatikan, bukan hanya dapur mereka yang padam, mimpi masa depan anak-anak mereka pun ikut padam.
Berbagilah Lahan, Jangan Kuasai Semua.
Rakyat tidak minta hak istimewa. Mereka hanya ingin satu hal: akses yang adil.
Jika PT GM benar memiliki konsesi ribuan hektar, mengapa tidak disisakan sebagian kecil untuk dijadikan wilayah rakyat?
Bukankah lebih bijak jika tanah yang sama bisa menghidupi dua sisi: industri besar dan rakyat kecil?
“GM boleh saja menambang pakai teknologi tinggi. Tapi jangan semua diambil. Bagi sedikit. Biar rakyat juga bisa hidup,” kata ….. tokoh masyarakat Suwawa Tengah.
Rakyat Juga Punya Hak Atas Masa Depan.
Kita semua tahu, emas tidak bisa dimakan. Tapi emas bisa menghidupi.
Dan saat emas itu hanya memperkaya segelintir orang, sementara ribuan rakyat terpaksa kelaparan di tanah sendiri, maka itu bukan lagi tambang, itu penjarahan.
Rakyat Gorontalo tidak minta banyak. Mereka hanya minta tanah yang selama ini mereka garap, tetap bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup dengan cara sederhana mereka.
Jangan rampas mimpi rakyat kecil. Jangan matikan nafkah rakyat dengan kerakusan.
Seolah dapat mendengar rintihan rakyat lewat pertanyaan sedeharna salah seorang jurnalis, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia pun turut menegaskan bahwa rakyat juga berhak atas tanah mereka.
“Saya pantau terus, WPR itu hak rakyat perusahaan tidak boleh serakah dalam hal ini, untuk berbagai persoalan tambang di Gorontalo saat ini saya intens berkomunikasi dengan Dirjen Minerba dan tentu saja Pak Gub akan segera kami panggil untuk menggelar pertemuan membahas hal ini,” ujar Bahlil disela pelaksanaan Musda VI Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Senin 28 Juli 2025.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh sumber daya alam khususnya tambang dan minyak yang ada didaerah dapat dikelola langsung oleh daerah.
“Karena daerah harus bisa jadi tuan di daerahnya sendiri, jangan cuman masalah saja yang diberikan ke daerah,” tegasnya.(nn)






















