
newsnesia.id – Jagad maya Jum’at pagi 24 Oktober 2025 mendadak heboh dengan sebuah surat terbuka dari insan sepakbola kepada Gubernur Gorontalo.
Isi surat yang memebahasakan kekecewaan karena Tim sepakbola Gorontalo gagal berangkat ke Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2025 Jakarta tersebut diposting akun Facebook @fadli luneto.
Sosok yang diketahui juga sebagai anggota Asprov PSSI Gorontalo atau pengurus sepakbola di tingkat provinsi tersebut menulis surat mewakili kekecewaan atlet, pelatih, orang tua dan pengurus karena cabang olahraga sepakbola tidak dapat berlaga di POPNAS tahun ini. Padahal pada tahun sebelumnya tim ini berjuang cukup keras untuk meraih tiket lolos ke multi event olahraga pelajar nasional tersebut.
Berikut surat terbuka yang di-posting di media sosial yang juga menyertakan foto skuad tim sepakbola pelajar Gorontalo.
SURAT TERBUKA UNTUK GUBERNUR GORONTALO
Kepada Yth.
Bapak Gubernur Gorontalo
di Tempat
Dengan segala hormat dan rasa haru yang sulit dibendung,
Kami menulis surat ini bukan dengan tinta kebencian, melainkan dengan air mata kekecewaan — air mata anak-anak Gorontalo yang telah berjuang demi membawa nama daerahnya ke tingkat nasional, tapi akhirnya harus menunduk lesu karena satu alasan sederhana: tidak ada anggaran.
Bapak Gubernur,
Tahukah Bapak… betapa lamanya anak-anak ini berlatih?
Di bawah panas matahari, di lapangan berdebu, mereka berlari, jatuh, dan bangkit lagi.
Mereka tidak menuntut fasilitas mewah, tidak meminta perhatian istimewa — hanya ingin satu hal: kesempatan untuk mengibarkan bendera Gorontalo di ajang nasional POPNAS.
Tapi semua itu kini hanya tinggal cerita.
Mimpi yang mereka rawat dengan susah payah, pupus bukan karena kalah bertanding… tapi karena tak ada biaya untuk berangkat.
Apa yang lebih menyakitkan dari perjuangan yang gugur bukan karena kemampuan, tapi karena ketidakpedulian?
Bapak Gubernur yang kami hormati,
Cobalah sesaat membayangkan wajah anak-anak itu.
Wajah yang beberapa hari lalu penuh semangat dan keyakinan, kini tertunduk lesu.
Mereka tidak tahu harus menyalahkan siapa. Mereka hanya diam, menahan tangis, dan bertanya dalam hati kecil mereka:
“Apakah perjuangan kami tidak cukup berarti untuk Gorontalo?”
Betapa perihnya hati kami — para pelatih, orang tua, dan masyarakat yang menyaksikan sendiri kerja keras mereka. Kami tidak menuntut kemewahan, kami hanya ingin pemerintah hadir saat anak-anak daerah ini berjuang mengharumkan nama Gorontalo.
Kami tahu, Bapak memimpin daerah dengan berbagai keterbatasan. Tapi kami juga percaya, kepedulian tidak selalu butuh anggaran besar — cukup niat, cukup hati.
Karena anak-anak ini bukan sekadar atlet.
Mereka adalah kebanggaan daerah, mereka adalah masa depan Gorontalo.
Bapak Gubernur,
Kami tidak ingin menyalahkan. Kami hanya ingin didengar.
Jangan biarkan semangat mereka mati sia-sia hanya karena tidak ada perhatian.
Jangan biarkan generasi muda kehilangan percaya diri, merasa bahwa perjuangan mereka tidak pernah berarti di mata pemimpinnya sendiri.
Biarlah surat ini menjadi suara kecil dari hati yang patah.
Karena di balik setiap air mata yang jatuh, tersimpan cinta besar untuk Gorontalo — dan harapan bahwa suatu hari nanti, pemerintah akan benar-benar hadir, bukan hanya untuk memberi selamat saat menang, tapi juga menopang saat mereka hampir tumbang.
Dengan penuh harap,
kami menundukkan kepala,
memohon agar kejadian ini menjadi renungan bagi semua pihak.
Agar tak ada lagi anak Gorontalo yang harus menangis karena mimpi mereka kandas di tangan ketidakpedulian.
Hormat dan harapan kami,
Masyarakat, Pelatih, dan Orang Tua Atlet POPNAS Gorontalo Yang masih percaya, bahwa suatu hari…
Gorontalo akan benar-benar berdiri untuk anak-anaknya sendiri.
Puncak Botu angkat bicara terkait surat terbuka itu. Pemprov Gorontalo melalui Juru Bicara Pemerintah Provinsi Gorontalo Dr. Alvian Mato,M.Pd, melalui siaran pers menjelaskan penyebab tim sepak bola pelajar tidak berangkat di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) XVII Tahun 2025.
Alvian menguraikan, berdasarkan hasil pembahasan Perubahan APBD Provinsi Gorontalo Tahun Anggaran 2025, alokasi untuk kegiatan POPNAS XVII tidak dapat terpenuhi sesuai dengan usulan awal dari Dinas Pemuda dan Olahraga. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah tahun 2025, sehingga Dinas harus mengambil langkah strategis agar Provinsi Gorontalo tetap dapat berpartisipasi dalam ajang nasional tersebut.
Dengan memperhatikan keterbatasan anggaran dan prinsip efisiensi, Dispora Provinsi Gorontalo menetapkan prioritas partisipasi pada cabang olahraga dengan kriteria sebagai berikut:
a. Cabang olahraga binaan Pemerintah Provinsi melalui SPOBDA, sesuai amanat Peraturan Gubernur tentang Desain Olahraga Daerah (DOD);
c. Cabang olahraga perorangan yang lebih efisien dalam pembiayaan.
d. Cabang Olahraga yang tidak memerlukan pembiayan untuk TC baik TC Dalam dan TC Luar.
3. Berdasarkan kriteria tersebut, Provinsi Gorontalo akan mengirimkan 7 (tujuh) cabang olahraga, yaitu:
1. Atletik
2. Pencak Silat
3. Taekwondo
4. Karate
5. Sepak Takraw (6 atlet putra)
6. Tinju
7. Renang
Sementara itu, untuk Cabang Olahraga Sepak Bola, Bulu Tangkis, dan Tenis Meja, telah didaftarkan secara resmi dengan harapan dapat memperoleh dukungan pembiayaan dari sumber dana lain, sebagaimana juga ditempuh oleh beberapa pemerintah provinsi lainnya.
“Selain itu, Pemerintah Provinsi se Indonesia bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah mengupayakan agar biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi selama kegiatan ditanggung bersama antara Kemenpora dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selaku tuan rumah penyelenggara,” beber Alvian.
“Kami memahami sepenuhnya semangat dan dedikasi para pelatih serta atlet yang telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Dinas Pemuda dan Olahraga terus berupaya mencari alternatif dukungan agar seluruh atlet pelajar Gorontalo tetap dapat menunjukkan prestasinya di ajang nasional,” pungkasnya.(Ns)



















