Newsnesia.id
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
Newsnesia.id
No Result
View All Result
Home Opini

Sherly Sang Predator?

by NN Indonesia
23 Juni 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read

Penulis: Siswan Ahudulu

Saya tak habis pikir. Tiba-tiba saja sejak kemarin, Gorontalo sedang tidak baik-baik saja. Atau lebih tepatnya, algoritma media sosial di bumi Serambi Madinah kayaknya sedang “rusak” parah. Dan itu terjadi tepat saat perhelatan nasional masih berlangsung.

Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) yang dipusatkan di Limboto, Kabupaten Gorontalo, tentu mengundang perhatian banyak orang. Ribuan tamu datang. Diliput banyak media lokal, nasional, maupun internasional.

Ini wajar, karena selain tujuan utamanya sebagai wadah pertemuan strategis bagi petani, nelayan, dan pelaku agribisnis dari seluruh Indonesia, ada Wapres Gibran yang kemarin mampir membuka acara, dan nanti akan datang juga Presiden Prabowo yang dijadwalkan menutup acara.

Kita tahu, pastinya untuk semua itu protokol negara sudah disiapkan. Pagar betis keamanan sudah dipasang, dan rilis pers resmi sudah disebar ke seluruh media arus utama. Semua sudah diatur untuk terpublikasi secara masif, terstruktur, dan sistematis.

Tapi tahukah kita, setingan ini agaknya harus runtuh.

Di tengah hiruk-pikuk pentas nasional dan aktivitas pejabat tinggi negara itu, sesuatu terjadi di luar skenario. Dan boleh dikata, tanpa setingan sama sekali. Yah, dalam dua hari terakhir publik justru seperti telah melakukan pemberontakan senyap. Mereka scroll melewati berita kenegaraan, mengskip agenda seremoni Penas, mengabaikan berita kucing Penas Pentadio, serta uniknya videotron 360 derajat.

Mereka berhenti pada satu nama: “Sherly”.

Nama ini sukses menyandera timeline dan membajak atensi rakyat Gorontalo, atau bahkan boleh jadi perhatian nasional.

Dua Sherly, Satu Paradoks

Bagi orang Gorontalo, ketika menyebut Sherly, pasti sudah tidak asing lagi. Sejak pertama kali viral dan secara resmi dijadikan pusat pariwisata daerah pada Maret 2016, Sherly sebenarnya sudah mendiami perairan tersebut sejak puluhan tahun lalu di sekitar Botubarani, Kabupaten Bone Bolango. Pemerintah daerah baru secara resmi mempromosikannya sebagai salah satu ikon destinasi unggulan berskala internasional.

Sejak saat itu, Sherly menjadi selebriti lokal yang tak pernah absen dari daftar kunjungan. Artis ibu kota, dai kondang, hingga pejabat tinggi, rasanya “belum sah” ke Gorontalo kalau belum ketemu dan berfoto dengannya. Saking terkenalnya, Sherly diabadikan sebagai sebagai ikon dan logo resmi Penas KTNA tahun ini.

Betul, Sherly ini adalah seekor Hiu Paus (Rhincodon typus) betina, yang dengan anggun berenang di perairan bebas Pantai Botubarani. Ia telah mengundang banyak perhatian dunia dengan tubuh raksasa, bintik-bintik putih di sekujur tubuh yang mengagumkan, serta mulut besarnya yang ompong.

Trus, hewan inikah yang sekarang menyandera timeline dan membajak atensi rakyat Gorontalo, bahkan menenggelamkan publikasi Wapres dan Presiden?

Bukan. Saat ini bukan si Sherly Hiu Paus penyebabnya, tapi Sherly yang satunya lagi. Sherly dari Maluku Utara.

Namanya dikenal familiar sebagai Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara. Sebelumnya, di banyak media sosial dan media daring, sepak terjang cerita tentang Sherly ini pun banyak menjadi perhatian. Sejak kemunculannya di panggung politik sebagai calon kepala daerah pengganti, menang, sampai pada kinerjanya sebagai gubernur sekarang, selalu saja tak luput dari sorotan kamera dan sukses viral.

Wajahnya yang selalu tertawa, gayanya yang luwes, dan interaksinya yang tanpa sekat dengan warga membuat nama Sherly Tjoanda trending. Seakan dalam setiap aktivitasnya, ia datang membawa mandat politik, tapi pulang membawa hati rakyat. Dan kali ini, informasi kedatangannya ke Gorontalo pun memicu badai viral yang memporak-porandakan berita viral lainnya.

Sherly Sang Predator?

Saya mengamati pola ini dengan saksama, dan pada titik ini, sebuah gugatan sederhana muncul: Mengapa rakyat lebih terkesima pada Sherly, daripada panggung yang sudah diatur sedemikian rupa dan dipublikasikan secara masif?

Kalau sedikit melihat ke belakang, kita tahu, sudah puluhan tahun kita diajarkan bahwa pemimpin itu harus garang, harus menakutkan, harus “menggigit” lawan politiknya, dan bahkan tak jarang “memakan” hak rakyatnya. Kita melihat kekuasaan sebagai peluang untuk menikmati segala sumber daya, bahkan sampai harus merampas hak-hak rakyat. Kekuasaan identik dengan predator.

Tapi, Sherly Tjoanda memperlihatkan sebaliknya. Setidaknya, seperti itulah yang terlihat dan viral. Ia menolak menjadi predator yang memangsa rakyatnya. Ia memimpin dengan soft-power, merangkul tanpa memukul, mengayomi tanpa mengintimidasi, dan terlihat alami saat bersama rakyat yang memang harus dilayani. Ramah, terbuka, menghargai pendapat, dengan senyum manis yang menjadi khas, tapi tetap tegas dalam kebijakan.

Menariknya, coba alihkan bayangan Anda pada Sherly si Hiu Paus. Secara biologis, ia adalah ikan terbesar di lautan, raksasa sepanjang belasan meter. Mulutnya yang besar, sanggup menelan manusia secara utuh. Ia juga sanggup menjungkirbalikkan apa saja di dekatnya dengan mudah. Secara naluriah, manusia seharusnya lari ketakutan mendekatinya.

Tapi orang tahu, meskipun besar badan dan mulutnya, Sherly si Hiu Paus tidak ganas dan tidak minat memangsa manusia. Ia berenang tenang, membiarkan siapapun membelai punggungnya, menikmati pesonanya, dan dengan sabar menerima umpan kecil dari tangan nelayan.

Di sinilah letak paradoks sekaligus kejeniusan alam semesta.

Kedua Sherly dari takhta yang berbeda ini, secara tidak langsung, telah menjelma menjadi “Sherly sang Predator”. Tapi tunggu dulu, mereka bukan predator yang memakan rakyat. Mereka adalah predator puncak yang membunuh dan melahap habis cara berkuasa para predator sungguhan di negeri ini. Mereka memangsa ego, arogansi, dan keserakahan para penguasa yang selama ini banyak dipertontonkan..

Dari duo Sherly ini, saya bisa belajar bahwa kita hari ini tidak butuh pemimpin ganas. Pemimpin yang sudah tahu punya kekuasaan besar, sumber daya tak terbatas, anak buah yang tinggal main jari langsung berkata “siap boss”, tapi tidak benar-benar digunakan untuk melayani rakyat.

Kita rindu sosok yang “berbadan besar” dan berkuasa, tapi memiliki kelembutan yang membuat rakyat kecil berani bersamanya tanpa rasa takut dan cemas. Yah, karena rakyat sudah muak dengan “politik yang bertaring”.

Panggilan dari Dasar Samudra

Kita tahu Gubernur Sherly Tjoanda yang direncanakan datang ke Gorontalo bukan cuma tamu, dan Gorontalo adalah tuan rumah. Tapi ada yang lebih menarik, dan mungkin inilah yang disebut “sandiwara alam semesta”.

Sherly Tjoanda bisa jadi tidak datang ke Gorontalo sekadar untuk bekerja, tapi sedang “dipanggil” oleh mentor spiritualnya.
Ada benang merah tak kasat mata yang menghubungkan Gubernur Maluku Utara dengan Hiu Paus Botubarani. Keduanya adalah “Raksasa yang Lembut” (The Gentle Giant). Keduanya memiliki kekuatan besar, tapi memilih menggunakan kekuatannya untuk mengayomi, bukan menakuti.

Hubungan, atau bahkan pertemuan duo Sherly ini, seakan menjadi manifestasi alam dari gaya kepemimpinan yang seharusnya dipraktikkan, bukan yang selama ini keliru dilakukan oleh para penguasa di negeri dongeng kita ini. Alam sedang memberi penghargaan, dengan cara mempertemukan dua entitas yang memiliki “jiwa” yang sama.

Olehnya, jika pun Sherly Tjoanda jadi menyempatkan waktu, izinkan saya menyampaikan sebuah pesan, sekaligus tantangan humanis, khusus untuk Ibu Gubernur.

Bu Sherly, agenda Ibu di Gorontalo memang padat. Tapi ada satu “janji temu” yang sayangnya belum terwujud.

Di ujung Bone Bolango, di perairan jernih Botubarani, ada Sherly lain yang sedang menunggu. Lepaskan sejenak jas formal Ibu. Lepaskan beban birokrasi dan rantai keprotokolan. Datanglah ke sana. Selamlah perairan itu, dan rasakan pesona alaminya.

Ibu akan menyadari satu hal: Ibu tidak sendirian. Ada raksasa lain di negeri ini yang memilih jalan kelembutan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa keras kita menggigit untuk mempertahankan kekuasaan. Sejarah hanya akan mencatat seberapa luas samudra hati yang kita miliki, untuk membiarkan rakyat berenang damai di samping kita.

Dan Jika itu terjadi. Ibu tidak akan pernah melupakan Gorontalo.
Wallahu’alam

Tags: Gubernur Maluku UtaraGubernur SherlySherly DjoandaSherly Hiu Paus
ShareSendTweetShare

Berita Terkait

Aiman Syakil
Ekonomi

Membuka Akses Pasar bagi Produk Pertanian Lokal

25 Juni 2026
Ist
Opini

Rakyat Menuntut Hak, Negara Hadir dengan Borgol: Pelajaran Pahit dari Popayato

24 Mei 2026
Foto : Prof. Dr. Muhammad Amir Arham, M.E.
Daerah

Benar Orang Desa Tidak Pakai Dollar…….

18 Mei 2026
Next Post
Lomba menggambar dan mewarnai yang digelar Alfamart-SGM fi Gorontalo

Lomba Mewarnai dan Menggambar Alfamart-SGM Eksplor di Gorontalo, Fathiya Senang Ikut Lomba, Yakin Bisa Jadi Juara

Ranperda SOTK Menunggu Fasilitasi Biro Hukum Pemprov Gorontalo

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekedar Foto-foto

11 jam ago

Sherly Sang Predator?

2 bulan ago

Flamoria : 1 Sinergi, 1 Almamater!

6 hari ago
Dr. Alvian Mato

Dr. Alvian Mato Pimpin LKBH UNUGO, Perkuat Barisan Advokat Kampus untuk Masyarakat Gorontalo

2 hari ago

Era Baru IAIN Gorontalo

8 bulan ago
f.ist

Sembilan Tahun Perjuangan Transformasi IAIN Gorontalo Menjadi UIN Terwujud

2 minggu ago

16 Pengacara Besar di Gorontalo Bersama Kadek Sugiarta 

9 bulan ago

Sekolah Rakyat di Boalemo Mulai Beroperasi

2 hari ago
f.hms

Program BSPS, Tahun Ini Gorontalo dapat 6.066 Unit

2 hari ago
f.ist

Sekjen Kemenag RI Dijadwalkan Bawakan Orasi Ilmiah Wisuda di UIN Gorontalo

3 hari ago

Terbaru

Kepala BPS Provinsi Gorontalo
Ekonomi

Triwulan II Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Tertinggi se Sulawesi

by NN Indonesia
7 Agustus 2026
0

Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo-f.ist NN, GORONTALO- Pemerintahan di bawah kendali Gubernur Gusnar Ismail dan Wagub...

ist

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Stabil Ditengah Efisiensi Anggaran

7 Agustus 2026

Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekedar Foto-foto

7 Agustus 2026
f.hms

Pemprov Kuncur Rp 980 Juta untuk UMKM di Kota Gorontalo

6 Agustus 2026
Dr. Alvian Mato

Dr. Alvian Mato Pimpin LKBH UNUGO, Perkuat Barisan Advokat Kampus untuk Masyarakat Gorontalo

6 Agustus 2026

Sekolah Rakyat di Boalemo Mulai Beroperasi

6 Agustus 2026
f.hms

Program BSPS, Tahun Ini Gorontalo dapat 6.066 Unit

5 Agustus 2026
f.hms

Wagub Idah Kembali Ingatkan SPPG, Penuhi Standar MBG!

5 Agustus 2026
Ilustrasi Pertamina

Respons Cepat Pertamina, Pasokan LPG 3 Kg di Sulsel Ditambah 34 Persen

5 Agustus 2026
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail saat berada di Pohuwato-f.hms

879 Hektar Cetak Sawah Baru di Pohuwato Mulai Ditanami

5 Agustus 2026
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman & Kode Etik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.

No Result
View All Result
  • Home
  • Trending
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Balik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.