
Newsnesiai.id – Publik saat ini sedang dicemaskan oleh berbagai gejolak ekonomi global yang semakin kian tidak pasti dan tentu saja berdampak ke Indonesia.
Puncaknya, saat rupiah melemah atas dollar hingga berada pada titik Rp. 17.589 per dollar, tercatat sebagai yang paling parah sejak krisis 1998 silam.
Kondisi tersebut tentu saja langsung menuai beragam reaksi dalam negeri. Banyak pihak bahkan sejumlah pakar ekonomi pun memperingatkan pemerintah agar lebih hati-hati, tak sedikit pula yang merasa tetap optimis bahwa Indonesia bisa melewati badai ini.
Sikap optimis itu juga yang selalu disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam pidato terbarunya ia menegaskan bahwa keadaan rupiah yang hari ini melemah terhadap dollar tidak begitu berefek.
“Sebentar-sebentar Indonesia akan collaps, akan chaos, akan apa, ya kan, rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa gak pakai dollar kok ya kan, pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih Oke,” begitu potongan pidato Presiden Prabowo terbaru yang banyak menuai respon beragam oleh publik.
Lantas sebetulnya, jika rupiah melemah atas dollar adakah dampak yang bakal dirasakan oleh masyarakat di daerah tak terkecuali di Gorontalo.
Hal inilah yang sedikit diulas oleh salah satu Ekonom Gorontalo, Rezkiawan Tantawi, S.E., M.M.. saat diwawancarai oleh Jurnalis NewsNesia.id, Ahad 17 Mei 2026.
Menurutnya, terkait fenomena melemahnya rupiah atas dollar akan tetap memiliki dampak terhadap daerah tak terkecuali Gorontalo walau tidak tergolong sebagai daerah dengan karakteristik industrial karena masyarakat Gorontalo punya kecenderungan mengkonsumsi barang yang sangat bergantung pada dollar.
“Kalau untuk Gorontalo kan karakteristik ekonominya beda dengan daerah industrial, tapi masyarakatnya torang ada kecenderungan mengkonsumsi barang yang rantainya bergantung pada dolar. Misalnya barang elektronik atau sparepart kendaraan, ini hampir pasti naik harganya,” terangnya.
“Apalagi torang di wilayah timur ini sensitif dengan biaya transportasi. Kalo dolar naik, pasti biaya distribusi barang juga ikut naik. Karna dsni blum ada pusat produksi, jadi bergantung pada pasokan dari luar (impor),” lanjutnya.
Tak sampai disitu sosok Ekonom yang juga menjabat sebagai Asisten Ahli di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu juga menjelaskan atas kondisi itu, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) di Gorontalo sangat rentan terkena dampak.
“Karena bahan baku pasti akan naik,” tandasnya.
Kendati demikian, Rezkiawan Tantawi juga tetap melihat adanya momentum atas menguatnya mata uang dollar bagi pedagang besar atau eksportir namun tidak bagi pedagang kecil (UMKM) karena belum memiliki supply chain yang kuat.
“Tapi ini momentum juga, karena komoditas ekspor kayak hasil pertanian dan perikanan, nilai jualnya ikut terdorong karena dibayar dengan dollar. Cuma kalau kondisi ini yang paling diuntungkan pedagang besar atau exportir. Kalo pedagang kecil, supply chainnya belum kuat,” paparnya.

















