
NEWSNESIA.ID, BOALEMO – Baru-baru ini, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) merilis daerah dengan indeks inovasi rendah hasil penilaian tahun 2020. Satu diantaranya adalah Provinsi Gorontalo bersamaan sejumlah kabupaten.
Hanya Pemerintah Kota Gorontalo saja berhasil keluar dari penilaian buruk tersebut. Terbukti, daerah dibawah nahkoda Walikota Marthen Taha bersama Wawali Ryan F. Kono meraih predikat terbaik kategori daerah berinovasi tahun 2020.
Parahnya, Kabupaten Boalemo sama sekali tak mendapat penilaian indeks inovasi daerah atau disebut disclaimer oleh Kemendagri.
Menyikapi penilaian itu, Pemkab Boalemo melalui Bapppeda menepis bahwa kategori daerah kurang inovatif bukan berarti daerah itu tak memiliki kinerja. Sebab, itu dua hal yang berbeda.
Sekretaris Bapppeda Boalemo, Andreas Adji menerangkan, kinerja Pemkab Boalemo sejauh ini sudah banyak dibuktikan diberbagai sektor. Diantaranya peningkatan SAKIP dari predikat CC naik menjadi B.
Begitu juga pengelolaan keuangan dalam kurun 4 tahun berturut-turut meraih WTP. Penghargaan Treasury Award dan kinerja pengendalian inflasi daerah, Boalemo dinobatkan terbaik 1 se sulawesi tahun 2020.
Nah, untuk penilaian indeks inovasi daerah oleh Kemendagri kata Andreas, Kabupaten Boalemo belum melaporkan secara keseluruhan. Namun, itu bukan berarti enggan adanya inovasi yang dilahirkan.
“Justru selama ini, banyak inovasi dilahirkan Pemkab Boalemo. Seperti halnya Boalemo Melayani Warga (BMW), Gerakan Masyarakat dan ASN Beramal, program Gerbang Sakinah, Gerakan Menanam atau Mopomulo oleh Dinas Pangan, program Gradasi oleh Dikes Kabupaten Boalemo, program Gerpada dari Diskumperindag dan beberapa inovasi OPD lainnya.
“Sebenarnya inovasi dilahirkan itu, ada beberapa faktor pendukung menjadi kriteria penilaian belum terpenuhi, sehingga kami belum melaporkanya,” terang Andreas Adji.
Nantinya juga lanjut Andreas, pihak Bapppeda Boalemo akan memberikan penguatan seluruh OPD melalui workshop kelitbangan. Di dalamnya membahas soal kriteria sebagaimana ketentuan penilaian Kemendagri.
“Tahun lalu, Kabupaten Boalemo baru melaporkan 1 inovasi OPD untuk dinilai Kemendagri dan akan disusul laporan inovasi lain dari OPD yang sementara dalam perampungan dan memenuhi faktor pendukung kriteria penilaian,” tutur Andreas.
Sementara, Plt Bupati Boalemo Anas Jusuf sejak awal tahun 2021 ini, kerap kali mengingatkan dan bahkan menginstrusikan seluruh OPD mampu melahirkan inovasi baru.
Senada dengan itu, Sekda Boalemo Sherman Moridu SPd, MM menaruh harapan besar seluruh OPD yang ada. Yakni dapat mengidentifikasi inovasi yang sudah dicetuskan dan diimplementasikan dan sudah diperkuat regulasi, entah itu Perbup atau SK Bupati.
Ia membeberkan beberapa inovasi Pemkab Boalemo sejak kepemimpinan Darwis-Anas (DAMAI). Misalnya sektor pendidikan ikut mengutus anak didik belajar bahasa asing di Kampung Inggris,Pare, Kediri. Selanjutnya mendukung pendirian rumah bahasa guna membimbing dan memberikan kursus bahasa inggris dan bahasa arab secara gratis kepada masyarakat dan anak didik di wilayah kecamatan di Boalemo.
Selain itu mendidikan klinik MIPABing guna menggenjot nilai Ujian Nasional (UN) bagi anak didik. Inovasi ini sukses mengantarkan Kabupaten Boalemo peringkat ke 2 tingkat provinsi. Terdapat pula inovasi gerakan Semua Ada Ijazah (SAI) guna memupus anak putus sekolah.
Begitu pula Gerakan Damai Angkat Anak Putus Sekolah (GARDA AMPUH), program kerjasama Pemkab Boalemo bersama Yayasan ITCC yang sukses mengorbitkan lulusan D3 dan kini memenuhi lapangan pekerjaan perusahaan asing.
Disektor keagamaan juga mendukung visi religius yang dikenal Gerakan Shubuh Berjamaah.
“Namun, dari predikat diperolah Pemkab Boalemo saat ini sebaiknya tak perlu dipersoalkan. Justru sebaliknya, kita jadikan cambuk untuk senantiasa bangkit dan bergerak bersama dan bersinergi mewujudkan Kabupaten Boalemo sebagai daerah punya inovasi brilian sesuai kriteria penilaian Kemendagri,” seru Panglima ASN Boalemo tersebut.(nrt/nn)




















