
Penulis: Andries Kango, Dekan FUD – IAIN SMART
Indonesia adalah gugusan pulau yang indah, namun juga rentan. Di balik birunya laut dan hijaunya pegunungan, tersimpan potensi bencana alam yang sewaktu-waktu dapat menguji ketahanan dan kemanusiaan kita.
Salah satu babak paling mengharukan dan memilukan dalam sejarah bangsa ini adalah musibah dahsyat yang melanda Aceh dan Sumatera, khususnya gempa bumi dan tsunami pada akhir tahun 2004. Peristiwa yang merenggut lebih dari 167.000 jiwa. Ini menjadi pengingat abadi akan kekuatan alam yang tak tertandingi.
Mengingat kembali detik-detik kelam itu, sulit untuk tidak terenyuh. Horor gelombang raksasa 2004 menyapu bersih kehidupan, meninggalkan luka mendalam dan kerugian material yang tak terhitung. Namun, semangat solidaritas yang muncul saat itu membuktikan bahwa kita adalah “Negeri Dermawan” sebuah bangsa yang bangkit dan saling menopang di tengah kehancuran.
Kini, belasan tahun berlalu, kita kembali diuji.
Sumatera, khususnya wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kembali menangis bukan karena gempa, melainkan karena bencana hidrometeorologi. Hujan ekstrem di penghujung tahun ini telah memicu banjir bandang dan tanah longsor besar yang mengancam kembali fondasi kehidupan yang baru dibangun.
Dampak dari bencana hidrometeorologi saat ini sungguh mengoyak hati. Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per pertengahan Desember 2025, tercatat sudah lebih dari 960 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang akibat banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut. Skala pengungsian juga memprihatinkan, di mana ratusan ribu warga terpaksa mengungsi, banyak di antaranya berada di Aceh dan Sumatera Utara, meninggalkan rumah dan harta benda mereka.
Kerusakan material kali ini pun masif. Total lebih dari 157.000 unit rumah dilaporkan rusak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Bukan hanya itu, ratusan fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan ratusan jembatan hancur, memutus akses logistik dan komunikasi ke daerah-daerah terisolasi.
Bencana ini bukan hanya tragedi historis, tetapi tragedi yang sedang berlangsung.
Di tengah situasi darurat inilah, panggilan kemanusiaan kita kembali menggema. Semangat gotong royong yang pernah menyatukan kita di tahun 2004 harus segera dihidupkan kembali, dengan urgensi yang lebih tinggi.
Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, mereka membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak sendirian.
Mereka yang menjadi korban tidaklah memilih untuk menjadi lemah, mereka adalah korban dari takdir geografis dan, dalam banyak kasus, kerentanan ekologis akibat kerusakan lingkungan.
Karena itu, bantuan yang kita berikan harus mencakup segala aspek, mulai dari donasi untuk penyediaan makanan dan air bersih, pakaian kering, obat-obatan, hingga dukungan moral dan psikososial bagi para korban yang trauma kehilangan. Bencana di Sumatera hari ini adalah pengingat bahwa kepedulian adalah sebuah tindakan berkelanjutan, bukan respons sesaat.
Menjadi Negeri Dermawan berarti kita segera bertindak untuk meringankan penderitaan yang terjadi sekarang, memastikan setiap korban yang meninggal mendapat penghormatan, setiap yang hilang dicari, dan setiap yang mengungsi mendapatkan tempat berlindung yang layak.
Marilah kita jaga api solidaritas ini tetap menyala.
Bencana adalah pengingat bahwa kasih sayang dan kemanusiaan adalah nilai abadi yang membuat kita kuat sebagai sebuah bangsa. Kepedulian kita hari ini adalah jaminan bagi masa depan yang lebih tangguh, yang tidak hanya mengingat tragedi masa lalu tetapi juga merespons kebutuhan mendesak saat ini.
Jangan biarkan kepedihan ini berlanjut tanpa uluran tangan kita.
Inilah saatnya untuk membuktikan sekali lagi bahwa julukan Negeri Dermawan bukanlah sekadar retorika, melainkan DNA bangsa kita yang sesungguhnya. Saudara-saudari kita di Aceh dan Sumatera membutuhkan lebih dari sekadar doa, mereka membutuhkan aksi nyata yang dapat meringankan beban hidup mereka detik ini juga.(*)
*SMART adalah rebranding kampus IAIN, yang artinya Sultan Amai Gorontalo.





















