
NN, GORONTALO – Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga (Parekrafpora) Provinsi Gorontalo terus mematangkan persiapan jelang pelaksanaan Festival Tumbilotohe Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026.
Event budaya yang selalu dinanti masyarakat ini dipersiapkan dengan penuh keseriusan agar tampil lebih semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu pembeda yang disiapkan pada festival tahun ini adalah pemasangan ribuan lampu tradisional yang akan menghiasi area pelaksanaan Tumbilotohe.
Sekretaris Dinas Parekrafpora Provinsi Gorontalo, Romi Moge, mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan sekitar 4.000 mata lampu tradisional akan dipasang untuk memeriahkan festival tersebut.
“Rencananya ada sekitar 4.000 mata lampu tradisional yang akan kita pasang dalam memeriahkan pelaksanaan Festival Tumbilotohe tahun ini,” ujar Romi kepada awak media, Sabtu (7/3/2026).
Romi menjelaskan, berbagai persiapan telah dilakukan sejak pekan lalu. Seluruh jajaran di lingkungan Parekrafpora disebutnya bekerja secara kompak demi menyukseskan event budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo tersebut.
“Alhamdulillah teman-teman cukup kompak. Mulai siang hingga malam mereka bekerja sama mempersiapkan festival ini. Di bawah koordinasi Kasubbag Umum dan didukung semua Kabid, pemasangan tiang bambu untuk lampu berjalan dengan penuh semangat,” beber Romi yang juga mantan Kepala Bidang Pariwisata itu.
Lebih jauh Romi menuturkan, Festival Tumbilotohe tahun ini tidak sekadar menghadirkan kemeriahan cahaya lampu, tetapi juga membawa pesan penting untuk menghidupkan kembali kearifan budaya lokal Gorontalo.
Menurutnya, tradisi Tumbilotohe yang dahulu identik dengan lampu minyak mulai bergeser ke penggunaan lampu listrik. Karena itu, melalui festival ini pemerintah provinsi ingin mengembalikan nuansa tradisional tersebut seperti dulu, atau yang dikenal dengan istilah “mulolo.”
“Pesannya pemerintah ingin melestarikan budaya Gorontalo dalam menyambut malam Lailatul Qadar. Tumbilotohe yang saat ini mulai bertransformasi ke listrik ingin kita kembalikan ke tradisi dulu, yaitu mulolo, sehingga makna sesungguhnya dari perayaan ini bisa kembali terasa,” jelas Romi.
Ke depan, Festival Tumbilotohe diharapkan tidak hanya menjadi tradisi religi masyarakat, tetapi juga berkembang menjadi festival budaya yang ikonik serta mampu menarik wisatawan untuk datang ke Gorontalo, khususnya pada malam ke-27 Ramadan yang menjadi puncak perayaan Tumbilotohe. (Nn)

























