
Oleh: Dr. H. Abdul Wahid, MA-(Muballigh & Akademisi Makassar)
Tantangan Kepolisian sebagai penegak hukum dari hari ke hari terus semakin berat, hal ini disebabkan karena adanya keterbukaan informasi yang seakan tak bertepi. Berbagai peristiwa cepat diketahui dari seluruh belahan dunia sehingga besar potensi tersebarnya berita bohong (hoax) yang kemudian berdampak pada terganggunya stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks Makassar Sulawesi Selatan, dinamika dan persoalan kamtibmas terus menjadi salah satu hal yang sangat prioritas dari jajaran Polda Sulsel, karena kota Makassar di samping berposisi sebagai kota terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) juga kultur masyarakat Makassar Sulawesi Selatan dikenal keras.
Saat ini anggota Polri tidak hanya perlu memiliki tubuh yang atletis, tegap, cantik dan tampan, tapi harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Kemampuan komunikasi ini akan sangat mencitrakan positif dan negatifnya institusi Bhayangkara di tengah masyarakat.
Hal ini disadari betul oleh Polda Sulsel, sehingga secara periodik ia mengumpulkan para humas sejajaran Polda Sulsel untuk mengikuti pelatihan “Public Relations” seperti yang telah diadakan di SPN Batua Makassar pada tanggal 1 s/d Desember 2021.
Apa yang telah dilakukan oleh Polda di atas sebagai upaya mencermati dan merespon kondisi dinamika masyarakat saat ini. Termasuk di dalam penanganan kasus penyerangan asrama mahasiswa beberapa waktu lalu.
Jajaran Polda Sulsel bergerak cepat dalam merespon berbagai potensi gangguan kamtibmas termasuk peristiwa penyerangan asrama mahasiswa Luwu pada awal Desember lalu.
Hingga saat ini tujuh oknum mahasiswa pelaku penyerangan sekrerariat BEM fakultas pertanian Universitas Islam Makassar (UIM) di jalan Perintis Kemerdekaan, penyerangan Asrama IPMIL dan penyerangan Asrama KEPMI Bone berhasil ditangkap tim gabungan dari Resmob Polda Sulsel dan Jatanras Polrestabes Makassar di berbagai tempat berbeda.
“Ketujuh pelaku yang ditangkap ada di kota Makassar, ada yang ditangkap di kabupaten Luwu dan ada yang ditangkap di kabupaten Bone Sulsel. Para pelaku yang ditangkap tersebut memiliki peran masing-masing dalam penyerangan di tiga tempat, ” Ujar Kapolda Sulsel, Irjen Pol Nana Sudjana, Selasa (7/12/2021).
Langkah yang diambil oleh jajaran Kepolisian khususnya Polda Sulsel adalah hal yang sangat tepat sehingga layak diapresiasi, sebab jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat dikhawatirkan kasus tersebut akan melebar kemana-mana sehingga yang rugi tentulah masyarakat Sulsel pada umumnya.
Ketika situasi Makassar Sulawesi Selatan dianggap tidak kondusif, maka para investor dan wisatawan domestik dan mancanegara akan berpikir ulang untuk berkunjung dan berinvestasi di kota yang dijuluki kota Daeng.
Untuk itulah, maka kondisi aman dan kondusif seperti ini tidak hanya dibutuhkan oleh kita sebagai masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan tapi juga didambakan oleh orang luar yang ingin menikmati keindahan alam dan suguhan kuliner khas Makassar Sulawesi Selatan.
Untuk itu apresiasi dan kolaborasi semua pihak mutlak diupayakan sebagai ikhtiar dalam menjaga dan merawat situasi kamtibmas di Makassar Sulawesi Selatan terlebih dalam menghadapi libur natal dan tahun baru beberapa hari ke depan.
Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan pemerintah daerah harus meningkatkan dukungan dan sinergitasnya dengan jajaran Polda Sulsel agar berbagai potensi yang dapat mengganggu kamtibmas dapat dicegah sejak dini, termasuk peristiwa penyerangan asrama mahasiswa Luwu dan Bone di atas tidak terulang lagi ke depan.
Hal yang demikian ini sejalan dengan pesan ulama sufi, “tiada keberhasilan tanpa kebersamaan dan tiadalah kebersamaan bisa terwujud tanpa adanya komitmen dan tujuan yang sama”.(*)





















