Newsnesia.id
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
Newsnesia.id
No Result
View All Result
Home Headline

Rachmat Gobel dan Makna Pulang

Catatan Empat Puluh Hari

by NN Indonesia
19 Agustus 2026
in Headline, Opini
Reading Time: 16 mins read

 

Gitarolis K Daud

Oleh: Gitarolis K. Daud, SHI.,MH
Direktur Jejaring Gorontalo Berdaya

“Setelah seluruh perjalanan ini, ke manakah sebenarnya kita hendak kembali? Bagi Rachmat Gobel, jawabannya tampaknya semakin mengarah ke utara, ke sebuah semenanjung kecil yang menjorok ke Laut Sulawesi, ke pelabuhan yang menghadap Samudra Pasifik, ke desa-desa yang masih bergulat dengan kemiskinan, ke anak-anak yang masa depannya bergantung pada pendidikan yang mereka terima hari ini, ke tanah tempat nama Gobel mula-mula memperoleh akarnya, Gorontalo.”

Rachmat Gobel telah berpulang. Empat puluh hari adalah waktu yang pendek untuk sebuah kehilangan, tetapi salah satu cita-cita yang paling sering dibicarakannya justru menunjuk kepada waktu yang masih jauh di depan, 2051.

Ada jarak dua puluh lima tahun antara 2026 dan 2051, rentang yang kini tidak mungkin ditempuh oleh orang yang ikut membayangkan Gorontalo pada masa itu. Maka, empat puluh hari setelah kepergiannya, mungkin sudah waktunya mengenang Rachmat dengan cara yang berbeda, bukan semata-mata dengan menghitung jabatan yang pernah diembannya, perusahaan yang dibesarkannya, penghargaan yang diterimanya, atau banyaknya kesaksian tentang kebaikan pribadinya. Semua itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, tetapi setelah seseorang tiada, selalu tersisa pertanyaan yang lebih panjang daripada daftar pencapaian: Apa yang sesungguhnya ia tinggalkan?

Kehidupan Rachmat bergerak melintasi banyak ruang: keluarga pengusaha yang ikut mengambil bagian dalam sejarah industri nasional, pendidikan dan pengalaman di Jepang, dunia usaha, pemerintahan, parlemen, hubungan Indonesia-Jepang, politik, hingga berbagai ikhtiar pembangunan di tanah leluhurnya. Ia mempunyai cukup alasan untuk dikenang sebagai pengusaha. Ia pernah menjadi Menteri Perdagangan Republik Indonesia dan kemudian berada dalam jajaran pimpinan DPR RI, sementara hubungannya dengan Jepang terbentang jauh melampaui kepentingan bisnis.

Namun dari seluruh ruang yang dijalaninya, Gorontalo kemudian memperoleh tempat tersendiri dalam pikiran dan ikhtiarnya. Di sana perjalanan hidupnya menemukan arti yang lain, bukan semata-mata sebagai kisah tentang seseorang yang berhasil pergi jauh, melainkan tentang seseorang yang mencoba memahami untuk apa seluruh pengalaman itu dibawa kembali.

Sebab pulang tidak selalu berarti kembali menetap di tempat seseorang dilahirkan atau dari mana leluhurnya berasal. Ada orang yang kembali membawa keberhasilan, kekayaan, nama besar, atau pengaruh. Ada pula yang membawa sesuatu yang tidak mudah dihitung: pengetahuan, pengalaman, jaringan, kemampuan, dan gagasan tentang apa yang mungkin dilakukan bagi tanah yang disebutnya kampung halaman.

Pelajaran dari ayahnya, pengalaman panjang bersama Jepang, pemahamannya tentang industri, teknologi, produktivitas, dan kualitas manusia, serta perjumpaannya dengan negara, pemerintahan, dan politik perlahan bertemu ketika perhatiannya tertuju kepada Gorontalo. Dari seluruh pengalaman itu muncul pertanyaan yang sederhana untuk diucapkan, tetapi tidak pernah sederhana untuk dijawab: Bagaimana Gorontalo dapat menjadi lebih maju, mandiri, dan sejahtera?

Jawabannya mengambil banyak bentuk: pendidikan, pertanian dan perikanan, industri dan nilai tambah, UMKM dan investasi, lapangan pekerjaan, sumber daya manusia, hingga Pelabuhan Anggrek. Jika dibaca sebagai satu rangkaian, terlihat sebuah pola: manusia harus dipersiapkan, apa yang dihasilkan daerah harus memperoleh nilai yang lebih besar, dan nilai itu harus memperluas kesempatan hidup masyarakat.

Rangkaian tersebut kemudian memperoleh sebuah horizon: Gorontalo 2051. Tahun yang diletakkan jauh melampaui satu pemilu, satu pemerintahan, dan satu jabatan politik.
Kini, setelah orang yang ikut membayangkannya tidak lagi berada di dalam perjalanan itu, pertanyaannya memperoleh arti yang berbeda: apa yang sesungguhnya dapat bertahan dari sebuah cita-cita ketika pencetusnya telah tiada?

Untuk memahami mengapa Rachmat sampai memikirkan sebuah tahun yang begitu jauh, kita perlu kembali ke masa ketika semua itu belum bernama politik, parlemen, Pelabuhan Anggrek, ataupun 2051, kepada seorang anak yang tumbuh membawa nama besar dan seorang ayah yang sedang mempersiapkannya menerima sesuatu yang lebih berat daripada kekayaan.

WARISAN SEORANG AYAH
Nama Gobel telah mempunyai sejarah sebelum Rachmat cukup dewasa untuk menentukan jalannya sendiri. Thayeb Mohammad Gobel tidak sekadar meninggalkan perusahaan kepada anak-anaknya. Ia mewariskan cara memandang usaha, manusia, dan tanggung jawab. Baginya, perusahaan tidak semata-mata hadir untuk menghasilkan keuntungan, tetapi harus berguna bagi masyarakat, membuka pekerjaan, membangun kemampuan manusia, dan mengambil bagian dalam kemajuan bangsa.

Pandangan itu menemukan simbolnya dalam Falsafah Pohon Pisang. Hampir seluruh bagian pohon pisang dapat dimanfaatkan. Ia tumbuh, menghasilkan buah, dan sebelum kehidupannya selesai, tunas-tunas baru telah muncul di sekelilingnya. Bagi Thayeb, pohon pisang menggambarkan bagaimana sebuah usaha seharusnya hidup di tengah masyarakat, memberi manfaat sekaligus menyiapkan keberlanjutan.

Rachmat tumbuh di bawah nilai tersebut, tetapi sang ayah tampaknya tidak ingin anaknya memahami kehidupan hanya melalui nasihat. Ia harus mengalaminya. Status sebagai putra pengusaha besar tidak membebaskannya dari disiplin. Dalam berbagai kisah masa mudanya, Rachmat menceritakan bagaimana ia harus mengenal pekerjaan dari bawah, menggunakan kendaraan umum, membersihkan lingkungan pabrik, dan bekerja tanpa perlakuan istimewa sebagai anak pemilik perusahaan.

Tidak semuanya mudah dipahami ketika ia masih muda. Ada masa ketika ia berontak dalam hati terhadap kerasnya pendidikan sang ayah, tetapi pemahaman datang kemudian. Ketika Thayeb mulai sakit, Rachmat mengenang percakapan ketika ayahnya meminta maaf atas cara mendidiknya. Rachmat memeluknya dan menangis.

Pengalaman panjang itu kemudian dipadatkannya dalam satu kalimat: “Saya dididik ayah untuk membunuh ego saya.”

Kalimat tersebut menjelaskan lebih banyak daripada kerasnya pendidikan seorang ayah kepada anaknya. Sebelum memimpin, Rachmat harus mengenal pekerjaan; sebelum menikmati fasilitas, ia harus memahami keterbatasan; dan sebelum mengelola orang lain, ia harus belajar mengelola dirinya sendiri. Dengan cara itu, apa yang kelak diterimanya tidak semata-mata dipahami sebagai sesuatu yang menjadi miliknya.

Ada perbedaan mendasar antara mewarisi kekayaan dan menerima amanah. Kekayaan dapat berpindah tangan. Amanah justru dimulai setelah sesuatu diterima: apa yang akan dilakukan seseorang terhadap apa yang dipercayakan kepadanya?

Rachmat sendiri menggunakan kata itu ketika berbicara tentang ayahnya dan perjalanan kerja sama Gobel dengan Jepang. Dalam sebuah wawancara pada 2010, ia menyebut adanya amanah untuk melanjutkan visi perjuangan sang ayah. Kalimat itu penting bukan semata-mata karena menunjukkan hubungan seorang anak dengan pendahulunya, tetapi karena memperlihatkan bagaimana Rachmat memahami warisan: bukan sebagai sesuatu yang selesai ketika diterima, melainkan sebagai sesuatu yang harus diteruskan melalui tindakan.

Seorang anak tentu tidak pernah menjadi salinan sempurna dari ayahnya. Zaman berubah, tantangan berbeda, dan Rachmat kemudian memasuki ruang yang jauh lebih luas daripada perusahaan keluarga: industri, organisasi dunia usaha, pemerintahan, parlemen, politik, serta berbagai ikhtiar pembangunan Gorontalo. Namun beberapa nilai tetap dapat dikenali sepanjang perjalanannya: kerja, disiplin, manusia, manfaat, dan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Warisan seorang ayah, dengan demikian, tidak hanya hidup dalam sesuatu yang dapat dimiliki atau dihitung. Ia terlihat pada cara seorang anak menggunakan apa yang berada dalam tangannya. Ketika Rachmat kemudian berbicara tentang industri dan pendidikan, pekerjaan dan kemiskinan, hingga pembangunan Gorontalo, satu pertanyaan seperti terus mengiringinya: Untuk siapa kemajuan itu akhirnya bekerja?

Sebagian jawabannya ditemukan jauh dari rumah.

JEPANG: BELAJAR MELIHAT MASA DEPAN
Jepang menjadi salah satu tempat yang menentukan cara Rachmat Gobel memahami kemajuan. Ia belajar di Chuo University, menjalani pengalaman di lingkungan Matsushita, dan memperoleh kesempatan mempelajari sebuah masyarakat yang mampu membangun kekuatan ekonomi dan industrinya meskipun tidak dianugerahi sumber daya alam sebesar banyak negara lain.

Pelajaran terpentingnya tidak berhenti di ruang kuliah. Pengalaman bekerja dari bawah yang telah ditanamkan ayahnya berlanjut di Jepang: menjadi loper koran, bekerja di restoran, dan menjalani kehidupan kerja tanpa keistimewaan yang melekat pada nama keluarganya. Di lingkungan industri, ia belajar bahwa pabrik tidak cukup dikenal dari ruang tempat keputusan dibuat. Ia harus dipahami melalui proses, pekerjaan, dan manusia yang menjalankannya.

Pengalaman tersebut menghadapkan Rachmat pada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar mengapa sebuah negara dapat menjadi kaya: Bagaimana kemajuan dibangun?

Ia melihat teknologi, mesin, dan industri modern, tetapi di balik semuanya terdapat sesuatu yang lebih mendasar: manusia yang dipersiapkan. Pendidikan, disiplin, ketelitian, budaya kerja, produktivitas, dan penghargaan terhadap proses memungkinkan sebuah masyarakat mengubah pengetahuan serta teknologi menjadi kekuatan ekonomi.

Sebuah keyakinan kemudian terbentuk. Teknologi dapat dibeli, mesin dapat didatangkan, modal dapat dicari, dan infrastruktur dapat dibangun. Tetapi manusia yang mampu menggunakan, merawat, mengembangkan, dan suatu hari menciptakan sesuatu dari semua itu membutuhkan pendidikan, pengalaman, disiplin, dan waktu.

Di Jepang, pelajaran sang ayah menemukan konteks yang lebih luas. Thayeb mengajarinya kerja, manfaat, dan tanggung jawab. Jepang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai itu, ketika bertemu dengan pengetahuan, teknologi, dan industri, dapat menjadi kekuatan sebuah bangsa.

Cara pandang tersebut tetap terlihat ketika Rachmat berbicara tentang hubungan Indonesia-Jepang. Investasi baginya tidak semestinya berhenti pada masuknya modal atau berdirinya pabrik. Hubungan ekonomi harus membuka pekerjaan sekaligus membangun pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan teknologi.

Ia melihat proses itu bergerak dari alih pekerjaan (transfer of jobs), menuju alih pengetahuan (transfer of know-how), hingga penguasaan teknologi pada tingkat yang lebih tinggi.

Gagasan dasarnya sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Sebuah bangsa tidak cukup menjadi tempat teknologi digunakan. Ia harus membangun kemampuan untuk memahami, menguasai, dan kelak mengembangkannya. Hubungan dengan negara yang lebih maju karena itu tidak semestinya berhenti pada transaksi antara penjual dan pembeli, melainkan menjadi kesempatan untuk memperbesar kemampuan bangsa sendiri.

Pengalaman tersebut ikut membentuk cara Rachmat melihat Indonesia. Negeri dengan sumber daya alam dan pasar yang besar tidak seharusnya berhenti sebagai penyedia bahan mentah atau tempat produk luar dipasarkan. Kekayaan baru memperoleh daya ubah ketika manusia mempunyai pengetahuan dan teknologi untuk mengolahnya, industri mampu menciptakan nilai tambah, dan hasil produksi dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Sumber daya, dengan kata lain, tidak pernah cukup.

Keyakinan itu memperoleh ujian yang jauh lebih dekat di Gorontalo, tempat tanah yang subur, laut yang luas, dan berbagai potensi ekonomi hidup berdampingan dengan kemiskinan yang bertahan dari waktu ke waktu.

KEMISKINAN DAN MARTABAT: KETIKA BANTUAN TIDAK PERNAH CUKUP
Bagi Rachmat Gobel, kemiskinan tidak cukup dibaca sebagai angka statistik. Di balik angka terdapat pekerjaan yang tidak tersedia, keterampilan yang belum memadai, kesempatan yang sempit, dan keluarga yang sulit melihat kemungkinan lebih luas bagi masa depannya.

Pada Februari 2024, ia menyatakan bahwa bantuan sosial, sembako, dan bantuan langsung tunai bukan solusi untuk memberantas kemiskinan. Bantuan tersebut, menurutnya, bersifat jangka pendek, darurat, dan sementara. Jalan yang lebih mendasar adalah menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya.

Pernyataan itu perlu dibaca secara utuh. Mengatakan bahwa bantuan tidak menyelesaikan kemiskinan bukan berarti mereka yang mengalami kesulitan tidak perlu ditolong. Bantuan mempunyai tempat: melindungi yang rentan, meringankan keadaan mendesak, dan memungkinkan seseorang melewati masa sulit. Namun pertolongan untuk hari ini tidak selalu mengubah keadaan esok hari.

Bantuan dapat meringankan beban tanpa menciptakan pekerjaan, memenuhi kebutuhan sementara tanpa menghasilkan keterampilan, dan membantu keluarga bertahan tanpa mengubah struktur ekonomi yang membuat kemiskinan berulang antargenerasi. Persoalan pembangunan lalu bergerak dari apa yang diberikan kepada manusia menuju kemampuan apa yang dibangun dan kesempatan apa yang tersedia baginya.

Pekerjaan, dalam kerangka tersebut, mempunyai arti yang lebih besar daripada pendapatan. Ia memberi seseorang kemungkinan untuk menghidupi keluarganya dari hasil usaha sendiri, membuat pilihan, menyusun rencana, dan memandang masa depan dengan lebih banyak kemungkinan.

Di titik itulah pembicaraan tentang kemiskinan bersentuhan dengan martabat. Bukan karena orang miskin kehilangan martabatnya, martabat manusia tidak diberikan oleh kekayaan dan tidak hilang oleh kekurangan, melainkan karena kemiskinan yang berlangsung terlalu lama dapat mempersempit sesuatu yang sangat penting: pilihan.

Pilihan atas pekerjaan, pendidikan anak, usaha, masa depan, bahkan pilihan untuk tidak selamanya menggantungkan hidup kepada keputusan yang berada di luar dirinya. Maka pembangunan tidak cukup membuat seseorang mampu bertahan. Ia harus memperluas pilihan.

Bantuan dan pemberdayaan tidak perlu dipertentangkan, tetapi keduanya tidak boleh disamakan. Yang pertama menolong ketika pertolongan dibutuhkan, sedangkan yang kedua membangun kemampuan agar seseorang mempunyai kekuatan lebih besar untuk menentukan kehidupannya.

Jika pandangan Rachmat mengenai kemiskinan hendak diringkas dalam satu kalimat, mungkin inilah intinya: jangan berhenti menolong manusia untuk bertahan; bangunlah kemampuan agar ia dapat tumbuh.

Dan kemampuan harus dipersiapkan.

PENDIDIKAN: MENYIAPKAN TUAN RUMAH DI TANAH SENDIRI
Salah satu gagasan Rachmat tentang pendidikan di Gorontalo dapat diringkas dalam ungkapan agar masyarakat Gorontalo mampu menjadi “tuan rumah di tanahnya sendiri”. Di belakang ungkapan itu terdapat persoalan yang lebih besar daripada pendidikan formal: apakah masyarakat mempunyai kemampuan mengambil bagian ketika tanah tempat mereka hidup semakin terbuka kepada investasi, teknologi, industri, dan pasar?

Menjadi “tuan rumah” bukan berarti menutup pintu bagi orang lain. Sebuah daerah membutuhkan investasi, pengetahuan, teknologi, jaringan, dan kerja sama. Pertanyaannya justru muncul ketika pintu itu dibuka: apakah masyarakat setempat cukup dipersiapkan untuk berdiri sejajar dan mengambil bagian?

Pelabuhan dapat dibangun, investasi dapat masuk, industri dapat tumbuh, dan teknologi dapat hadir, tetapi semua itu tidak otomatis membuat masyarakat di sekitarnya ikut berkembang. Tanpa manusia yang siap, pembangunan bahkan dapat melahirkan ironi: perubahan berlangsung di depan mata, sementara mereka yang hidup paling dekat dengannya hanya menjadi penonton.

Pendidikan, dalam kerangka itu, tidak berhenti pada sekolah dan gelar. Pendidikan harus menghasilkan kemampuan. Perhatian Rachmat bergerak dari pendidikan usia dini dan beasiswa hingga pendidikan vokasi dan kesempatan belajar ke luar negeri. Hubungannya dengan Jepang pun menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan generasi muda dengan pengalaman, keterampilan, dan budaya kerja yang lebih luas.

Semua bertemu pada satu kata: kesiapan.

Anak muda perlu dipersiapkan bagi pekerjaan yang akan tumbuh. Petani dan nelayan membutuhkan pengetahuan serta teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas, sedangkan pelaku UMKM memerlukan kemampuan memperbaiki produk, mengelola usaha, dan menjangkau pasar. Masyarakat di sekitar pusat pertumbuhan harus dipersiapkan sebelum perubahan datang, bukan setelah mereka tertinggal.

Pengalaman hidup Rachmat memberi makna personal terhadap gagasan tersebut. Ia pernah meninggalkan Indonesia untuk belajar di Jepang, dan pendidikan yang diterimanya tidak hanya datang dari ruang kuliah, tetapi juga dari pekerjaan, disiplin, industri, teknologi, budaya kerja, serta perjumpaan dengan masyarakat yang membangun kemajuannya melalui kualitas manusia.

Ketika kemudian kesempatan belajar dan bekerja di Jepang dibuka bagi generasi muda Gorontalo, terdapat gema dari jalan yang pernah ditempuhnya sendiri: pergi untuk memperoleh sesuatu yang belum dimiliki.

Pulang, dengan demikian, bukan lawan dari pergi. Kadang seseorang justru perlu pergi agar ketika kembali ia membawa sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki. Namun kembali saja tidak cukup. Pengetahuan membutuhkan ruang untuk bekerja, dan keterampilan kehilangan sebagian nilainya apabila kegiatan ekonomi tidak menyediakan kesempatan untuk menggunakannya.

Pendidikan dapat menyiapkan manusia, tetapi ia tidak dapat sendirian menciptakan seluruh kesempatan yang dibutuhkan. Pertanyaan berikutnya menjadi tak terhindarkan: Ekonomi seperti apa yang harus dibangun bagi manusia yang telah dipersiapkan itu?

DARI KOMODITAS MENUJU NILAI TAMBAH
Gorontalo tidak kekurangan sesuatu untuk dihasilkan. Tanahnya menghasilkan jagung, kelapa, kakao, singkong, dan berbagai komoditas pertanian. Lautnya menyimpan kekayaan perikanan, sementara masyarakatnya mempunyai beragam usaha dan produk lokal. Namun kemampuan menghasilkan belum menjawab persoalan terpenting: setelah sesuatu dihasilkan, ke mana nilai ekonominya pergi?

Perjalanan sebuah komoditas jauh lebih panjang daripada tempat ia dipanen atau ditangkap. Ia dikumpulkan, diolah, disimpan, dikemas, diangkut, memenuhi standar, dipasarkan, lalu sampai kepada konsumen. Pada setiap mata rantai, pekerjaan berlangsung dan nilai bertambah.

Persoalannya bukan sekadar seberapa banyak Gorontalo mampu memproduksi, melainkan seberapa besar bagian yang dapat diambilnya dalam proses penciptaan nilai. Pengalaman Rachmat di dunia industri menjadi relevan karena produksi bukan akhir perjalanan ekonomi. Pengetahuan, teknologi, pengolahan, kualitas, logistik, dan pasar dapat memperbesar nilai sebuah sumber daya.

Jagung tidak harus berhenti sebagai jagung, kelapa tidak harus berhenti sebagai kelapa, ikan tidak harus berhenti pada hasil tangkapan yang segera dijual, dan tanah yang subur pun belum cukup apabila sebagian besar nilai setelah panen justru tercipta di tempat lain.

Industrialisasi, dalam kerangka itu, tidak harus dibayangkan sebagai deretan pabrik besar yang terpisah dari petani, nelayan, dan UMKM. Ukurannya justru terletak pada siapa yang terhubung, siapa yang bertumbuh, dan siapa yang memperoleh bagian dari nilai yang diciptakan.

Petani tidak harus kehilangan tempat ketika industri tumbuh, nelayan tidak menjadi kurang penting ketika teknologi masuk, dan UMKM tidak semestinya tersingkir ketika pasar membesar. Industri memperoleh makna pembangunan ketika memperpanjang rantai nilai sekaligus memperluas partisipasi masyarakat di dalamnya.

Nilai tambah, dengan demikian, bukan sekadar selisih harga antara bahan mentah dan barang jadi. Di belakangnya terdapat pekerjaan, keterampilan, teknologi, usaha, dan pendapatan yang tercipta karena sebuah produk tidak berhenti pada bentuk pertamanya.

Jika komoditas meninggalkan Gorontalo dalam bentuk paling awal sementara sebagian besar proses berikutnya berlangsung di tempat lain, yang pergi bukan hanya barang. Bersamanya ikut berpindah kesempatan untuk mengolah, bekerja, berusaha, belajar, dan memperoleh bagian lebih besar dari nilai ekonomi.

Karena itu, nilai tambah baru berarti bagi pembangunan apabila lebih banyak nilai dari apa yang dihasilkan sebuah daerah tinggal, berputar, dan menjadi kesempatan bagi masyarakatnya.

Tetapi produksi dan pengolahan tetap membutuhkan jalan menuju pasar. Bagi daerah seperti Gorontalo, geografi kemudian berubah dari persoalan peta menjadi persoalan ekonomi.

PELABUHAN ANGGREK: SEBUAH PINTU YANG MENGHADAP KE LUAR
Di pesisir utara Gorontalo berdiri sebuah pelabuhan yang dalam pemikiran Rachmat Gobel mempunyai arti lebih besar daripada fungsi bongkar muatnya. Pelabuhan Anggrek dibayangkannya sebagai pintu yang mempertemukan apa yang dihasilkan Gorontalo dengan pasar yang lebih luas. Tanah boleh produktif dan laut boleh kaya, tetapi hasilnya membutuhkan jalur distribusi yang efisien agar dapat memasuki jaringan perdagangan dan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.

Itulah sebabnya pengembangan Pelabuhan Anggrek tidak berhenti pada ukuran dermaga, kapasitas kapal, peti kemas, atau volume bongkar muat. Dalam gagasan pembangunan yang lebih luas, pelabuhan terhubung dengan kawasan ekonomi, kawasan industri, produksi, investasi, dan arus barang dari dan menuju Gorontalo.

Hubungannya saling menentukan. Pelabuhan tanpa produksi kehilangan alasan ekonominya. Produksi tanpa pengolahan kehilangan kesempatan menciptakan nilai tambah, industri tanpa tenaga yang cakap kehilangan daya saing, dan seluruhnya tanpa akses pasar akan menemukan batas pertumbuhan.

Maka pertanyaan terpenting mengenai Pelabuhan Anggrek justru berada jauh dari dermaga: Apa yang akan bergerak melaluinya, siapa yang menghasilkan, dan seberapa besar manfaatnya kembali kepada masyarakat Gorontalo?

Pertanyaan itulah yang membedakan infrastruktur dari pembangunan. Sebuah pelabuhan dapat mempercepat arus barang tanpa otomatis memperbaiki kehidupan masyarakat. Perdagangan dapat meningkat tanpa memperkuat posisi petani, dan investasi dapat masuk tanpa memastikan tenaga kerja lokal memperoleh bagian memadai dari kesempatan yang tercipta.

Sebab sebuah pintu bekerja ke dua arah. Pelabuhan Anggrek dapat membawa produk Gorontalo menuju pasar yang lebih luas, tetapi melalui pintu yang sama barang, modal, teknologi, pelaku usaha, dan persaingan dari luar semakin mudah masuk. Keterbukaan menuntut kesiapan.

Rachmat menyebut Pelabuhan Anggrek sebagai “lokomotif pembangunan ekonomi” Gorontalo. Metafora itu menarik, tetapi lokomotif tidak bergerak hanya karena mesinnya tersedia. Ia membutuhkan rel, rangkaian yang terhubung, tujuan, dan sesuatu yang memang hendak dibawanya.

Keberhasilan pelabuhan karenanya tidak cukup diukur dari investasi, kapasitas dermaga, jumlah kapal, atau volume barang. Ukuran yang lebih menentukan berada di luar kawasan pelabuhan: apakah biaya logistik menjadi lebih efisien, produksi masyarakat meningkat, industri pengolahan tumbuh, pekerjaan tercipta, usaha lokal berkembang, dan lebih banyak nilai ekonomi tinggal di Gorontalo.

Pelabuhan Anggrek bukan jawaban atas seluruh persoalan pembangunan. Ia adalah sebuah kemungkinan.

Seberapa jauh kemungkinan itu dapat diwujudkan hanya akan dijawab oleh waktu. Lebih dari itu, pelabuhan sebesar apa pun tidak dapat membangun ekosistem ekonomi sendirian. Produksi, industri, pendidikan, investasi, dan logistik memerlukan keputusan yang mempertemukan banyak lembaga, sumber daya, dan kepentingan. Pada batas tersebut, pembangunan memasuki wilayah lain: politik.

POLITIK: DARI KEKUASAAN MENUJU MANFAAT
Rachmat Gobel memasuki politik ketika sebagian besar pandangannya tentang pembangunan telah terbentuk. Ia telah lama dikenal sebagai pengusaha dan tokoh industri, mempunyai hubungan panjang dengan Jepang, dan pernah menjadi Menteri Perdagangan sebelum memasuki parlemen hingga berada dalam jajaran pimpinan DPR RI.

Urutan itu penting. Politik bukan tempat pertama gagasannya mengenai industri, teknologi, sumber daya manusia, pendidikan, dan pembangunan lahir. Semua itu telah tumbuh melalui keluarga, Jepang, perusahaan, industri, dan berbagai organisasi ekonomi. Politik kemudian menjadi ruang yang lebih luas tempat gagasan-gagasan tersebut berhadapan dengan kekuasaan publik.

Hampir setiap gagasan pembangunan akhirnya menemui batas yang tidak dapat ditembus hanya melalui perusahaan, kegiatan sosial, atau inisiatif pribadi. Infrastruktur membutuhkan kebijakan, pendidikan membutuhkan institusi dan anggaran, investasi membutuhkan regulasi dan kepastian, sedangkan pembangunan daerah memerlukan keputusan yang melibatkan banyak lembaga dan kepentingan.

Politik, tentu saja, bukan ruang steril. Ada partai, pemilu, kemenangan dan kekalahan, kepentingan, kompetisi, kompromi, serta keputusan yang tidak selalu bergerak ke arah yang sama. Rachmat berada di dalam kenyataan tersebut. Ia bukan pengamat politik dari kejauhan, melainkan pelaku dengan pilihan, keberhasilan, keterbatasan, dan konsekuensinya sendiri.

Mengenangnya secara jujur tidak membutuhkan usaha untuk memisahkannya dari politik. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Untuk apa politik digunakan?

Pada Oktober 2025, ketika berbicara kepada sesama kader partainya, Rachmat mengatakan, “Walaupun kita semua kader politik, tapi kegiatannya jangan melulu politik.” Ia kemudian menekankan kerja sama di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan hidup agar kegiatan politik memberi manfaat yang efektif bagi masyarakat.

Dengan ukuran tersebut, keberhasilan politik tidak cukup dihitung dari suara, kursi, atau jabatan. Ukuran yang lebih sulit adalah: Apa yang berubah setelah kekuasaan diperoleh?

Apakah pekerjaan bertambah, petani dan nelayan memperoleh posisi lebih baik, anak muda mempunyai kesempatan lebih luas, investasi memberi manfaat bagi daerah, dan masyarakat semakin mampu menentukan masa depannya?

Politik kemudian kembali kepada satu kata yang telah hadir sejak pendidikan sang ayah: manfaat.

Namun kekuasaan membawa paradoks. Ia dapat memperbesar kemampuan seseorang mewujudkan gagasan, sekaligus membuat gagasan terlalu bergantung kepada orang yang memegangnya. Ketika seorang tokoh mempunyai posisi kuat, jaringan dapat digerakkan, perhatian diarahkan, dan kepentingan diperjuangkan. Tetapi jabatan mempunyai batas: pemerintahan berganti, konfigurasi politik berubah, dan kekuasaan berpindah.

Gagasan pembangunan yang terlalu melekat kepada seorang tokoh karena itu selalu rapuh. Ujian sesungguhnya bukan hanya bagaimana memperoleh kekuasaan untuk menjalankannya, melainkan bagaimana membuatnya tidak mati bersama kekuasaan.

Pembangunan tidak mungkin menggantungkan masa depannya kepada satu orang. Sehebat apa pun seseorang, waktunya terbatas. Sebuah gagasan baru memperoleh kehidupan yang lebih panjang ketika orang lain menemukan alasan untuk meneruskannya, termasuk mereka yang tidak berada dalam partai, kelompok, atau generasi pencetusnya.

Bagi pemikiran Rachmat tentang Gorontalo, ujian itu sekarang telah dimulai. Dan tidak ada simbol yang lebih jelas tentang ujian tersebut daripada tahun yang pernah diletakkannya jauh di depan.

2051: SEBUAH VISI YANG MELAMPAUI USIA PENCETUSNYA
Tiga puluh tahun adalah waktu yang panjang dalam politik. Pemilu berlangsung berkali-kali, pemerintahan berganti, kekuasaan berpindah, partai tumbuh atau kehilangan pengaruh, dan generasi baru memasuki kehidupan publik. Dalam pembangunan, tiga puluh tahun justru dapat menjadi rentang yang masuk akal.

Mendidik manusia membutuhkan waktu. Begitu pula mengubah struktur ekonomi, membangun industri, meningkatkan produktivitas, memperkuat institusi, mengembangkan teknologi, dan membawa sebuah daerah dari penghasil komoditas menjadi pencipta nilai. Karena itu, 2051 lebih tepat dibaca bukan sekadar sebagai target tahun, melainkan sebagai cara memandang waktu.

Visi Gorontalo 2051 dicetuskan Rachmat pada 2021 dan dikembangkan sebagai cetak biru serta peta jalan pembangunan yang menghubungkan kesejahteraan, lapangan kerja, Pelabuhan Anggrek, kawasan industri, dan orientasi agropolitan.

Ambisinya tidak kecil: Gorontalo yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Namun angka tidak mengubah kenyataan. Menuliskan 2051 tidak mengurangi kemiskinan. Peta jalan tidak menciptakan pekerjaan hanya karena selesai disusun, pelabuhan tidak otomatis melahirkan industri, dan investasi tidak dengan sendirinya menghasilkan kesejahteraan. Visi tidak mempunyai hak istimewa untuk terbebas dari kegagalan.

2051 bukan ramalan. Ia adalah arah yang harus terus diuji oleh kenyataan.

Jika seluruh pemikiran itu dibaca sebagai satu bangunan, hubungannya terlihat jelas: kemiskinan menjelaskan mengapa perubahan diperlukan; pendidikan mempersiapkan manusia; pertanian dan perikanan menyediakan kekuatan ekonomi dasar; industri memperpanjang penciptaan nilai; UMKM memperluas partisipasi; investasi membawa modal, teknologi, dan jaringan; pelabuhan membuka akses pasar; sementara politik menyediakan ruang kebijakan yang memungkinkan unsur-unsur tersebut dipertemukan.

Yang hendak dibangun bukan kumpulan proyek, melainkan kemampuan sebuah daerah mengubah apa yang dimilikinya menjadi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

Tanah subur belum berarti kemakmuran jika hasilnya berhenti sebagai bahan mentah. Laut luas belum menjamin kesejahteraan jika nelayan memperoleh bagian terkecil dari rantai nilai. Pelabuhan besar belum menjadi pembangunan jika arus yang melewatinya tidak memperbesar kesempatan masyarakat. Investasi belum menjadi kemajuan jika penduduk setempat tidak mampu mengambil bagian, dan pendidikan pun belum cukup jika mereka yang telah dipersiapkan tidak menemukan ruang untuk menggunakan kemampuannya.

Semua akhirnya kembali kepada satu ukuran: manusia. Pertanyaan untuk Gorontalo kemudian menjadi jelas: Apa yang mampu dilakukan daerah ini dengan apa yang dimilikinya?

2051 adalah salah satu upaya menjawabnya. Sebuah jalan dapat selesai dalam satu pemerintahan, gedung dapat diresmikan, pelabuhan dapat diperluas, dan program dapat diluncurkan. Transformasi sebuah daerah berbeda. Ia tidak selesai dengan gunting pita.

Transformasi baru berarti ketika perubahan memasuki kehidupan: petani memperoleh posisi lebih kuat dari hasil kerjanya, nelayan memiliki akses kepada teknologi, pengolahan, dan pasar, usaha kecil mampu tumbuh, anak muda mempunyai alasan membangun masa depan di tanah sendiri, mereka yang pergi belajar mempunyai alasan untuk kembali, dan keluarga yang hidup dalam kemiskinan mulai mempunyai lebih banyak pilihan bagi masa depan anak-anaknya.

Itulah beratnya 2051. Pemerintah akan berganti, pemimpin akan berganti, konfigurasi politik berubah, prioritas bergeser, dan mereka yang memulai belum tentu menjadi mereka yang menyelesaikan.

Visi yang benar-benar ingin hidup sampai 2051 harus mampu melepaskan diri dari orang yang pertama kali mengucapkannya. Ia harus dapat dikritik tanpa kritik dianggap sebagai penolakan terhadap pencetusnya, diperbaiki tanpa dianggap mengkhianati warisannya, diteruskan oleh orang dengan pilihan politik berbeda, bahkan dijalankan oleh generasi yang tidak pernah mengenal Rachmat Gobel.

Jika tidak, 2051 hanya akan menjadi sebuah angka yang pernah mempunyai seorang pemilik.

Kini ujian itu telah datang lebih cepat daripada yang mungkin pernah dibayangkan. Rachmat Gobel tidak akan melihat Gorontalo pada 2051.

Untuk pertama kalinya, perjalanan menuju tahun itu sepenuhnya berada di tangan orang lain. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia mampu memperjuangkan visinya, melainkan apakah visi tersebut mempunyai cukup nilai untuk membuat orang lain merasa perlu meneruskannya. Bukan karena mereka berada dalam partainya, bekerja untuknya, atau mempunyai hubungan dengan keluarganya, tetapi karena menemukan sesuatu di dalamnya yang berguna bagi masa depan Gorontalo.

Jika itu terjadi, 2051 tidak lagi menjadi milik Rachmat Gobel. Mungkin justru itulah keberhasilan tertinggi sebuah gagasan: ketika nama pencetusnya menjadi kurang penting daripada persoalan yang hendak diselesaikannya, dan generasi berikutnya menemukan alasan mereka sendiri untuk meneruskannya.

Apa yang akan sampai ke 2051? Gagasan? Institusi? Manusia yang telah dipersiapkan? Cara memandang pembangunan? Atau hanya kenangan tentang seseorang yang pernah mempunyai cita-cita besar bagi tanah leluhurnya?

Waktu akan menjawab. Namun perjalanan hidup Rachmat meninggalkan sebuah pola: dari rumah seorang ayah menuju Jepang, dari pabrik menuju pemerintahan, dari dunia usaha menuju parlemen, dan dari pengalaman yang melampaui batas negara kembali kepada persoalan sebuah daerah bernama Gorontalo.

Kata yang paling tepat untuk memahami gerak itu mungkin bukan pergi, melainkan pulang.

MAKNA PULANG
Pulang adalah kata yang sederhana. Kita mengucapkannya untuk perjalanan yang selesai, seseorang yang kembali ke rumah, atau perantau yang menemukan jalan menuju tempat asalnya. Tetapi tidak semua kepulangan dapat ditunjukkan oleh sebuah alamat.

Sebagian besar kehidupan Rachmat Gobel berlangsung jauh dari Gorontalo. Pendidikan membawanya ke Jepang, dunia usaha memperluas jangkauannya, pemerintahan dan politik menempatkannya di ruang kekuasaan nasional, sementara jaringannya melampaui batas Indonesia. Semakin luas dunia yang dijalaninya, Gorontalo justru memperoleh tempat yang semakin besar dalam pikirannya.

Mungkin pulang memang tidak selalu berarti kembali untuk tinggal. Kadang seseorang pulang dengan membawa sesuatu.

Rachmat membawa pengalaman, pengetahuan, jaringan, dan sebuah cara memandang pembangunan. Semua itu dipertemukannya dengan tanah yang hidup dalam sejarah keluarganya: Gorontalo.

Pulang kemudian memperoleh arti yang lebih luas: bukan sekadar perjalanan menuju tempat asal, melainkan usaha membuat seluruh pengalaman hidup berguna bagi tempat yang dianggap sebagai rumah.

Tidak semua yang dibayangkan Rachmat telah selesai dan tidak semuanya harus diterima tanpa kritik. Sebagian mungkin bertahan, sebagian harus diperbaiki, dan sebagian boleh ditinggalkan apabila zaman menemukan jalan yang lebih baik. Begitulah seharusnya warisan diperlakukan.

Menghormati seseorang tidak berarti membekukan pemikirannya. Kesetiaan yang paling bermakna bukan selalu mengulang jalan lama, melainkan menjaga tujuan sambil mempunyai keberanian menemukan jalan yang lebih baik.

Rachmat pernah menerima pelajaran semacam itu dari ayahnya. Thayeb Mohammad Gobel meninggalkan perusahaan, nama keluarga, dan sesuatu yang lebih sulit diwariskan: keyakinan tentang kerja, disiplin, manusia, manfaat, serta tanggung jawab kepada generasi berikutnya. Rachmat menghabiskan sebagian hidupnya untuk memahami amanah tersebut. Kini generasi setelahnya menghadapi pertanyaan yang sama: apa yang layak diteruskan dari sesuatu yang belum selesai?

Falsafah pohon pisang yang diwariskan Thayeb menemukan maknanya kembali. Pohon itu tidak berusaha hidup selamanya. Ia tumbuh, menghasilkan buah, memberi manfaat, lalu selesai pada waktunya. Tetapi sebelum itu terjadi, ia meninggalkan tunas.

Mungkin kehidupan manusia pun akhirnya diukur dengan cara serupa: bukan hanya dari apa yang berhasil dikumpulkan selama hidup, tetapi dari apa yang masih mempunyai kemungkinan untuk tumbuh setelah dirinya tidak ada.

Empat puluh hari adalah waktu yang terlalu pendek untuk memberikan putusan terakhir terhadap sebuah kehidupan. Kedekatan dengan kehilangan mudah membuat manusia membesarkan yang baik dan melupakan yang belum selesai. Karena itu, biarkan waktu bekerja. Ia akan memisahkan mana yang hidup karena jabatan, mana yang bertahan karena nama, dan mana yang terus berjalan karena memang mempunyai nilai.

Kita tidak perlu tergesa-gesa menjadikan Rachmat Gobel sebuah legenda. Biarkan kenyataan menguji gagasan-gagasannya dan biarkan Gorontalo sendiri kelak menjadi ukuran apakah sesuatu yang pernah diperjuangkannya benar-benar menghasilkan manfaat.

Sebab penghormatan yang adil kepada seseorang bukanlah mengatakan bahwa ia selalu benar. Penghormatan yang lebih jujur adalah memastikan bahwa apa yang baik darinya tidak ikut berakhir bersama dirinya.

Kini Gorontalo tetap berjalan menuju 2051. Akan ada anak-anak yang tumbuh, anak muda yang pergi belajar, mereka yang memilih kembali, tanah yang harus diolah, laut yang harus dijaga, pengetahuan yang harus dikuasai, pekerjaan yang harus diciptakan, dan kemiskinan yang harus dikalahkan.

Generasi yang menjalani semua itu mungkin tidak pernah bertemu Rachmat Gobel. Suatu hari mereka bahkan mungkin tidak mengetahui siapa yang pertama kali mengucapkan angka 2051.
Tidak apa-apa. Sebab keberhasilan tertinggi sebuah warisan bukanlah ketika nama seseorang terus disebut, melainkan ketika sesuatu yang baik tetap bekerja, bahkan setelah orang tidak lagi mengingat dari siapa semuanya bermula.

Mungkin disanalah makna pulang menjadi utuh: bukan hanya tentang ke mana seseorang kembali setelah perjalanan yang panjang, melainkan tentang apa yang ditinggalkannya agar perjalanan orang lain dapat berlanjut.(*)

 

Tags: Almarhum Rachmat GobelRachmat GobelRG
ShareSendTweetShare

Berita Terkait

f.hms
Headline

Upacara Penurunan Bendera HUT 81 RI di Gorontalo Berlangsung Khidmat

17 Agustus 2026
f.gopos
Gorontalo

Usulan Walikota Gorontalo Soal Pembentukan Bidang Sarpras Dikbud Ditolak Kemendikdasmen

17 Agustus 2026
f.ist
Gorontalo

Ini Profil Paskibraka Penaikan dan Penurunan Bendera HUT ke 81 RI Tingkat Provinsi Gorontalo

17 Agustus 2026

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

Rachmat Gobel dan Makna Pulang

1 jam ago

Usung Jenderal Soedirman, Inspektorat Gorontalo Raih Harapan II Parade Kostum Pahlawan Tingkat OPD

2 hari ago
Kapolres dan petinggi polres Pohuwato foto bersama usai upacara bendera

Upacara HUT RI ke-81 di Mako Polres Pohuwato, AKBP Busroni: Tingkatan Profesionalisme Kerja Melayani

2 hari ago
Semarakkan HUT RI Ke-81 Biomasa Group gelar rangkaian kegiatan kebersamaan dan kepedulian sosial untuk warga.

Semarak HUT RI ke-81, Biomasa Group Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan

17 jam ago
Tim URC Polresta Gorontalo Kota saat mengamankan terduga pelaku pencurian kabel homestay yang berada di Kota Gorontalo.

Terekam Beraksi Tengah Malam, Terduga Pencuri Kabel Homestay Diamankan URC Polresta Gorontalo Kota

2 hari ago
f.gopos

Usulan Walikota Gorontalo Soal Pembentukan Bidang Sarpras Dikbud Ditolak Kemendikdasmen

2 hari ago

Berlangsung Khidmat, Gubernur Gusnar Ismail Jadi Inspektur Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Gorontalo

2 hari ago
Kepala Kanwil Kemenhaj Gorontalo Mansur Basir saat menjadi inspektur upacara peringatan hari Kemerdekaan RI ke-81 di halaman UPT asrama haji Kemenhaj Provinsi Gorontalo.

HUT Ke-81 RI, Kemenhaj Gorontalo Deklarasikan Pelayanan Nol Rupiah: Singkat, Mudah, dan Tanpa Biaya

2 hari ago
Komisi II DPRD Kabupaten Gorontalo saat menggelar RDP antara pihak ahli waris dan Bank BRI Limboto beberapa waktu lalu.

Dibawa LPK RI ke DPRD, Klaim Asuransi Kredit Husin Pou Rp200 Juta Diminta Segera Dituntaskan

9 jam ago

Terbaru

Headline

Rachmat Gobel dan Makna Pulang

by NN Indonesia
19 Agustus 2026
0

  Gitarolis K Daud Oleh: Gitarolis K. Daud, SHI.,MH Direktur Jejaring Gorontalo Berdaya “Setelah seluruh perjalanan ini,...

Komisi II DPRD Kabupaten Gorontalo saat menggelar RDP antara pihak ahli waris dan Bank BRI Limboto beberapa waktu lalu.

Dibawa LPK RI ke DPRD, Klaim Asuransi Kredit Husin Pou Rp200 Juta Diminta Segera Dituntaskan

18 Agustus 2026
Semarakkan HUT RI Ke-81 Biomasa Group gelar rangkaian kegiatan kebersamaan dan kepedulian sosial untuk warga.

Semarak HUT RI ke-81, Biomasa Group Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan

18 Agustus 2026

Momen HUT Ke-81 RI, Bone Bolango Dapat Peluang Investasi Besar di 8 Sektor Strategis

17 Agustus 2026
f.hms

Upacara Penurunan Bendera HUT 81 RI di Gorontalo Berlangsung Khidmat

17 Agustus 2026
Upacara HUT RI ke-81 di Mako Polres Pohuwato dipimpin oleh Bupati Saipul Mbuinga

Bupati Saipul Mbuinga Pimpinan Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan di Mako Polres Pohuwato

17 Agustus 2026

Berlangsung Khidmat, Gubernur Gusnar Ismail Jadi Inspektur Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Gorontalo

17 Agustus 2026
Kepala Kanwil Kemenhaj Gorontalo Mansur Basir saat menjadi inspektur upacara peringatan hari Kemerdekaan RI ke-81 di halaman UPT asrama haji Kemenhaj Provinsi Gorontalo.

HUT Ke-81 RI, Kemenhaj Gorontalo Deklarasikan Pelayanan Nol Rupiah: Singkat, Mudah, dan Tanpa Biaya

17 Agustus 2026
Kapolres dan petinggi polres Pohuwato foto bersama usai upacara bendera

Upacara HUT RI ke-81 di Mako Polres Pohuwato, AKBP Busroni: Tingkatan Profesionalisme Kerja Melayani

17 Agustus 2026
Kepala Kanwil Kemenhaj Gorontalo Mansur Basir saat menjadi inspektur upacara peringatan hari Kemerdekaan RI ke-81 di halaman UPT asrama haji Kemenhaj Provinsi Gorontalo.

Gunakan PSL Saat Upacara 17 Agustus, Kakanwil Ungkap Filosofi PSL Kemenhaj

17 Agustus 2026
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman & Kode Etik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.

No Result
View All Result
  • Home
  • Trending
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Balik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.