
NEWSNESIA.ID, BOALEMO – Tiga nama penjabat bupati (Penjabup) Boalemo diusulkan ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sama-sama punya kans kuat.
Pasalnya, ketiganya merupakan birokrat hebat dengan segudang pengalaman dibidang pemerintahan. Nama Handoyo Sugiharto misalnya, kini menjabat Kepala Dinas PU-PR Provinsi Gorontalo. Ia pernah menduduki beberapa jabatan strategis di Kabupaten Boalemo. Seperti halnya kepala dinas PU dan kepala dinas pariwisata.
Sama halnya Risjon Sunge, kini menjabat Kepala Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo dan pernah mengisi jabatan strategis, seperti kepala Bappeda Kabupaten Gorontalo Utara.
Demikian halnya nama Syukri Botutihe, menjabat Asisten I Bidang Pemerintahan Provinsi Gorontalo yang pernah menduduki jabatan Sekda Kabupaten Bone Bolango.
Lantas siapa yang akan diutus ke Boalemo? Menyikapi banyak pertanyaan itu, Ketua DPRD Kabupaten Boalemo, Karyawan Eka Putra Noho saat diwawancarai beberapa hari lalu mengaku, ketiganya sama-sama punya peluang dan kesempatan yang sama.
“Yang pasti, siapa pun diutus ke Boalemo sudah barang tentu kewenangan pemerintah pusat. Dan itu bukan atas dasar suka atau tidak suka. Jadi, siapa pun dia, sudah itulah keputusan pemerintah pusat,” tutur pria akrab disapa Eka Putra ini.
Bagi masyarakat lanjut Eka, sekiranya memberikan dukungan moril siapa pun penjabat yang diutus. Tak boleh saling mengkotak-kotakkan, karena itu justu menjadi penghambat pembangunan. Boalemo harus dibangun dengan pondasi kebersamaan dan persaudaraan yang kuat.
Disamping itu, Eka Putra menambahkan, bagi Penjabup diutus ke Boalemo tetap jadi pelayan masyarakat dan mitra legislatif. Sehingga tidak boleh menonjolkkan kepentingan pribadi apalagi golongan. Semua mesti didasari kepentingan seluruh rakyat dalam menunaikan amanah, memajukan ekonomi dan pembangunan.
“Kalau saya tak mau berpikir kepentingan pribadi, tetapi bagaimana kita berpikir jauh kedepan. Jangan hanya berpikir untuk hari ini dan esok saja. Tapi bagaimana kepentingannya untuk daerah di masa mendatang,” tegas Politisi Partai Besutan Megawati Soekarno Putri itu.(nrt/nn)























