
Newsnesia.id – Akhir-akhir ini ada stigma yang menyudutkan sistem Pemilihan Ketua di HMI bahwa sekarang sudah pragmatis !
gara-gara one man one vote. Siapa yang banyak mentraktir, dia yang jadi Ketua ?
Pernyataan ini separuh benar, tapi sepenuhnya tidak adil bagi HMI Sebagai kader HMI, kita harus jujur membedakan dua hal: Sistemnya dan Mentalitasnya.
One Man One Vote di HMI Justru Perwujudan dari Nilai NDP: Persamaan (Al-Musawah)
HMI lahir dengan NDP.
Salah satu babnya tentang Kemanusiaan: bahwa setiap insan itu setara.
Dalam sistem perwakilan / formatur yang tertutup, kedaulatan hanya dipegang segelintir orang. Rawan oligarki senior, rawan lobi elite. Kader biasa hanya jadi penonton.
One man one vote justru mengembalikan khittah itu
Satu Kader, Satu Suara, Satu Nilai di hadapan Allah,
Ketua Komisariat, Ketua Bidang, sampai anggota baru yang baru ikut Basic Training nilainya sama di bilik suara.
Inilah keadilan substantif. Inilah demokrasi Islam yang diajarkan HMI.
Jadi, bagaimana mungkin sistem yang paling sesuai dengan NDP kita sebut sebagai sumber pragmatisme?
Pragmatisme di HMI Bukan Lahir dari Bilik Suara, Tapi dari Rapuhnya Perkaderan
Mari kita introspeksi. Di HMI, sebelum memilih, kita dididik melalui proses panjang: Latihan Kader 1, 2, 3, Upgrading, Diskusi NDP berjam-jam.
Seorang kader HMI seharusnya sudah imun terhadap politik uang, karena dia sudah ditempa dengan nilai Keislaman dan Keindonesiaan.
Jika ada kader HMI yang memilih Ketua karena ditraktir kopi, dibelikan rokok, dijanjikan LPJ, atau karena tekanan senior, pertanyaannya bukan
Salahkah sistem one man one vote?
Tapi dimana perkaderan kita gagal ? Sudahkah NDP itu kita internalisasi atau hanya kita hafal untuk ujian LKK ?
Pragmatisme itu bukan virus dari sistem. Itu virus dari matinya perkaderan. One man one vote hanya menjadi cermin yang jujur: Ia memantulkan kualitas kader kita yang sebenarnya.
One Man One Vote Justru Menjadi Filter Terbaik Melawan Pragmatisme Elit
Di sistem lama, cukup lobi 3-5 senior atau formatur, kamu bisa jadi Ketua. Cukup dekat dengan alumni, selesai. Ini justru pragmatisme tingkat tinggi yang dibungkus “restu senior”.
Di sistem one man one vote, kamu tidak bisa lagi hanya mengandalkan restu senior. Kamu harus turun ke bawah secara total dan general
Sebagai harus meyakinkan seluruh kader:
- Apa gagasan keumatanmu untuk komisariat ini?
-
Bagaimana kader akan mengawal isu keislaman dan keindonesiaan di kampus?
-
Sejauh mana kader paham Tujuan HMI: “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.”
Seorang kader yang miskin gagasan, yang hanya modal uang dan kedekatan senior, akan tumbang di forum one man one vote jika kualitas kadernya baik. Karena 100 kader yang cerdas jauh lebih sulit dibeli daripada 5 orang formatur.
- Buktinya: Banyak Kemenangan Ideologis Lahir dari One Man One Vote
Kita punya banyak bukti di banyak komisariat dan cabang, one man one vote justru melahirkan Ketua-Ketua yang bukan siapa-siapa, bukan anak orang kaya, bukan lingkar dalam senior, tapi dia yang rajin mengkaji, rajin mengabdi, dan dicintai kader akar rumput karena, keilmuannya ,kesantuanannya dan adabnya yang paripurna,
Mereka menang bukan karena bagi-bagi uang, tapi karena mereka menang gagasan. Mereka menang karena Yakin Usaha Sampai mereka terlihat nyata.
Itu bukti bahwa sistem ini tidak selalu pragmatis. Sistem ini akan menjadi ideologis jika diisi oleh kader-kader yang ideologis.
Akhirnya sebagai kader HMI tentunya Jangan pernah salahkan sistem demokrasi yang sudah berjalan baik dan benar
Tugas kita sebagai kader HMI bukan saling menyalahkan atau mengganti sistem agar kembali elitis dan tertutup, tapi memperkuat perkaderan agar melahirkan pemilih yang merdeka dan berkualitas ,tertib dan beradab
One man one vote di HMI akan tetap sakral dan ideologis jika :
- Kader kembali ke NDP dan Menjadikan NDP sebagai kompas memilih, bukan sekadar hafalan.
-
Independensi HMI dijaga ,Bebas dari intervensi kepentingan alumni yang pragmatis. HMI untuk kader, bukan kader untuk alumni.
-
Keberanian menolak ,Berani bilang TIDAK pada politik uang, politik perut, dan politik senioritas buta.
Masih ingatkah kita dengan pesan Cak Nur bahwa HMI adalah organisasi perkaderan, bukan organisasi kekuasaan.
Jika orientasi kita masih kekuasaan, maka sistem apapun akan kita buat pragmatis.
Tapi jika orientasi kita masih perkaderan, maka sistem one man one vote akan menjadi alat paling ampuh untuk melahirkan pemimpin HMI yang berkualitas, yang diridhoi Allah SWT.
Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yakin usaha sampai
Y A K U S A
#Dirgahayuhimpunankuke66
#BahagiaHMI
#BanggamenjadikaderHMI



















