Newsnesia.id
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
Newsnesia.id
No Result
View All Result
Home Opini

Ramadan [Masih] di Tengah Pandemi

by NN Indonesia
15 April 2021
in Opini
Reading Time: 4 mins read
Arief Abbas

Oleh: Arief Abbas – Mahasiswa prodi the Centre for Religious and Cross-cultural Studies, UGM, Jogjakarta.

Ini tahun kedua ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi. Jika tahun lalu serba ketat, tahun ini, semua mulai kembali normal. Masjid-masjid mulai dibuka kembali sehingga salat tarawih bisa dilakukan secara berjamaah.

Mobilitas manusia di situs-situs publik seperti pasar, warung kopi, dan tempat-tempat hiburan juga meningkat pesat. Keadaan sosio-ekonominya juga tidak sengkarut laiknya tahun kemarin ketika panic buying terjadi dua tempat vital: toko-toko penyelia bahan pokok dan apotek. Di toko-toko, uang dihabiskan untuk membeli beras berkilo-kilo; sedang di apotek-apotek, mereka membeli handsanitizer, masker, bahkan Alat Pelindung Diri (APD)—yang mestinya digunakan oleh tenaga medis.

Panic buying membuat distribusi pangan dan alat kesehatan tidak merata dan paling penting, ini memaksa saya untuk makan mie instan selama dua hari, berikut mengurung diri di rumah saja.
Sekarang, di tahun kedua, meskipun protokol kesehatan tetap dijalankan, orang-orang mulai acuh terhadap virus.

Masker semula menjadi fitur yang melindungi, mencegah, dan mengurangi penyebaran virus telah menjadi trend saat ini dengan motif dan model berbeda. Mobilitas manusia makin tinggi lewat pembukaan kembali—meski ketentuan tertentu—berbagai macam situs publik seperti kantor, pasar, warung kopi, tempat-tempat hiburan, dsbg.

Jakarta yang notabenenya merupakan tempat yang paling banyak ditemukan, saat Ramadan, tidak diberlakukan PSBB. Jogja barangkali sebulan lalu dan tempat saya berasal, Gorontalo, tidak lagi dilakukan.

Khusus pada pelaksanaan ibadah selama Ramadan, respons dua organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah juga tidak seketat tahun lalu.

Pengurus Besar NU (PBNU) misalnya, menyebut bawa tarawih masih bisa dilakukan di masjid dengan memperhatikan protokol kesehatan; sedang lewat surat edaran 03/EDR/1.0/E/2021, PP Muhammadiyah secara implisit membuka tafsir publik bahwa jika di sekitar tempat tinggal tidak ada penularan COVID-19, maka salat bisa dilakukan secara di masjid.

Di lain sisi, Dewan Masjid Indonesia (DMI) merekomendasikan agar ibadah salat dibagi menjadi dua gelombang dan membuat daya tampung masjid hanya 40% dari total keseluruhan saat salat dilakukan. Di hadapan ghirah keagamaan yang sedang pada puncaknya saat Ramadan, berbagai respons ini adalah kompromi.

Kita boleh melihat ini sebagai kebangkitan kembali hidup yang normal. Namun ini bukan sebuah perkembangan. Sebenarnya, ini sebuah kelalaian, sebuah kengerian yang tidak kita serius: jumlah kasus sudah hinggap di angka 1.5 juta, namun kita biasa-biasa saja.

Di sisi lain, adilkah kompromi terhadap virus yang efeknya, pada taraf yang paling akut, berpotensi mencabut nyawa? Bagaimana jika penyebarannya terjadi diam-diam, saat salat, di saat seseorang saling bersentuhan setelah bersalaman, bahkan hinggap di lantai saat kita sujud?

Di level yang lebih luas, apakah lemahnya intervensi pemerintah di tahun kedua pandemi ini, dengan meningkatnya mobilitas manusia, justru mengafirmasi satu premis bahwa elit-elit sudah tidak mampu? Atau memang masyarakat kita saja yang sulit diatur dan bebalnya minta ampun?

Masalah-masalah ini justru mengarah pada satu fundamen bahwa sebenarnya, yang kondisi paling mengerikan di tengah pandemi itu tidak terjadi ketika hantaman awal, namun justru ketika ia tidak lagi dihiraukan lagi, sebagaimana terjadi di tahun kedua Ramadan ini.

Vaksin memang ada, namun sampai saat ini, distribusinya belum dilakukan secara masif. Belum lagi, tidak sedikit orang yang terkena efek samping seteah divaksin mencitakan berbagai reaksi seperti bengkak, kemerahan, badan lemas, nyeri otot di seluruh tubuh, hingga selulitis. Yang sadar akan karantina mandiri dan interaksi dengan jarak tertentu juga sedikit—untuk menyebutnya tidak ada lagi. Inilah yang saya sebut dengan ketakutan itu.

Ramadan yang masih di tengah pandemi juga berusaha membuat kita memikirkan kembali eksistensi tradisi dan lokalitas masyarakat. Komunitas masyarakat di Gorontalo yang diikat oleh ngala’a atau kekerabatan akan menjadi sulit untuk dilakukan.

Kekerabatan ini dimanifestasikan secara “physically” yang memperjumpakan antara sesama masyarakat, diikuti praktik teteyapuwa (membelai), titiliya (berdekatan), tata’apa (saling menepuk), kukubinga (saling mencubit bahkan dedepita (saling antar makanan). Bentuk ngala’a tidak bisa diganti dengan sekadar sapa lewat grup-grup Whatsapp keluarga atau ekspresinya bisa direpresentasikan lewat emoji.

Di dalam konstruk masyarakat Gorontalo, reduksi terhadap aktifitas fisik ini berarti mereduksi kekerabatan yang sudah terbentuk sejak lama dan, paling penting, it makes no sense at all!
Hal lain yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah cuplikan video yang mempertontonkan ketika ratusan, bahkan ribuan orang berkumpul dan melakukan arak-arak di sepanjang jalan untuk membangunkan orang sahur. Tradisi ini disebut koko’o.

Praktiknya dilakukan dengan membunyikan alat musik tradisional Gorontalo yakni Polopalo. Di dalam video tersebut, orang-orang saling berdekatan dan beberapa lainnya tidak menggunakan masker. Mereka tampak begitu bahagia mengikuti aktifitas tersebut.

Namun suka atau tidak, faktanya, salah satu kultur Gorontalo ini, meskipun menjadi bagian dari identitas komunal, adalah bentuk praktik yang mengingkari terhadap protokol kesehatan.

Pertanyaannya, kenapa ini bisa terjadi? Di mana pemerintah, aparat dan Satgas COVID-19 Gorontalo? Di mana “kebengisan” agensi-agensi ini laiknya Ramadan tahun lalu dengan melakukan PSBB tiga tahap bahkan mengganti salat Idul Fitri di rumah saja?

Terlebih, jika membandingkan lonjakan kasus yang terjadi pasca laporan PSBB jilid tiga yang dirilis pada 13 Juni 2020 oleh Covid Crisis Centre, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan kasus saat ini, kita akan menemukan sesuatu yang mencengangkan.

Pertama, dari jumlah kasus saat PSBB (183) dan setahun setelahnya (5.258), menunjukkan perbedaan tajam sebesar 5.075 kasus. Jadi, jika diprosentasekan, belum hitung setahun, telah terjadi lonjakan sebesar 2773% dari rata-rata 12% pasca PSBB jilid III. Bagi saya, angka-angka ini benar-benar mengerikan. Tapi apakah pemerintah merasakan hal demikian?

Berbagai fenomen ini turut mengafirmasi bahwa pandemi juga bukan melulu soal kesadaran masyarakat yang tidak patuh. Lebih dari itu, pandemi, dalam wilayah yang lebih luas adalah politik.

Pandemi sebagai politik mengisyaratkan keterlibatan antar aktor, institusi, dan agensi dengan relasi kuasa yang saling terkait satu sama lain. Itu sebabnya, kebijakan pemerintah dalam proses intervensi yang tidak dilakukan secara benar justru berpotensi sebagai kanal terciptanya klaster-klaster baru yang lebih besar.

Dan, di dalam ketidakhirauan itulah, pandemi secara tidak sadar terus menerus menyebar dengan masif. Untuk itulah, Ramadan tahun ini, tidak saja menjadi ruang di mana ibadah-ibadah wajib dan sunnah ditegakkan kembali, namun juga sebagai bahan refleksi kritis terhadap kondisi yang sedang kita jalani.

Bahwa pandemi masih ada dan barangkali masih akan ada dalam kurun waktu yang belum jelas.(*)

Tags: Arif AbbasPandemi Covid-19Ramadhan 1442 H
ShareSendTweetShare

Berita Terkait

Headline

Jangan Asal Unik: Ketika Nama Layanan Publik Mempertaruhkan Reputasi

25 Agustus 2026
Headline

Rachmat Gobel dan Makna Pulang

19 Agustus 2026
Aiman Syakil
Ekonomi

Membuka Akses Pasar bagi Produk Pertanian Lokal

25 Juni 2026
Next Post
Rancangan pembangunan wisata religi di Pulau Botak.(f.istimewa)

Megahnya Masjid yang Akan Dibangun di Pulau Botak Boalemo

Plt Bupati Boalemo, Anas Jusuf melantik dan mengukuhkan 61 pejabat di lingkungan Pemkab Boalemo.(F.HMS)

Plt Bupati Boalemo Bongkar Pasang 61 Pejabat

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

Arif Abbas

Ramadan [Masih] di Tengah Pandemi

5 tahun ago
F.hms

Gubernur Sesalkan UPT Ashaj Gorontalo Tolak Dana SBSN Rp 68,25 Miliar

2 hari ago
f.hms

Realisasi APBD Gorontalo Triwulan II Rp 4,9 Triliun

2 hari ago
f.hms

Wagub Idah Dorong Pramuka Berperan Sukseskan Swasembada Pangan

2 jam ago
Penyerahan bantuan motor tiga roda oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sulawedi di kelurahan Kolakaasi, Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara.

Pertamina Patra Niaga Perkuat Pengelolaan Sampah di Kolakaasi, Serahkan Motor Tiga Roda

3 hari ago

Ini Rute Gorontalo Half Marathon 2024

2 tahun ago
f.ist

Weny Gaib Pimpin Ziarah ke Makam Raja Bolmong dan Mantan Tokoh Daerah

8 bulan ago
ist

Danantara Housing Expo 2026 Tawarkan Bunga KPR Mulai 2,75% dan Akses ke Lebih dari 100 Ribu Hunian

7 hari ago
f.hms

UIN-PTA Gorontalo Jajaki Kolaborasi Strategis

5 hari ago

Terbaru

f.hms
Headline

Wagub Idah Dorong Pramuka Berperan Sukseskan Swasembada Pangan

by NN Indonesia
29 Agustus 2026
0

f.hms NN, GORONTALO- Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menghadiri upacara peringatan HUT ke-65 Gerakan Pramuka...

f.hms

Gusnar-Idah Terima KTA Elektronik dari Kwarnas

29 Agustus 2026
f.hms

Kwarda Gorontalo Gelar Upacara HUT Pramuka ke 65

29 Agustus 2026
F.hms

Gubernur Sesalkan UPT Ashaj Gorontalo Tolak Dana SBSN Rp 68,25 Miliar

28 Agustus 2026
f.hms

Realisasi APBD Gorontalo Triwulan II Rp 4,9 Triliun

28 Agustus 2026
Wabup Iwan Adam beri penghargaan kepada SDN 06 Lemito lolos seleksi tahap 1 dan tahap 2 program "Sahabat Sekolah Dasar Tahun 2026"

SDN 06 Lemito Jadi Wakil Gorontalo pada Sahabat Sekolah Dasar 2026, Pemkab Beri Apresiasi

27 Agustus 2026
Foto humas

Pemkab Pohuwato – DPRD Tandatangani Kesepakatan KUA-PPAS APBD 2027

27 Agustus 2026
Kadis Naker ESDM dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo Wardoyo Mansur Pongoliu saat menghadiri Mou Pemprov Gorontalo dengan Kejaksaan Tinggi.

Kadis Naker ESDM Transmigrasi Gorontalo Hadiri Penandatanganan Nota Kesepakatan dengan Kejati

27 Agustus 2026

Sembako Rp271 Ribu Cukup Ditebus Rp95 Ribu, Warga Serbu Pasar Murah Pemprov Gorontalo

27 Agustus 2026
ASN Pengelola Keuangan Disnaker ESDM dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo ikuti bimtek yang diselenggarakan oleh Badan Keuangan Provinsi Gorontalo.

Tingkatkan Kapasitas, ASN Pengelola Keuangan Dinas Tenaga Kerja ESDM Transmigrasi Ikuti Bimtek

27 Agustus 2026
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman & Kode Etik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.

No Result
View All Result
  • Home
  • Trending
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Balik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.