Newsnesia.id
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
Newsnesia.id
No Result
View All Result
Home Headline

Jangan Asal Unik: Ketika Nama Layanan Publik Mempertaruhkan Reputasi

by NN Indonesia
25 Agustus 2026
in Headline, Opini
Reading Time: 4 mins read


Oleh: Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom-
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi

Di tengah budaya komunikasi digital yang serba cepat, pemerintah dan lembaga publik tampaknya semakin sadar bahwa sebuah layanan tidak cukup hanya memiliki fungsi yang baik. Ia juga harus mudah dikenali, mudah diingat, dan kalau bisa, mudah dibicarakan. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan nama layanan yang unik melalui permainan kata atau akronim.

Masalahnya muncul ketika kreativitas penamaan justru menghasilkan nama yang terdengar vulgar, berkonotasi seksual, sexist, absurd, atau menimbulkan tafsir ganda di tengah masyarakat. Nama yang mungkin dianggap lucu dan kreatif oleh pembuatnya dapat dibaca berbeda oleh publik. Alih-alih mengingat manfaat layanannya, masyarakat justru mengingat keanehan namanya.

Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah sesuatu yang mudah diingat otomatis merupakan komunikasi yang berhasil?
Jawabannya tentu tidak.

Dalam ilmu komunikasi, pesan tidak berhenti pada apa yang ingin disampaikan komunikator. Pesan memperoleh maknanya ketika diterima dan ditafsirkan oleh khalayak. Apa yang dianggap kreatif oleh pemerintah belum tentu dimaknai kreatif oleh masyarakat. Sebuah akronim yang dirancang agar terdengar menarik dapat memiliki asosiasi lain ketika dibaca dalam konteks bahasa, budaya, pengalaman, dan pengetahuan publik.

Disinilah persoalan nama layanan publik menjadi lebih dari sekadar persoalan selera bahasa.
Nama adalah wajah komunikasi institusi
Sebuah nama merupakan tanda. Ia membawa identitas dan sekaligus membangun asosiasi tertentu dalam benak publik. Karena itu, ketika sebuah institusi pemerintah memberikan nama kepada layanan publik, sesungguhnya institusi tersebut sedang melakukan proses komunikasi.
Dalam perspektif public relations, komunikasi organisasi bukan hanya mengenai bagaimana menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana membangun hubungan, citra, kepercayaan, dan reputasi dengan publik.

Artinya, nama layanan publik seharusnya tidak hanya dipikirkan dari pertanyaan, “Apakah nama ini mudah diingat?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apa yang akan dipikirkan publik ketika mendengar nama ini?”

Apalagi layanan publik membawa identitas institusi negara. Ia berbeda dengan merek makanan, aplikasi hiburan, atau produk komersial yang memang memiliki keleluasaan lebih besar untuk menggunakan humor, permainan bahasa, bahkan kontroversi sebagai strategi pemasaran.

Ketika nama layanan pemerintah mengandung konotasi yang dianggap vulgar atau tidak pantas, persoalannya bukan lagi sekadar soal apakah masyarakat memiliki selera humor yang berbeda. Persoalannya adalah bagaimana sebuah institusi publik merepresentasikan dirinya melalui bahasa.

Pemerintah tentu boleh kreatif. Bahkan, kreativitas dibutuhkan agar komunikasi publik tidak selalu kaku dan birokratis. Namun, kreativitas tanpa pertimbangan konteks dapat berubah menjadi kontraproduktif.

Ketika viral dianggap sebagai keberhasilan
Persoalan lain yang patut dikritisi adalah kecenderungan mengukur keberhasilan komunikasi dari seberapa viral sebuah pesan.
Nama yang unik memang berpotensi mendapatkan perhatian. Masyarakat membicarakannya, media sosial mengangkatnya, dan algoritma ikut memperluas jangkauannya. Dalam hitungan jam, sebuah nama layanan publik bisa menjadi bahan percakapan nasional.
Tetapi apakah tingginya percakapan selalu menunjukkan keberhasilan komunikasi?
Belum tentu.

Ada perbedaan antara menjadi terkenal dan membangun reputasi.

Sebuah layanan publik bisa saja terkenal karena namanya dianggap lucu atau vulgar. Namun, perhatian tersebut belum tentu menghasilkan kepercayaan. Bahkan, jika publik kemudian mempersepsikan penamaan tersebut sebagai tidak etis atau tidak pantas, viralitas justru dapat menjadi bumerang.

Dalam konteks public relations, reputasi dibangun melalui akumulasi pengalaman dan persepsi publik. Karena itu, setiap bentuk komunikasi institusi termasuk nama layanan seharusnya dipertimbangkan sebagai bagian dari proses membangun reputasi jangka panjang.
Jangan sampai pemerintah memenangkan perhatian selama satu hari, tetapi harus menghadapi persoalan reputasi selama berbulan-bulan.

Dari persoalan nama menjadi krisis komunikasi
Di sinilah komunikasi krisis menjadi relevan.
Krisis tidak selalu bermula dari skandal besar, kegagalan pelayanan, atau pernyataan pejabat. Krisis juga dapat tumbuh dari keputusan komunikasi yang pada awalnya dianggap kecil.
Polanya bisa sederhana: sebuah nama dibuat => publik menemukan asosiasi yang dianggap vulgar atau tidak pantas => nama tersebut menjadi bahan percakapan => kritik bermunculan => media mengangkatnya => institusi harus memberikan klarifikasi.

Pada titik tertentu, perhatian publik tidak lagi tertuju pada substansi layanan. Institusi justru dipaksa menjelaskan alasan di balik nama tersebut.

Dalam situasi seperti itu, organisasi menghadapi apa yang dalam perspektif komunikasi krisis disebut sebagai persoalan reputasi. Energi komunikasi yang seharusnya digunakan untuk menjelaskan manfaat layanan akhirnya habis untuk meredam kontroversi yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Karena itu, komunikasi krisis semestinya tidak hanya dipahami sebagai kemampuan organisasi merespons ketika krisis sudah terjadi. Komunikasi krisis juga harus dipahami sebagai kemampuan mengidentifikasi dan mencegah potensi risiko komunikasi sebelum menjadi krisis.

Salah satu pertanyaannya adalah: sebelum nama layanan diluncurkan, siapa yang menguji bagaimana publik akan memaknainya?
Kreativitas membutuhkan public sensitivity
Persoalan ini bukan berarti semua nama layanan publik harus dibuat formal, kaku, dan penuh jargon birokrasi. Justru sebaliknya, nama yang sederhana, kreatif, dan mudah diingat dapat membantu masyarakat mengenali sebuah layanan.

Namun, kreativitas komunikasi publik membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai kepekaan terhadap publik (public sensitivity).
Sebuah nama seharusnya diuji bukan hanya dari sudut pandang pembuatnya, tetapi juga dari perspektif masyarakat yang akan menggunakannya.

Apakah nama tersebut mudah dipahami?
Apakah memiliki makna ganda?
Apakah mengandung konotasi seksual atau sexist?
Apakah dapat menyinggung kelompok tertentu?
Apakah pantas digunakan oleh sebuah institusi publik?
Dan yang tidak kalah penting: jika nama tersebut viral, apakah institusi siap mempertanggungjawabkan maknanya di hadapan publik?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam ini sebenarnya merupakan bagian dari praktik komunikasi strategis. Sebelum sebuah pesan dilepas ke ruang publik, komunikator perlu memikirkan bukan hanya pesan yang ingin disampaikan, tetapi juga berbagai kemungkinan interpretasi yang muncul.

Pemerintah bukan sekadar komunikator, tetapi institusi publik
Pada akhirnya, persoalan nama layanan publik membawa kita pada persoalan yang lebih besar: bagaimana pemerintah memandang komunikasi dengan masyarakat.

Masyarakat bukan sekadar target audiens yang harus dibuat tertarik. Mereka adalah publik yang memiliki hak untuk memperoleh informasi dan pelayanan secara jelas, pantas, dan profesional.
Karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi publik tidak seharusnya berhenti pada apakah sebuah nama berhasil menjadi viral. Ukurannya harus lebih jauh: apakah masyarakat memahami layanan tersebut, merasa terwakili, percaya kepada institusinya, dan pada akhirnya bersedia menggunakannya.

Nama yang unik boleh. Kreatif tentu perlu. Tetapi ketika keunikan justru mengorbankan kepantasan dan reputasi, pemerintah perlu bertanya kembali: sebenarnya siapa yang sedang dilayani publik atau algoritma?
Sebab dalam komunikasi publik, perhatian memang penting. Tetapi kepercayaan jauh lebih mahal daripada perhatian.
Dan reputasi, sekali rusak, tidak selalu dapat diperbaiki hanya dengan sebuah klarifikasi.(*)

 

Tags: Layanan Publik
ShareSendTweetShare

Berita Terkait

f.hms
Headline

Bantah Tudingan Adhan, Gusnar Ismail; Itu Pembohongan Publik

8 September 2026
f.ist
Headline

Gubernur Datangi Menteri Kebudayaan atas Arahan Mensos Saefullah Yusuf, Tudingan Adhan Keliru

7 September 2026
f.hms
Headline

Gusnar Ismail Dorong UIN Gorontalo jadi Kampus Kebanggaan

4 September 2026
Next Post
Kantor Pertanahan Kota Gorontallo saat menyerahkan sertipikan lahan Museum Purbakala kepada Pemprov Gorontalo.

Sertipikat Lahan Terbit, Program Revitalisasi Museum Purbakala Gorontalo Siap Dilaksanakan

Jalan HOS Cokroaminoto yang makin mulus

Jalan HOS Cokroaminoto Makin Mulus, Target Rampung Awal September

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

Foto bersama panitia dan peserta juara

Turnamen Radjakesu Cup VIII Berakhir, ini Daftar Juaranya

8 jam ago

Jangan Asal Unik: Ketika Nama Layanan Publik Mempertaruhkan Reputasi

2 minggu ago
Pendistribusian air bersih oleh YR Team Kolaborasi kepada masyarakat

Bantu Pemerintah Atasi Kemarau, YR TIM Kolaborasi Suplai 126 Ton Air Bersih untuk Warga

2 hari ago
Anggota DPRD Gorut Lukum Diko

Dua Desa Rawan Banjir di Anggrek, Prioritas

5 tahun ago
Foto humas

Disnakertrans Gorontalo Inventarisasi dan Verifikasi HPL Trans Pangea

15 jam ago
f.ist

Gubernur Datangi Menteri Kebudayaan atas Arahan Mensos Saefullah Yusuf, Tudingan Adhan Keliru

15 jam ago
f.ist

Satpol PP Kotamobagu Panggil Pemilik Hiburan Malam

9 bulan ago
Foto humas

Dukung Perlindungan Pekerja, Gubernur Gorontalo Apresiasi Kabupaten, Desa dan Dunia Usaha melalui Jamsostek Award 2026

15 jam ago
Rocky Gerung

Tak Sekadar Ilmu Pertanahan, Rocky Gerung Nilai Taruna/i Politeknik Agraria STPN Belajar Banyak Disiplin Ilmu

4 hari ago
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid

Menteri Nusron dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN: Tradisi Dialektika Berpikir Tidak Boleh Mati di Mana pun Berada

4 hari ago

Terbaru

f.hms
Headline

Bantah Tudingan Adhan, Gusnar Ismail; Itu Pembohongan Publik

by NN Indonesia
8 September 2026
0

f.hms NN, GORONTALO- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail membantah keras tudingan Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea, soal pertemuannya...

Foto bersama panitia dan peserta juara

Turnamen Radjakesu Cup VIII Berakhir, ini Daftar Juaranya

8 September 2026
Foto humas

Disnakertrans Gorontalo Inventarisasi dan Verifikasi HPL Trans Pangea

7 September 2026
Foto humas

Dukung Perlindungan Pekerja, Gubernur Gorontalo Apresiasi Kabupaten, Desa dan Dunia Usaha melalui Jamsostek Award 2026

7 September 2026
f.ist

Gubernur Datangi Menteri Kebudayaan atas Arahan Mensos Saefullah Yusuf, Tudingan Adhan Keliru

7 September 2026
Pendistribusian air bersih oleh YR Team Kolaborasi kepada masyarakat

Bantu Pemerintah Atasi Kemarau, YR TIM Kolaborasi Suplai 126 Ton Air Bersih untuk Warga

6 September 2026
Sekda Provinsi DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti.

Sri Sultan Hamengkubuwono X: Indonesia Butuh Insan Pertanahan yang Mampu Baca Peta Sekaligus Memahami Manusia

6 September 2026
Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sulawesi Maluku, Suci Rahmad berfoto bersama Sekda Bone Bolango, Iwan Mustapa.

Bone Bolango Raih Terbaik I Pada Jamsostek Award

6 September 2026
Menteri ATR/Waka BPN Nusron Wahid

Menteri ATR/Kepala BPN: Transformasi Organisasi dan Layanan Pertanahan Harus Bermuara pada Kepastian bagi Masyarakat

5 September 2026
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid

Pesan Menteri Nusron untuk 568 Wisudawan/Wisudawati Politeknik Agraria STPN: Jaga Integritas di Mana pun Bekerja

5 September 2026
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman & Kode Etik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.

No Result
View All Result
  • Home
  • Trending
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Balik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.