
Penulis : Nurfajri Aulia / Aktivis Muslimah
Tahun telah berganti, telah banyak kesedihan dalam kisah perjalanan sepanjang tahun 2023. Tentu 2024 lebih baik adalah mimpi yang diharapkan semua orang agar terwujud.
Namun, di saat kaum muslim seluruh dunia tengah merayakan pergantian tahun dengan meriahnya kembang api, mereka Palestina dihadiahi serangan demi serangan bom oleh zionis Israel. Di saat kembang api itu berakhir dengan kekaguman dan senyuman, namun Palestina harus berakhir dengan tangis, darah, dan tubuh hancur berceceran.
Sementara zionis justru mengatakan akan terus melancarkan serangan selama berbulan-bulan.
Disisi lain, etnis Rohingya dengan mayoritas muslim, sesungguhnya nasib mereka tidak jauh berbeda dari Palestina. Di negeri asalnya Rohingnya juga mengalami genosida, mereka dibantai, diperkosa, disiksa, dimanfaatkan oleh sekelompok perdagangan manusia.
Sementara di kamp pengungsian Bangladesh, warga Rohingya tidak mendapat jaminan keamanan. Meningkatnya kriminalitas, keterbatasan jatah makanan, kurangnya lapangan pekerjaan, juga mereka pun tidak mendapat akses pendidikan disana. Inilah yang menjadi penyebab meningkatnya para pengungsi yang melarikan diri ke negeri-negeri tujuannya.
Ketika meminta pertolongan ke negeri-negeri muslim, mereka mendapat penolakan demi penolakan, hingga fitnah dan ujaran kebencian dari saudara semuslimnya.
Dikutip dari berbagai sumber berita, pada rabu 27 desember sekelompok mahasiswa di Banda Aceh melakukan pengusiran paksa Rohingya di Meuseraya Aceh (BMA) di Lampriet.
Pengusiran paksa ini kembali menghadirkan trauma mendalam bagi Warga Rohingya, diantara mereka mengungkapkan kesedihan karena mendapat perlakuan buruk dari saudara seiman. Pengusiran paksa yang mengingatkan mereka akan kekejaman pemerintah Myanmar.
Berbagai isu hingga fitnah yang tersebar di media telah banyak menanamkan kebencian kaum muslim pada Rohingya. Hingga muncul kelompok orang yang keras membela Palestina namun juga dengan tegas membenci pengungsi Rohingnya.
Disamping itu minat masyarakat terhadap pembelaan Palestina semakin menurun setelah beberapa bulan lamanya perang terjadi. Seolah sudah bosan dan jenuh terhadap persoalan Palestina dan pasrah terhadap kondisi kaum muslim dunia.
Mengapa demikian? Bukankah seluruh kaum muslim itu bersaudara?
Hal ini membuktikan bahwa perpecahan kaum muslim semakin terlihat jelas. Adanya sekat-sekat nasionalisme menghadirkan cara pandang individu bahwa kesetiaan, pengabdian, dan kecintaan tertingginya ada pada negara.
Karenanya, ketika terjadi penindasan kepada muslim di belahan dunia lain, kita tidak memandang masalah tersebut sebagai masalah seluruh kaum muslim. Melainkan melihat hal itu sebagai masalah kemanusiaan dan menjadi urusan negaranya sendiri. Karena ikatan aqidah Islam telah digantikan dengan ikatan nasionalisme bangsa.
Pembelaan dan penolakan yang tidak di dasarkan pada aqidah Islam, melainkan pada perasaan kemanusiaan seperti iba, sedih ataupun marah tidak akan bertahan lama karena sifatnya sesaat.
Nasionalisme juga menumbuh suburkan sikap ashabiyah (baca: fanatik golongan), sehingga tidak jarang beberapa kelompok masyarakat menyatakan mencintai sekelompok muslim namun juga membenci golongan muslim yang lain. Hal ini juga tergambar dalam konflik Palestina dan Rohingya.
Ditambah, akibat konsep kepemimpinan yang di dasarkan pada kapitalisme, menghadirkan keengganan bagi pemimpin-pemimpin dunia untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan bagi kaum muslim yang tertindas.
Karena asas kapitalisme adalah untung dan rugi, dalam kapitalisme kebijakan pemimpin negara harus menuruti keinginan para pemilik modal (petinggi-petinggi para pemegang kekuasaan). Hal ini juga menambah kebencian dan penolakan masyarakat untuk membantu Rohingya, karena mengingat masyarakat juga mengalami kesulitan pangan bahkan masih banyak rakyat yang tidak punya rumah.
Karena itu, konflik Palestina dan Rohingya tidak akan selesai jika hanya di bebankan pada masyarakat dan satuan pemerintahan. Melainkan butuh peran negara-negara dunia.
Hanya saja mengharapkan pertolongan pada pemegang kekuasaan bagai harapan kosong, harapan menjadi lebih baik menjadi sekadar angan-angan.
Islam Perisai Haikiki
Islam mengajarkan bahwa seluruh kaum muslim ibarat satu tubuh, jika satu bagian sakit maka seluruh bagian tubuh semestinya juga ikut merasakan sakit.
Dalam Islam satu nyawa manusia adalah lebih berharga dari dunia dan seisinya. Karena itu, Islam sangat melindungi nyawa dengan memberikan perlindungan yang tidak main-main. Perlindungan tersebut tidak hanya di berikan kepada umat Islam tapi setiap manusia akan dilindungi, tanpa memandang perbedaan agama, etnis, suku dan bangsa.
Ketika Islam diterapkan dalam bentuk kepemimpinan negara, kaum muslim seluruh dunia ada dalam satu kepemimpinan dunia tanpa adanya sekat-sekat bangsa. Sehingga ketika terjadi penindasan terhadap kaum muslim maupun non muslim di belahan dunia lain, seorang pemimpin negara atau khalifah dapat dengan segera melakukan tindakan.
Secara historis, Khalifah Al-Mu’tasim Billah merupakan salah satu contoh betapa Islam begitu melindungi jiwa manusia. Ketika seorang budak muslimah sedang berbelanja di pasar di lecehkan oleh orang romawi pada masanya, ia meminta pertolongan pada khalifah. Ketika Khalifah Al-mu’tasim mendengar berita tersebut, ia begitu marah dan mengirimkan 30.000 pasukan mengepung Ammuriah hingga khalifah menaklukan kota tersebut dan berada di bawah kepemimpinan Islam.
Begitu banyak bukti sejarah, bahkan kaum Yahudi yang terusir dari Spayol mereka diberikan tempat dan dilindungi oleh khalifah pada masa kepemimpinan Islam.
Perpecahan kaum muslim hari ini, sungguh menjadi petaka besar bagi kaum muslim. Kezaliman demi kedzaliman yang dirasakan umat muslim hari ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang tidak ingin kaum muslim bersatu.
Karena itu, sudah saatnya kamu muslim bersatu dalam naungan kepemimpinan Islam seluruh dunia. Karena hanya Islam yang mampu melindungi darah dan kehormatan umat manusia.
Kini Islam tidak digunakan dalam aturan kehidupan bernegara, karena itu wajar kerusakan dan kedzaliman terjadi akibat ulah tangan-tangan manusia. Maka sudah seharusnya aturan yang berasal dari Allah sang pencipta menjadi pengatur kehidupan manusia.
Dalam potongan ayatnya Allah swt berfirman yang Artinya : “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (Qs.Taha: 124).(*)





















