
Oleh: Rostia Mile
Penulis adalah Aktivis Dakwah dan Aktivis Muslimah
Sepanjang awal tahun ini, harga beras sendiri sudah mengalami kenaikan yang tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulan Februari 2024 sebesar 0,37 persen secara bulanan. Sementara secara tahunan, inflasi Februari 2024 ini sebesar 2,75 persen dibanding Februari 2023. Beras berkontribusi terhadap inflasi sebesar 0,67%. BPS mencatat kenaikan beras terjadi di hampir semua provinsi di Indonesia. Secara year to date, inflasi pada Februari 2024 mencapai 0,41 persen. Sedangkan secara bulanan, beras mengalami inflasi sebanyak 5,32% dengan andil 0,21% terhadap inflasi umum. Kenaikan harga sejumlah bahan pokok, seperti cabai, minyak goreng, beras, gula pasir, dan telur ayam ras, menjelang Ramadhan menambah beban bagi masyarakat.
Di saat bulan suci Ramadan, warga Gorontalo dikejutkan dengan lonjakan harga beras yang signifikan. Beras sebagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga yang cukup memberatkan.
Meski Gorontalo salah satu lumbung penghasil beras, kenaikan harga beras ini terjadi di beberapa pasar tradisional. Para pedagang pun tak mengetahui pasti mengapa harga beras dan bahan lainnya terus melambung. Mulai dari harga beras, harga rempah-rempah seperti bawang, cabai dan tomat. Selain itu, harga minyak goreng di sejumlah pasar juga tiba-tiba mengalami kenaikan harga. Kelangkaan bahan pokok, yang sering terjadi menjelang bulan Ramadhan salah satunya disebabkan oleh keterlambatan pengiriman bahan pokok.
Masalah yang terus berulang
Hal ini seolah menjadi tradisi yang terus berulang kembali, karena harga pangan naik di setiap Ramadhan tiba. Bahkan kondisi ini malah memberatkan rakyat, dan tentunya mengganggu aktivitas masyarakat dalam beribadah di bulan mulia ini, karena hanya memikirkan pemenuhan kebutuhannya. Tentunya ada banyak penyebab, termasuk di antaranya memanfaatkan semangat bersedekah dan berbagi pada bulan suci. Sehingga terdapat kesalahpahaman bagaimana seharusnya beribadah dan beramal shalih selama bulan Ramadhan.
Penelitian Engkus pada 2017 melaporkan, ada beberapa penyebab kenaikan harga menjelang Ramadhan, yakni hukum permintaan dan penawaran, penimbunan barang, kinerja pasokan yang terganggu, dan gaya hidup masyaraka yang lebih konsumtif. Adapun penimbunan barang terjadi karena adanya permainan pelaku pasar. Ini bukan hal aneh dalam negara yang menganut sistem kapitalisme. Masyarakat di pandang sebagai pasar yang berpotensi untuk meraih keuntungan tanpa memikirkan dampak buruk atau banyak orang yang merugi.
Dalam sistem kapitalisme juga, menjadikan peran negara hanya sebatas regulator semata. Karena negara seakan-akan lumpuh dalam perannya sebagai pelayan rakyat yang mengedepankan kepentingan masyarakat. Padahal jika dilihat sudah ada beberapa antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah itu sendiri, sebagaimana yang di sampaikan oleh Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Irjen Kemendagri) Tomsi Tohir, dimana terdapat 14 jumlah daerah yang telah melakukan upaya-upaya maksimal dalam penanganan Inflasi.
Salah satunya di gorontalo yakni adanya pengadaan pasar murah selama tiga kali di bulan maret ini, akan tetapi hal ini juga belum bisa memberikan solusi yang solutif. Hal ini dikarenakan kurangnya pengawasan dari pemerintah, sehingga mekanisme pasar murah menjadi sulit di akses, bahkan masyarakat pun harus berdesak-desakan dalam perebutan kupon. Di tambah lagi saat Ramadhan ini para pelaku konsumtif makin meningkat, sehingga dengan mudahnya para pedagang memberikan harga yang melonjak dan ini sangat berpengaruh pada masyarakat yang kurang mampu.
Oleh karena itu, fenomena yang seolah menjadi tradisi sejatinya menunjukkan kegagalan sebuah negara dalam menjaga stabilitas harga dan menyediakan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan masyarakatnya.
Peran sebuah negaera
Sebagaimana di dalam sistem pemerintahan Islam, peran sebuah negara harusnya menjadi pelayan rakyat dan mengurusi semua kebutuhan/kemaslahatan rakyatnya. Dan negara wajib bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Dalam sistem pemerintahan islam, negara akan menjamin mekanisme pasar terlaksana dengan baik. Bukan hanya itu, negara juga menjamin dan memberantas distorsi, seperti penimbunan, monopoli, dan penipuan.
Sehingga adanya peran negara akan membuat masyarakat lebih berfokus dalam mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan dengan memperbaiki amal dan memperbanyak ibadah. Negara juga memudahkan rakyat dalam menjalani ibadah Ramadhan, dengan mempersiapkan segala sesuatunya demi meraih Ridha Allah dan nyaman menjalankan ibadah puasa. Selain itu, negara juga memberikan Pendidikan terbaik sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang benar atas ibadah Ramadhan, termasuk pola konsumsinya. Bukan hanya itu, pemerintahan islam akan mendorong masyarakatnya untuk bersegera dalam kebaikan sesuai tuntunan Allah dan RasulNya,,,,,(*)






















