
NEWSNESIA.ID– Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) mengusung tiga target utama gerakan Merdeka Belajar Episode ke-24 dalam Webinar Silaturahmi Merdeka Belajar melalui kanal Youtube Kemdikbud RI pada Kamis, 6 April 2023.
Sebelumnya, program Merdeka Belajar Episode ke-24 tersebut yang telah diluncurkan pada 28 Maret lalu dengan kerja sama antara Kementerian Pendidikan, Riset, Budaya, dan Teknologi melalui melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen) dengan tajuk Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.
Direktur Sekolah Dasar (SD) Kemendikbudristek, Muhammad Hasbi, mengungkapkan ada tiga target gerakan perubahan yang diharapkan dapat tercapai di tahun ajaran baru. Salah satu target tersebut yaitu menghilangkan tes calistung dalam masa penerimaan siswa baru dan menerapkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), serta berharap satuan PAUD dan SD dapat menerapkan sistem pembelajaran yang menyenangkan untuk membangun kemampuan fondasi.
“Guru diharapkan dapat melakukan strategi pembelajaran yang aktif, eksploratif, interaksi positif, dan menyenangkan. Selain itu juga tidak menerapkan asesmen baik itu lisan atau tertulis untuk menghindari stress yang berlebihan pada anak, dan melaporkan perkembangan anak kepada orang tua atau wali sehingga tercipta komunikasi antara sekolah dengan keluarga,” ujar Muhammad Hasbi dalam Webinar Silaturahmi Merdeka Belajar yang ditayangkan secara langsung melalui kanal YouTube Kemendikbud RI, Kamis (6/4).
Dalam kesempatan yang sama, Kepala SD Prof. Dr. Moestopo, Bandung, Masniari P. Pakpahan, mengutarakan bahwa penerapan praktik baik yang dilakukan oleh guru kepada siswa diharapkan dapat menghasilkan anak-anak yang tumbuh dengan percaya diri dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun turut menyampaikan dukungannya pada gerakan ini termasuk mengenai kebijakan untuk tidak memberlakukan tes calistung dalam penerimaan peserta didik baru.
“Sejak didirikan oleh Lailah Moestopo, SD Prof. Dr. Moestopo tidak memberlakukan tes calistung dalam penerimaan peserta didik baru. Sekolah kami lebih menekankan pendidikan yang sesuai dengan usia perkembangan anak yaitu sikap atau attitude, pengetahuan, keterampilan,” ujar Masniari.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Sekolah Kembang (PAUD dan SD), Lestia Prima, dalam webinar tersebut turut mengungkapkan strategi dalam masa perkenalan peserta didik baru di Sekolah Kembang. Salah satunya dengan menciptakan komunikasi intens antara siswa dan calon siswa, kemudian guru dan para orang tua calon siswa Sekolah Kembang.
“Sebelum calon siswa menjadi siswa Sekolah Kembang, para calon siswa berkunjung dan kami perkenalkan dengan lingkungan sekolah serta calon kakak kelasnya. Selanjutnya, kami membuat pertemuan para guru dengan orang tua calon siswa di dalam kelas untuk saling mengenal,” ungkap Lestia Prima.
Siswa saat ini memiliki gaya belajar yang beragam dan jauh berbeda dengan siswa di masa lalu. Maka dari itu diharapkan para guru berinovasi dengan perubahan dalam melakukan pembelajaran agar siswa dengan senang hati dalam mengikuti program pembelajaran, Ujar Yuliati Siantajani, selaku Ketua Yayasan Sekolah Bukit Aksara dan Pendiri Sinau Teacher Training.
“Dengan kesadaran dan perubahan mindset, guru akan dengan sendirinya melakukan perubahan dalam melakukan pembelajaran,” tambahnya.
Di penghujung acara, Muhammad Hasbi selaku Direktur SD Kemendikbudristek, menambahkan bahwa dalam menyukseskan program Merdeka Belajar Episode ke-24 ini membutuhkan partisipasi dari satuan pendidikan dengan cara memberikan booklet informatif kepada semua ekosistem pendidikan, serta dapat memanfaatkan alat bantu yang difasilitasi Kemendikbudristek, dan melaporkan semua perubahan yang terjadi di satuan pendidikan melalui aksi nyata di Platform Merdeka Mengajar.
Muhammad Hasbi juga berpesan kepada seluruh pemangku kepentingan terkait Merdeka Belajar Episode ke-24: Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, bahwa kemampuan fondasi adalah seperangkat kemampuan yang dibutuhkan anak-anak untuk menghadapi dunia yang semakin destruktif saat ini.
“Mari dukung kebijakan ini, dan jangan merampas hak anak kita untuk memperoleh kemampuan fondasi mulai dari jenjang PAUD sampai SD kelas awal,” pesan Hasbi.(rls/NN)
























