
newsnesia.id – Gorontalo kembali tancap gas di cabang sepak takraw. Kamis (9/4/2026), jajaran Pengurus Provinsi (Pengprov) PSTI Gorontalo menyambangi Dekan Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Misi mereka jelas: bangun kekuatan baru dan rapikan regenerasi atlet!.
Rombongan yang dipimpin Bendahara Umum Arief Mohi itu turut membawa kekuatan penting, Binpres Fangky Lakoro, pelatih SPOBDA Abdul Halim Radjiu, hingga perwakilan PB PSTI Noldi Suleman. Mereka datang bukan sekadar silaturahmi, tapi langsung tancap gas membahas masa depan takraw Gorontalo.
Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, blak-blakan soal kondisi saat ini. Menurutnya, jurang antara atlet senior dan junior makin terasa.
“Kami membahas pemassalan sepak takraw bersama FOK UNG. Saat ini kesenjangan atlet senior dan yunior sangat terlihat,” tegas Hartono.
Masalah klasik pun mencuat, minimnya bibit muda berkualitas. PSTI Gorontalo mengakui mulai kesulitan menemukan talenta baru setara generasi emas yang ada sekarang. Solusinya? Kolaborasi!. FOK UNG diminta turun tangan, khususnya dalam penyediaan sarana dan prasarana. Targetnya bukan main-main: mencetak atlet masa depan sejak dini.
Tak berhenti di situ, ide besar langsung dilempar ke meja. PSTI dan FOK UNG siap membangun akademi sepak takraw sebagai pusat pembinaan. Harapannya, akademi ini bisa jadi role model pembinaan takraw di Indonesia. Arief Mohi menegaskan, pertemuan ini punya dua agenda krusial. Selain membahas regenerasi dan program pembinaan, ada kabar membanggakan: tiga mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga FOK UNG akan berangkat ke Pelatnas Asian Games 2026.
“Ini momentum besar. Kami ingin kolaborasi ini berjalan untuk pemassalan, pembinaan, hingga peningkatan prestasi sepak takraw ke depan,” ujar Arief.
Dengan sinergi kampus dan pengurus, Gorontalo tak mau sekadar jadi penonton. Targetnya jelas—tetap jadi lumbung prestasi, dengan generasi baru yang siap melanjutkan tradisi juara!.(ns)



















