
NN, GORONTALO- Konsistensi prestasi atlet taekwondo Gorontalo di level nasional kembali memberi efek berantai. Silvana Lamanda, atlet taekwondo asal Gorontalo, hingga kini masih menjadi bagian dari Tim Nasional (Pelatnas) Taekwondo Indonesia. Keberadaan Silvana di Pelatnas turut mengantarkan pelatihnya, Januar B. Lahay, dipercaya masuk dalam jajaran tim kepelatihan nasional.
Menurut Januar, keputusan Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) memanggilnya ke Pelatnas tidak lepas dari penilaian bahwa di balik capaian atlet nasional, terdapat peran pelatih yang konsisten mengawal proses pembinaan.
“Dengan prestasi atlet Taekwondo Gorontalo, dalam hal ini Silvana Lamanda yang konsisten di kancah nasional sehingga tetap terpakai di Pelatnas, Ketum PBTI menilai ada pelatih yang mampu mengantarkan prestasi tersebut. Dari situ saya dipanggil untuk menjadi bagian dari Timnas,” ujar Januar kepada awak media, Rabu (17/12/2025).
Selama bertugas di Pelatnas, Januar menyebut tim mampu memenuhi target medali yang ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Total raihan medali terdiri dari dua emas, dua perak, dan enam perunggu.
Selain hasil kompetisi, Januar menilai pengalaman berada di Pelatnas menjadi ruang belajar penting, terutama terkait sistem latihan dan manajemen pembinaan atlet tingkat elite. Ia mengaku mendapatkan banyak referensi baru, mulai dari metode latihan, penyusunan program, hingga kedisiplinan latihan yang diterapkan secara ketat.
“Banyak hal yang tidak saya dapatkan di daerah, saya dapatkan di Pelatnas. Baik materi latihan, disiplin, hingga kesempatan bekerja sama dengan pelatih-pelatih hebat, termasuk pelatih asing dari Korea,” katanya.
Pengalaman non-teknis juga menjadi sorotan, terutama saat mengikuti tryout dan pemusatan latihan di luar negeri. Januar menilai perkembangan sport science pada atlet-atlet internasional jauh lebih maju, terutama dalam aspek pemantauan kondisi fisik dan performa atlet.
Salah satu pengalaman penting adalah mengikuti training camp selama satu bulan di Korea Selatan, negara asal taekwondo. Dari sana, Januar mencatat nilai disiplin dan daya juang atlet Korea yang tinggi, serta sikap hormat dan patuh terhadap pelatih sebagai budaya yang perlu diadaptasi dalam pembinaan taekwondo di Indonesia, termasuk di daerah.
“Disiplin dan daya juang mereka luar biasa. Itu yang harus kita ambil dan kembangkan di Indonesia maupun di Gorontalo,” ujarnya.
Bagi Januar, keterlibatan dalam Timnas bukan sekadar capaian personal, melainkan momentum untuk memperkuat pembinaan daerah. Ia menegaskan pengalaman ini bukan titik akhir, melainkan pijakan untuk meningkatkan prestasi taekwondo Gorontalo ke depan.
“Tidak semua pelatih daerah mendapat kesempatan ini. Saya sangat bersyukur, dan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan prestasi Gorontalo, khususnya cabang olahraga taekwondo,” tutupnya. (Ns)




















