
NEWSNESIA.ID (BOALEMO) – Sikap sejumlah kepala daerah di Provinsi Gorontalo rencana akan menarik saham dari Bank SulutGo (BSG) masih menjadi perbincangan hangat.
Tak sedikit publik memberikan tanggapan dan beragam masukkan. Salah satunya datang dari tokoh masyarakat Boalemo, Ulul Azmi Kadji. Ia menilai upaya penarikan penyertaan modal di BSG jangan karena alasan tidak terakomodirnya kepentingan meloloskan jatah kursi dewan direksi dan komisaris.
Pasalnya, kebijakan dianggap tak populis ini justru tak ada untungnya bagi rakyat yang notabene masuk sebagai pemegang saham.
“Mestinya bukan itu yang menjadi bargainingnya. Karena itu tidak berdampak pada daerah dalam pertumbuhan ekonomi di sektor riil maupun usaha mikro masyarakat. Harusnya bargainingnya, pemerintah melalui kepala daerah meminta pihak BSG untuk merektruisasi perjanjian kredit nasabah, termasuk para ASN yang selama ini gaji dan tunjangan mereka 100% sudah jadi agunan kredit. Paling tidak diminta 60%. Supaya masih ada sisa 40% lagi, tiap bulan bisa ASN terima yang secara otomatis akan menggairahkan perekonomian daerah,” tutur Ulul.
Ia menghitung, kalau saja gaji dan tunjangan ASN senilai Rp 250 miliar dalam setahun misalnya, maka ada kurang lebih Rp 8 miliar per bulannya uang itu beredar di daerah.
“Saya yakini BSG tidak punya pilihan, kecuali ikut menyetujui permintaan rektruisasi dimaksud,” tambahnya.
Soal penarikan penyertaan modal atau saham kata Ulul, tidak semudah dibayangkan. Mesti harus melalui penjualan lembar saham yang ada. Misalnya dana penyertaan modal senilai Rp 48 miliar itu kurang lebih ada 48 ribu lembar saham dalam bentuk rupiah, atau 6,7% dari nilai modal saham keseluruhan pada BSG.
“Pertanyaannya, adakah yang berani membeli lembar saham dalam bentuk nilai rupiah, sementara kondisi saat ini nilai tukar rupiah dalam Dolar sudah mencapai Rp 17.000,” terangnya seraya berharap kebijakan ini dapat diproteksi para wakil rakyat agar lebih menguntungkan rakyat Gorontalo.(*)





















