
newsnesia.id, GORONTALO– Janji Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir yang akan melakukan pendekatan dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) dalam penyelesaian konflik organisasi olahraga menuai apresiasi dan dukungan dari pelaku tinju Gorontalo, Rajib Gandi.
“Persoalan cabang olahraga tinju amatir yaitu Pertina tidak lagi menjadi anggota KOI karena ada instruksi dari IOC yang tidak lagi berafiliasi dengan International Boxing Association (IBA). Sebagai gantinya, IOC mencanangkan World Boxing sebagai badan pengganti IBA. keputusan ini berlaku secara global, sehingga semua National Olympic Committee (NOC), termasuk KOI, wajib melepaskan afiliasi mereka dengan asosiasi tinju lokal seperti Pertina dan di indonesia sendiri PERBATI telah berafiliasai dengan word boxing dan di akui oleh KOI,” beber Rajib Gandi.
“Saya akan melakukan pendekatan dengan KONI dan KOI dalam menyelesaikannya. Semua itu dilakukan agar tidak mengorbankan kepentingan atlet dan menghambat perkembangan prestasi olahraga Indonesia,” kata Erick Thohir usai mengumumkan pencabutan Permenpora Nomor 14 Tahun 2024 di Media Centre Kemenpora Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Terkait adanya usulan wartawan olahraga senior Azhari Nasution untuk penyelesaian konflik dengan berdasarkan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2022 yang jelas menyebutkan Federasi Nasional (NF) wajib menjadi anggota Federasi Internasional (IF) khusus olahraga prestasi, Menpora Erick hanya menjawab singkat “Bagus.”
Begitu juga dengan usulan permasalahan konflik organisasi melalui Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia (BAKI) yang merupakan satu-satunya badan arbitrase olahraga yang diakui Kemenpora. Seperti diketahui induk organisasi tenis meja sudah terbelah menjadi tiga. Yakni, Pengurus Besar Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) pimpinan Pieter Layardi, Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PP PTMSI) pimpinan Komjen (Purn) Oegroseno, dan Indonesian Pingpong League (IPL) pimpinan Komjen (Purn) Prof Petrus Reinhard Golose.
Hal yang sama terjadi di cabang olahraga dimana ada Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PP IKASI) pimpinan Amir Yanto dan PB IKASI pimpinan Agus Suparmanto. Terakhir, cabor tinju amatir dengan Pengurus Besar Persatuan Tinju Indonesia (Pertina) yang dipimpin Hillary Barigitta Lasut dan Pengurus Besar Tinju (Perbati) pimpinan Ray Zulham Farras Nugraha.
Dari tiga cabor tersebut yang resmi menjadi anggota IF dan NOC Indonesia yakni IPL yang sudah diterima Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF), PB IKASI pimpinan Amir Yanto yang terdaftar di Federasi Anggar Internasional (FIE) dan PERBATI menjadi anggota World Boxing.
Sementara PERTINA masih di akui sebagai anggota KONI sementara dalam AD/ART Koni bahwa menjadi anggota KONI mendapatkan pengakuan dari OCA dan IOC dan menjadi anggota penuh dari federasi olahraga internasional (IF). Tentunya KOI/NOC berdasarkan UU olahraga bahwa komite olimpiade indonesia bekerja sesuai dengan peraturan Internasional Olympic Committee, Olympic Counsil of Asia, South Eaast Asia Games federation dan organisasi olahraga Internasional lain yang menjadi afiliasi komite olimpiade indonesia.
“Harapanya Menpora yang baru dilantik dapat menyelesaikan persoalan ini terkait aturan main tinju di Indonesia, karena daerah-daerah sementara melakukan kegiatan POPROV/ POPDA jangan sampai berakibat pada atlit tidak bisa main karena klaim mengaklaim menggunakan aturan word boxing atau atiran IBA,” harapnya.
“Saya khwatir persoalan ini penyelesaian akan berlanjut pada sengketa melalui Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia (BAKI) hingga sampai ke pengadilan negeri dan pengadilan TUN. Sementara Indonesia sementara mempersiapkan Sea Games dan atlet-atlet Perbati lebih awal melakukan TC di Vietnam untuk mengadapi Sea Games di Thailand tahun 2025,” jelasnya. (Ns)





















