
NEWSNESIA.ID-Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) bersama dengan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) menggerakkan program Roots sebagai upaya untuk menghapuskan perundungan di lingkungan satuan pendidikan. Program ini juga berkolaborasi dengan Direktorat SMP, SMA, SMK, United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan pemerintah daerah setempat.
Tak hanya itu, Puspeka bersama Yayasan Indonesia Mengabdi sebagai mitra UNICEF mengadakan pameran virtual dengan tajuk Panggung Apresiasi dan Berbagi Praktik Baik Program Roots Indonesia.
Kepala Puspeka Kemendikbudristek, Rusprita Putri Utami menguraikan tujuan pameran virtual, yaitu untuk memberikan ruang kepada agen perubahan, fasilitator guru, dan fasilitator nasional untuk menularkan semangat dan menceritakan pengalaman baik dalam melaksanakan program Roots. Secara tidak langsung, aktor-aktor ini mengajak pemangku kepentingan yang relevan untuk dapat melaksanakan program serupa demi pencegahan perundungan di satuan pendidikan.
“Melalui kegiatan ini, kita semua dapat berbagi dan belajar tentang praktik baik yang telah dilakukan. Semoga pengalaman baik ini juga bisa menginspirasi sekolah lainnya untuk ikut menjalankan program Roots sebagai upaya mencegah perundungan di sekolah,” ujarnya saat memberikan sambutan pada pameran virtual yang diselenggarakan daring melalui kanal YouTube Cerdas Berkarakter, Jumat (31/3).
Berdasarkan data yang dihimpun Puspeka, program Roots telah menjangkau lebih dari 7 ribu sekolah dan melatih lebih dari 10 ribu guru sebagai fasilitator. Selain itu, program Roots juga telah mendorong munculnya lebih dari 44 ribu siswa agen perubahan di berbagai wilayah di Indonesia.
Pada kegiatan tersebut, Puspeka juga menarik kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) beserta Kementerian Agama (Kemenag) untuk turut serta berbagi praktik baik.
Kapuspeka mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus menjaga semangat kolaborasi dan kerjasama dalam mencegah perundungan demi terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, berkualitas, dan merdeka dari kekerasan.
“Mari kita terus bergandengan tangan dan bekerja sama menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus bangsa. Dengan saling berbagi praktik ini, diharapkan kedepan akan menjadi gerakan inspiratif untuk semakin memperluas aksi menghapuskan perundungan di satuan pendidikan,” tegas Rusprita.
Didiek Santosa, selaku perwakilan dari Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan KPPPA juga menambahkan pentingnya sinergi dan kolaborasi untuk memastikan langkah-langkah mengurangi berbagai bentuk kekerasan, perundungan di sekolah.
“Kita harus memastikan anak-anak mendapatkan pemenuhan hak-haknya dan terlindungi dari diskriminasi dan kekerasan, dalam hal ini perundungan. Hal ini tentu tidak hanya dilakukan di satuan pendidikan, tetapi perlu melibatkan lintas kementerian/lembaga, dinas terkait, dan juga Pemda,” ucapnya.
Tebar Perilaku Positif
Di kesempatan yang sama, salah seorang Agen Perubahan dari SMAN 1 Cianjur, Muh Zaki Tasnim Mubarak, turut membagikan pengalamannya saat melihat secara langsung tindakan perundungan. Ia mengaku menyesal karena hanya bisa bersikap sebagai bystander atau penonton tanpa melakukan apapun untuk membela korban.
“Usai mengikuti program Roots, saya menjadi tersadar untuk tidak hanya menjadi penonton saja akan tetapi penting bagi kita bersama untuk berani bersikap memberikan rasa aman ketika melihat ada orang yang menjadi korban kasus perundungan,” tutur Zaki.
Sementara itu, Fasilitator Nasional dari SMKN 7 Pinrang Dedi Setiawan mengungkapkan bahwa ada banyak cara untuk bisa memberikan pesan positif anti perundungan kepada para peserta didik. Diantaranya, dengan semangat menyebarkan pesan nilai kebaikan dan anti kekerasan yang terdapat dalam program Roots.
“Di media sosial itu banyak orang mencari informasi, hiburan, dan wawasan. Saya membagikan kegiatan pengimbasan Roots yang saya lakukan di satuan pendidikan di Pinrang, baik itu ke SMK-SMK Pusat Keunggulan maupun non Pusat Keunggulan, melalui media sosial,” paparnya.
Di akhir pameran virtual, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Milen Kidane berharap semakin banyak anak yang terinspirasi untuk menjadi agen perubahan, bukan hanya melalui program Roots tetapi juga menyebarkan perilaku positif dalam lingkaran pertemanan dan komunitasnya.
“Di dunia di mana anak-anak menemui tantangan yang lebih berat saat ini, penting sekali bagi kita untuk menebarkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu apa yang teman-teman kita rasakan dan seringkali tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi dalam hidup. Mari menjadi teman yang baik kepada satu sama lain dan selalu ada ketika kita saling membutuhkan,” pungkas Milen.(put/rls/NN)
























