
Oleh : Rostia Mile
Penulis adalah Aktivis Dakwah Kampus
Konflik Yang Tak Kunjung Usai
Lagi dan lagi konflik Palestina-Israel sampai saat ini belum juga terselesaikan, kondisi Palestina pada saat ini sangat terpuruk. Dimana banyak korban berjatuhan bertambah dari pihak Palestina dan Israel. Kementerian Kesehatan Palestina pada Ahad (15-10-2023) pagi waktu setempat melaporkan bahwa serangan Zionis Israel di Jalur Gaza telah menewaskan sejumlah 2.329 jiwa, sedangkan korban terluka di Gaza dikabarkan telah mencapai 9.714 jiwa. Dan yang baru-baru ini terjadi pada 17 Oktober 2023 Sebagaimana pernyataan dari Kementerian Kesehatan Gaza, yang dijalankan oleh Hamas, mengatakan 500 orang tewas dalam serangan udara Zionis Israel terhadap rumah sakit tersebut, yang juga dikenal sebagai rumah sakit Baptis. Juru bicara pertahanan sipil Gaza menyebutkan jumlah korban tewas sekitar 300 orang.
Seiring perang fisik Zionis Israel terhadap Palestina, media sosial di Amerika dan Uni Eropa dibanjiri konten palsu dan salah. Modusnya beragam, mulai dari salah informasi gambar hingga menciptakan akun palsu. Raksasa media sosial dituntut untuk segera bertindak. Konten palsu tersebut nampak sangat merugikan pihak Palestina. Salah satu contohnya, konten yang dibagikan jurnalis Israel menyatakan tentara mereka ( IDF ) berhasil merebut kembali desa – desa Israel yang dikuasai oleh Hamas di dekat perbatasan Gaza – Israel. Mereka menemukan desa itu penuh dengan jenazah – jenazah termasuk 40 bayi yang dibunuh oleh Hamas di Kfar Aza. Narasi itu disertai gambar dan video dari media Israel i24 News, yang menyebutkan mayat 40 bayi ditemukan di Kfar Aza. Begitu derasnya informasi menyesatkan, termasuk beredar di media – media di negeri ini tentang atribusi memojokkan terhadap pihak Palestina sebagai teroris.
Adapun kondisi ini menimbulkan adanya pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana kontradiksi yang dilakukan oleh AS berkaitan dengan protes dukungan nya pada Zionis Israel, sehingga menimbulkan adanya berbagai aksi yang dilakukan oleh beberapa kaum muslim di berbagai negeri, hingga ratusan massa datangi Kedubes AS dan bakar bendera. Dikabarkan oleh media JAKARTA-Aksi demonstrasi memprotes dukungan Amerika pada Zionis Israel pasca serangan Hamas ke negara itu akhir pekan lalu terus meluas. Ratusan orang yang merupakan gabungan dari Forum Persaudaraan Islam (FPI), Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama (GNPF-U) dan Alumni 212 Rabu sore (11/10) mendatangi Kedutaan Besar Amerika di Jakarta. Dalam demonstrasi yang mereka sebut sebagai “Aksi Bela Palestina,” massa memprotes tindakan Amerika mendukung Zionis Israel, terutama dengan mengirimkan armada kapal induk USS Gerald R. Ford dan beberapa kapal perusak ke kawasan itu sehari setelah serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober lalu.
Sayangnya, dukungan kaum muslim terkadang tidak sama dengan kebijakan penguasanya. Seperti yang dilakukan penguasa negeri muslim yang lebih memilih bungkam dan menghindari konfrontasi dengan AS yang menjadi sekutu abadi Zionis Israel. Ironisnya lagi, beberapa negeri muslim bahkan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi, Sudan, Bahrain, dan lainnya. Kalaulah penguasa muslim mendukung, dukungan mereka sebatas bantuan kemanusiaan yang hanya meredakan sejenak derita rakyat Palestina, tetapi tidak menghilangkan penjajahan Zionis Israel. Sebagaimana yang dilakukan oleh warga Turki yang berbondong-bondong pergi menuju stasiun Radar Kurecik dan melakukan aksi besar-besaran. Karena mereka tak butuh sekedar kecaman dan kutukan yang di lontarkan oleh penguasa tetapi ialah bukti tindakan yang nyata.
Siapa Yang Harus Disalahkan?
Perang Palestina-Israel terus berlanjut, banyaknya korban berjatuhan di kedua belah pihak. Dan pun banyak umat manusia berbagai bangsa menyerukan penghentian perang dan mengecam Zionis Israel. Sebagaimana Palestina adalah milik umat Islam seluruh dunia. Masalah Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan atau konflik internal. Lebih dari itu, masalah Palestina adalah masalah umat Islam di seluruh dunia. Ketika Masjidilaqsa dihinakan, itu penghinaan bagi kita. Di tanah Palestina terhimpun banyak keutamaan dan keistimewaan, di antaranya adalah kiblat pertama umat Islam.
Kenyataannya Zionis Israel banyak melanggar ketentuan-ketentuan perang bersenjata yang telah diatur dalam hukum internasional. Zionis Israel juga melanggar prinsip-prinsip Hukum Humaniter dengan melakukan tindak kejahatan, berupa kejahatan apartheid, kejahatan kemanusiaan, dan kejahatan perang. Kejahatan yang berujung pada kejahatan genosida yakni kejahatan yang bertujuan sebagai pembunuhan massal. Sebagaimana pemboman yang dilakukan Zionis Israel pada rumah sakit Baptist Al-Ahli di Gaza, yang mengakibatkan 500 orang tewas, dan ini sudah melanggar hak kemanusiaan. Adapun sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri yang di kutip dari Al-Jazeera pada Rabu (8/10) “Serangan yang disengaja terhadap sasaran sipil ini merupakan pelanggaran berbahaya terhadap Hukum Humaniter Internasional (HHI) dan nilai-nilai dasar kemanusiaan”.
Mirisnya kaum muslim banyak yang tidak memahami akar persoalan. Karena memang tidak mudah menumbuhkan semangat pembelaan terhadap Palestina pada diri kaum muslim hari ini. Ini karena penjajah telah berhasil membuat kaum muslim sibuk dengan persoalan pribadinya. Begitu pula dengan remaja muslim, serangan pemikiran dan gaya hidup Barat bertubi-tubi dilancarkan menghantam pikiran, perasaan, dan perilaku generasi muda muslim. Dan lebih miris lagi, penguasa negeri-negeri muslim hanya mengecam, mengutuk, menyerukan penghentian perang tanpa aksi nyata dan tidak mengirimkan pasukannya untuk membantu muslim Palestina. Ada satu hal yang harus dipahami setiap muslim dalam memandang akar masalah Palestina-Israel, yakni apa yang terjadi di Palestina adalah penjajahan dan pendudukan Zionis Israel atas kaum muslim di Palestina. Dengan memahami fakta ini, hal yang dilakukan oleh pasukan Hamas dan rakyat Palestina adalah bentuk perlawanan atas pendudukan yang selama ini Israel lakukan.
Mestinya, pemimpin-pemimpin muslim itu tidak mengerangkeng pasukan-pasukan kaum muslim di barak-barak mereka, ataupun membiarkan kekuatan pasukan militer yang dimilikinya ada di pangkalan-pangkalan mereka saja. Mestinya semua kekuatan militer yang dimiliki oleh kaum muslim bisa digerakkan oleh pemimpin kaum muslim untuk menolong saudara mereka membebaskan atau melepaskan mereka dari pendudukan Zionis Israel. Dan faktanya pada saat ini kita semua tahu bahwa Zionis Israel tidak bisa dihentikan dengan bahas diplomasi atau basa-basi kecaman. Zionis Israel hanya bisa ditundukkan dengan kalimat perang. Buktinya, sudah lebih dari 30 diplomasi dikeluarkan PBB, tetapi Israel bergeming dan tidak patuh terhadap hukum internasional. Sudah banyak bangunan sekolah, masjid, dan rumah sakit dibangun, tetapi pada akhirnya dibombardir juga. Ini artinya, satu-satunya cara menghentikan kekejian Israel adalah memeranginya. Dan sangat disayangkan ketika umat Islam hari ini tidak bisa bersuara dan tidak bisa menampakkan kekuatannya, itu karena belum adanya pemimpin muslim yang takut kepada Allah, yang berani menegakkan hukum-hukum syariat termasuk menegakkan hukum bagaimana memberikan solusi atas pendudukan yang dilakukan terhadap Palestina.
Solusi Terbaik Untuk Ummat
Melihat fakta saat ini, tidak ada solusi terbaik bagi Palestina dan kaum muslim yang tertindas selain hadirnya sistem pemerintahan Islam yang akan melindungi kaum muslim dari penjajahan, penganiayaan, penyiksaan, dan kezaliman yang dibuat musuh-musuh Islam. Solusi tuntas membutuhkan kekuatan besar, yang hanya akan terwujud melalui tegaknya sistem pemerintahan Islam. Terbukti, negeri-negeri Islam seakan tidak berdaya melawan Barat. Alhasil, agar seimbang, umat dan negeri-negeri Islam harus bersatu dalam satu kekuatan, satu ikatan, dan satu kepemimpinan dalam naungan satu negara, yakni Sistem kepemimpinan Islam. Umat harus terus dipahamkan hakikat konflik dan solusi tuntasnya ini, dan didorong terus menyuarakan pembelaan dan solusi yang bisa menyelesaikan segala problematika yang terjadi. Sebagaimana Islam yang memiliki ikatan akidah dan ukhuwah islamiah yang satu.
Sayangnya saat ini sangat berbanding terbalik, yang mestinya menjadi pendorong terkuat para penguasa muslim dan mengirimkan tentara militer untuk menolong saudaranya di Palestina, tetapi mereka tidak melakukan itu. Nation-state telah mengikis ikatan akidah Islam antar kaum muslim, padahal umat Islam bagaikan satu tubuh yang jika sebagian tubuhnya sakit, bagian tubuh lainnya ikut merasakan sakit.
Maka dari itu, hal yang harus dilakukan adalah ;
Yang pertama, umat harus melakukan dakwah dengan menyadarkan pemikiran umat bahwa menjauhkan Islam dari kehidupan (sekularisme) tidak akan mengantarkan kita sebagai umat terbaik, malah menjadi umat terpuruk di segala lini kehidupan.
Kedua, mengerahkan segala daya dan upaya yang bisa kita lakukan untuk menyuarakan fakta dan kebenaran yang sesungguhnya bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan Zionis Israel dan nestapa umat tanpa adanya sistem peraturan Islam akan sangat terpuruk. Hal ini bisa dilakukan dengan terus menggencarkan dakwah, baik di dunia nyata maupun maya.
Ketiga, menyeru kepada penguasa muslim untuk mengarahkan loyalitasnya kepada Islam dan kaum muslim, bukan berharap pada solusi semu PBB atau perjanjian internasional yang menghalangi mereka menolong saudara seiman.
Dengan beragam keutamaan ini, jelas haram bagi kita mendiamkan Palestina tanpa pembelaan dan pertolongan. Mari bergerak bersama memperjuangkan pembebasan Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya yang masih terjajah dengan terus menyerukan dakwah dan menyuarakan hanya sistem pemerintahan Islam lah yang menjadi solusi terbaik bagi Palestina dan seluruh ummat manusia.
Hikmah
Firman Allah SWT.,
وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ
“Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (TQS Al-Baqarah [2]: 191).
Dan sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan yang bagian-bagiannya (satu sama lainnya) saling menguatkan.” (HR Muslim).(*)























