
Pendekatan epistemologis terhadap strategi keberlanjutan sumber daya ikan teri (Stolephorus spp) di Perairan Pelabuhan Perikanan Nusantara Kwandang menuntut pemahaman mendalam tentang sumber pengetahuan dan metode validasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan pengelolaan.
Epistemologi perikanan berkelanjutan mengakui bahwa pengetahuan tidak hanya bersumber dari data biologis dan ekonomi, tetapi juga dari pengalaman lokal nelayan, kearifan tradisional, dan dinamika sosial-ekologis komunitas pesisir.
Dalam konteks ikan teri yang memiliki karakteristik biologis spesifik seperti pertumbuhan cepat dan siklus hidup pendek, epistemologi multi-sumber ini menjadi krusial untuk menghasilkan strategi yang adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi perairan.
Strategi Keberlanjutan Berbasis Bukti Ilmiah
Implementasi strategi keberlanjutan harus didasarkan pada estimasi potensi lestari melalui pendekatan holistik model produksi surplus yang mengintegrasikan aspek ekologis, ekonomi, dan sosial.
Untuk ikan teri di perairan Kwandang, strategi yang direkomendasikan meliputi: (1) pengembangan suaka perairan yang mempertimbangkan pola migrasi dan daerah pemijahan spesies Stolephorus spp; (2) rehabilitasi ekosistem melalui pengendalian polusi dan pemulihan habitat; (3) restocking ikan berbasis penelitian stok; serta (4) penerapan sistem co-management yang melibatkan nelayan dalam pengawasan dan pengambilan keputusan.
Pendekatan ini memerlukan database komprehensif yang mengintegrasikan data tangkapan, upaya penangkapan, dan indikator kesehatan ekosistem.
Tantangan Epistemologis dan Rekomendasi Implementasi
Tantangan utama dalam implementasi strategi keberlanjutan adalah kesenjangan epistemologis antara pengetahuan ilmiah formal dengan kearifan lokal nelayan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan penguatan sistem pengawasan yang mengakui validitas pengetahuan nelayan dalam mendeteksi perubahan stok ikan, serta edukasi masyarakat yang bersifat dialogis daripada instruksional.
Strategi yang efektif harus mampu mengurangi ketergantungan pada intervensi pemerintah, menumbuhkan kemandirian pelaku utama, dan memperkuat posisi tawar nelayan dalam rantai ekonomi perikanan. Keberlanjutan ekologi ikan teri hanya dapat tercapai melalui sinergi antara teknologi pemantauan modern, kebijakan inklusif berbasis bukti, dan partisipasi aktif komunitas dalam pengelolaan sumber daya bersama.
Penulis : Atiek Pratiwi Razak (Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo).




















