
Indonesia saat ini lagi tidak baik-baik saja. Suara rakyat di jalanan berubah menjadi amarah dan api, kantor-kantor pemerintah dibakar, beberapa rumah pejabat dijarah, korban berjatuhan, nyawa pun melayang. Bukan karena rakyat beringas tapi karena rasa sakit yang terlalu lama dipendam, ketidakadilan yang dipelihara, janji-janji yang dikhianati serta ketimpangan sosial yang terawat. Kini semua dibayar dengan amarah.
Ini bukan sekedar demonstrasi, ini adalah peringatan keras jika suara rakyat dibungkam, bila janji-janji terus diingkari dan amanah dikhianati, maka amarah akan terus menyala dan cita-cita demokrasi hanya akan menjadi abu.
Kita semua ingin Indonesia akan cepat membaik, bukan dengan api dan darah tapi dengan suara dan harapan yang didengarkan.
Ironi dan menyedihkan tragedi ini justru terjadi di bulan kelahiran Sang Teladan kemanusiaan, Muhammad Saw. Saat sebagian umat Islam menabuh rebana solawatan, sebagian yang lain menabuh genderang melawan petugas.
Ketika santri-santri bergemuruh membaca Maulid Simtudduror, mahasiswa dan rakyat bergemuruh menyuarakan protes ketidakadilan.
Maulid Nabi yang identik dengan nostalgia dan kecintaan berubah menjadi suasana yang mencekam.
Dalam konteks ini, refleksi atas kelahiran dan teladan beliau memberikan pelajaran yang relevan.
Rasulullah hadir di Tengah Bangsa Arab pra Islam (jahiliyah) juga ditandai dengan kekacauan social, ketidakadilan structural, konflik antar suku serta rusaknya moral manusia. Beliau tampil memberi contoh kepemimpinan, membangun tatanan masyarakat dengan kejujuran, amanah, adaptasi sosial dan keberpihakan kepada kaum lemah.
Beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pelayanan, bukan dari ambisi kekuasaan. Dengan kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral, beliau berhasil mengubah tatanan masyarakat menuju keadilan, persatuan dan kesejahteraan.
Ini pula yang menjadi kata kunci cita-cita Pancasila kita.
Fenomena politik Indonesia saat ini menunjukkan adanya apa yang disebut oleh Larry Diamond sebagai democratic recession, yakni kemunduran kualitas demokrasi yang diakibatkan oleh lemahnya institusi, maraknya korupsi, dan tergerusnya etika politik.
Demokrasi kehilangan substansinya karena tidak lagi menekankan nilai keadilan sosial, melainkan dikuasai oleh praktik kekuasaan transaksional.
Gejala ini tampak dalam berbagai kasus; mulai dari lemahnya integritas anggota legislatif, politik dinasti, lemahnya penegakan hukum hingga maraknya manipulasi kebijakan untuk kepentingan segelintir elite.
Jauh berbeda dengan apa yang dicontohkan Nabi. Beliau mengintegrasikan moralitas dengan politik. Beliau bukan sekadar pemimpin spiritual, melainkan juga negarawan yang mampu menyatukan masyarakat Madinah yang plural.
Melalui Piagam Madinah, Nabi menegaskan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan perlindungan hak-hak minoritas. Ibn Khaldun secara khusus menekankan bahwa keberlangsungan sebuah negara sangat ditentukan oleh asabiyyah (solidaritas sosial) yang berlandaskan nilai moral.
Nabi Muhammad memimpin dengan moralitas, memimpin dengan cinta sehingga melahirkan pengakuan integritas dan penghormatan yang tinggi dari Masyarakat yang dipimpinnya.
Sahabat Anas bin Malik saat ditanya soal kepemimpinan Muhammad Saw., beliau menggambarkan, Ketika Nabi sementara berbicara, maka di atas kepala-kepala kami seakan bertengger burung-burung. Tak ada yang berani mengangkat kepala karena kharisma dan wibawa beliau.
Fakta nyata, bahwa Indonesia saat ini krisis pemimpin yang mengilhami kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.
Momentum merayakan Maulid Nabi hari ini idealnya tidak hanya berupa seremonial spiritual, tetapi juga momentum politik etis untuk mengembalikan demokrasi ke jalurnya.
Kerinduan kolektrif kita pada sosok Muhammad mesti diwujudkan dalam komitmen memperjuangkan integritas, keadilan, dan solidaritas sosial dalam ruang publik.
Secara eksplisit, penulis ingin menggaris bawahi 3 poin penting untuk diteladani para pemimpin saat ini. Pertama; Memimpinlah dengan Amanah.
Kekuasaan harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab, jangan mempermainkan amanah sesuai hawa nafsu.
Bukankah kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak? Kedua, rangkul kembali persaudaraan sebagai sebangsa dan setanah air, kuatkan kontrak sosial dengan rakyat. Kuatkan solidaritas lintas social; suku, agama, etnis, Ormas, kelompok rentan, dan sebagainya.
Ketiga, Jiwai moralitas dalam politik. Politik tanpa moral hanya akan menghasilkan kekacauan. Sementara politik berbasis nilai moral menghasilkan cinta damai dan kesejahteraan.
CLOSING ! Kekacauan sosial, politik dan demokrasi kita saat ini menjadi cermin betapa lemahnya fondasi moral dalam praktik bernegara. Refleksi atas kelahiran dan teladan Nabi Besar Muhammad Saw menjadi penting kita renungkan. Beliau menunjukkan bahwa krisis sosial dapat diselesaikan dengan kepemimpinan yang berlandaskan moral, keadilan dan cinta (kasih sayang).
Indonesia akan mampu keluar dari kekacauan saat ini bila para elite politik mampu menjiwai nilai-nilai kepemimpinan Nabi dalam membangun negara yang lebih bermartabat.
Penulis : Dr. Andries Kango, M.Ag. (Dekan Fakuktas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo)



















