
Oleh: Dr. H. Abdul Wahid, MA-(Muballigh dan Akademisi Makassar)
Belakangan ini perhatian publik terhadap Korps Bhayangkara relatif meningkat, hal ini karena ada sejumlah perbuatan yang dilakukan oleh oknum anggota Polri di sejumlah daerah kemudian membuat citra Polri sedikit tercoreng.
Terlepas dari itu semua, ada hal lain yang cukup menarik untuk diketahui publik dimana Kapolri Jenderal Sigit kembali membuat terobosan yang sangat baik dan termasuk yang pertama kali di Indonesia selama Polri berdiri yaitu pada Sabtu (30/10/2021). Perlombaan mural ini secara serentak telah diadakan di seluruh Polda di Indonesia. Kegiatan ini kemudian menyedot perhatian publik terhadap Polri dan kemudian banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat terutama kalangan akademisi di Indonesia Timur.
Diantaranya adalah akademisi dari STIE Tri Dharma Nusantara Makassar Dr. H. Abdul Wahid, MA, menurutnya kegiatan seperti ini harus terus didukung dan semoga ke depan bisa menjadi inspirasi bagi institusi lain, karena perlombaan mural seperti ini bisa sebagai sarana untuk menjalin silaturrahmi bagi para muralis itu sendiri serta silaturrahmi antara kalangan muralis dengan Polri yang mungkin selama ini terkesan ada jarak.
Dalam ilmu komunikasi keberadaan mural ini termasuk ke dalam bentuk komunikasi non verbal artinya suatu bentuk komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata melainkan menggunakan simbol, seperti gambar, bahasa tubuh dan lain sebagainya.
Dalam konteks negara demokrasi posisi mural menjadi salah satu cara yang digunakan oleh sebahagian orang terutama kalangan generasi muda untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah khususnya, terkait dengan berbagai persoalan dan dinamika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Instruksi Kapolri tentang perlunya mengadakan lomba mural kemudian ditindaklanjuti oleh para Kapolda di Indonesia terkhusus Polda Sulawesi Selatan adalah suatu hal yang sangat baik, karena kegiatan ini sebagai salah satu bentuk perhatian Polri terhadap bakat generasi muda khususnya dibidang mural.
Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan, diantara tujuan Polri khususnya Polda Sulsel mengadakan lomba mural ialah untuk menunjukkan bahwa Polda Sulsel sangat menghargai dan mengapresiasi kreatifitas seni yang dihasilkan oleh anak bangsa.
Karena itu ia berharap kegiatan ini juga dapat menjadi sarana untuk mengakomodir dan menjaring bakat para generasi muda di bidang mural khususnya di Sulsel, sehingga bakat mereka semakin terarah dan dapat disalurkan dengan cara-cara yang baik tanpa harus mengganggu fasilitas umum.
Di era digital dan keterbukaan informasi saat ini publik tentu dapat memilih berbagai media komunikasi yang dapat digunakan dalam menyampaikan aspirasinya kepada orang lain terutama kepada pemerintah, misalnya bisa melalui media sosial seperti facebook, youtube, instagram, twitter dan termasuk dalam bentuk lukisan gambar atau mural.
Hanya saja yang terpenting dari semua itu masyarakat tetaplah harus bijak di dalam menggunakan media sosial, hindari penyebaran berita hoax apa lagi jika hal itu bernuansa SARA, atau mencemarkan nama baik pribadi dan organisasi tertentu. Karena agama sendiri memberi tuntunan kepada umatnya agar tidak menjadi bagian yang menyebabkan orang lain merasa terganggu dari ulah dan perbuatan kita.
Manusia yang terbaik adalah bukan mereka yang paling tinggi jabatannya atau yang paling banyak harta bendanya, melainkan mereka yang paling baik akhlaknya serta banyak memberi manfaat kepada sesama. Untuk itu sudah sejatinya keberadaan mural ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk memberi manfaat kepada sesama, karena pesan yang terdapat di dalam gambar tersebut adalah hal-hal yang positif dan inspiratif bagi siapa pun yang melihatnya.(*)




















