
Oleh: Abdul Rajak Babuntai/
Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya, Jakarta.
Diantara kita mungkin ada yang pernah dengar pepatah, “Segalanya bisa berubah dalam sekejap”? Nah, kisah Wahyudin Moridu, anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Fraksi PDI perjuangan, adalah salah satu buktinya.
Coba bayangkan, seorang yang masih muda (usia 30 tahun), duduk di kursi dewan provinsi, tiba-tiba karirnya hancur berantakan hanya karena sebuah video berdurasi tidak lebih dari 2 menit. Dalam video itu, dia bicara hal yang seharusnya tidak pernah terlintas di benak seorang pejabat publik: tentang niat “merampok uang negara”. Akibatnya, dia dipecat dari anggota dewan sekaligus dari anggota partai. Selesai sudah.
Terhadap peristiwa ini, mari kita merenung sejenak. Jangan lihat ini cuma sebagai drama politik atau hukuman untuk seorang yang ceroboh. Ada pelajaran jauh lebih dalam disini, sesuatu yang seringkali kita anggap remeh.
Dalam agama Islam, Tuhan pernah berfirman dalam Qur’an Surah Ali Imran ayat 26 yang bunyinya kurang lebih begini: “Kekuasaan itu di tangan Tuhan. Dia yang memberi, dan Dia pula yang mencabutnya.” singkat, tapi maknanya besar sekali.
Apa yang terjadi pada Wahyudin Moridu adalah cerminan sempurna dari ayat itu. Tuhan lagi memberi peringatan, lewat cara yang keras. Bahwa semua jabatan, kekuasaan, harta, dan status yang kita pegang itu pada dasarnya titipan. Bukan milik mutlak kita.
Kita, manusia, memang punya bakat lupa diri. Sedikit dapat kekuasaan, mudah sekali jadi sombong. Merasa hebat, merasa kebal, merasa segalanya akan selamanya berada dalam genggaman. Wahyudin mungkin lupa bahwa ada kamera yang merekam, tapi yang lebih penting, dia lupa bahwa ada “Yang Maha Merekam” yang selalu mengawasi.
Jadi, kasus Wahyudin bukan hanya tentang dia saja. Ini tentang kita semua.
Buat yang lagi di atas, baik itu pejabat, bos, atau siapa pun yang punya wewenang: ini pengingat untuk tetap rendah hati. Jaga amanah itu dengan jujur. Ingat, sesuatu yang diberikan bisa diambil sewaktu-waktu, dengan cara yang seringkali tidak terduga.
Buat kita yang biasa-biasa saja: ini pengingat untuk tidak silau dengan gemerlap dunia. Jangan sampai kita juga terjebak dalam kesombongan versi kita sendiri, entah karena harta, pencapaian, atau hal lainnya.
Pada akhirnya, kisah Wahyudin ini adalah sebuah nasihat yang nyata. Tuhan punya banyak cara untuk mengingatkan hamba-Nya. Kadang lewat ayat-ayat dalam kitab suci, kadang… lewat video viral yang tak lebih dari 2 menit atau mungkin ada versi yang lain.
Pertanyaannya, sudah siapkah kita mendengar pesan-Nya?..(*)




















