
Oleh: DR. H. Abdul Wahid, M.A
(Muballigh dan Akademisi Makassar)
Dalam bahasa mimbar disebutkan, “penampilan pertama saat tampil di atas mimbar akan sangat menentukan penilaian pendengar terhadap penampilan sang pembicara”. Demikian halnya dengan sepak terjang dan pola komunikasi yang diterapkan oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Sejak awal pencalonannya sebagai calon tunggal Kapolri yang diajukan oleh Presiden, pola komunikasi yang ditampilkan oleh Listyo Sigit Prabowo cukup unik dan banyak diapresiasi oleh masyarakat. Keunikan ini sangat beralasan karena apa yang dilakukan oleh Listyo Sigit Prabowo mungkin belum pernah dilakukan oleh para calon Kapolri sebelumnya.
Misalnya Listyo Sigit Prabowo berkunjung ke sejumlah tokoh agama, masyarakat dan para mantan Kapolri di Jakarta sebelum ia resmi menjadi Kapolri. Hal ini ia lakukan disamping untuk bersilaturrahim juga untuk meminta masukan dan petuah dari para tokoh agama dan seniornya, bagaimana seharusnya model kepemimpinan yang tepat ke depan sebagai seorang nomor satu di Korps Bhayangkara jika ia terpilih menjadi Kapolri.
Listyo Sigit Prabowo kembali menampilkan pola komunikasi yang sangat baik, dimana pada saat ia hadir ke DPR untuk mengikuti uji kelayakan sebagai calon tunggal Kapolri, ia didampingi oleh perpaduan antara anggota Polri yang lebih senior dan yunior darinya. Hal ini memberi pesan kepada masyarakat bahwa hingga saat ini di internal Korps Bhayangkara masih tetap solid.
Pasca ia dilantik oleh Presiden sebagai Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, kembali membuat publik sangat apresiatif kepadanya, karena ia langsung turun gunung untuk berkunjung ke berbagai kalangan, diantaranya adalah ia berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kunjungan ini ia lakukan pada Kamis (28/1/2021).
Kunjungan Jenderal Listyo Sigit Prabowo tersebut bertujuan untuk menjalin silahturahmi atau komunikasi dan untuk meningkatkan sinergitas antara lembaga Polri dan ormas keagamaan di Indonesia. Dalam kesempatan itu, Sigit menyebut, Polri akan meningkatkan sinergitas bersama dengan para ulama untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Potret komunikasi yang ditampilkan oleh Jenderal Sigit, mengingatkan kembali kepada kita semua sebagai bangsa, bahwa dalam rekaman sejarah telah disebutkan kemerdekaan republik ini bisa terwujud karena adanya dukungan dan sinergitas semua anak bangsa khususnya para ulama untuk bersama-sama berjuang dalam menghadirkan kemerdekaan sebagaimana yang kita nikmati saat ini.
Sinergitas antara ulama dan umara lebih khusus lagi Polri, saat ini dan ke depan mutlak dilakukan untuk memaksimalkan hadirnya stabilitas nasional dari Sabang sampai Merauke. Hal yang demikian ini tidak hanya harapan masyarakat tapi telah sejalan dengan petunjuk agama sejak empat belas abad yang silam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Ada dua golongan manusia yang jika mereka baik, akan baik seluruh manusia, dan jika mereka rusak, akan rusaklah seluruh manusia, mereka adalah ulama dan umara”. (HR. Ibnu Nuaim).
Oleh karena itu, saat ini dan ke depan, walaupun sesuai Undang-Undang Polri merupakan lembaga pemerintah yang paling berkewajiban untuk menjaga kamtibmas di dalam negeri, namun demikian semua hal tersebut akan sulit terwujud tanpa partisipasi dan sinergitas semua komponen bangsa khususnya para tokoh masyarakat dan ulama.
Akhirnya, atas nama bagian dari masyarakat dan akademisi di kota Makassar sangat mengapresiasi langkah dan model komunikasi yang diterapkan oleh Jenderal Sigit, semoga ke depan Indonesia semakin aman dan masyarakatnya semakin toleran sehingga situasi kamtibmas tetap terjaga dengan baik.(*)




















