
Oleh : Sahmin Madina/ Dosen Politik Islam
IAIN Sultan Amai Gorontalo
Gerakan Pramuka sebagai mesin pencetak kaum-kaum muda masa depan yang berkualitas dituntut memberikan hasil nyata secara konkret. Pemuda bangsa sedapat mungkin disulap menjadi seorang pemimpin yang diharapkan kelak menjadi pioner masa depan.
Istilah “scout today leader tomorrow” yang sering didengungkan dalam Gerakan Pramuka bukan hanya menjadi ungkapan seremoni, namun memiliki roh akan sebuah cita-cita untuk bagaimana membentuk manusia-manusia yang mampu memimpin.
Hal tersebut dibuktikan pada setiap golongan-golongan dalam Gerakan Pramuka mulai dari siaga, penggalang, penegak dan pandega, dimana terdapat tingkatan-tingkatan yang harus dilewati anggota pramuka sehingga tanpa disadari dalam proses demikian watak kepemimpinan perlahan dibentuk dalam sebuah sistem bernama Syarat Kecakapan Umum (SKU).
Akan tetapi, cita-cita tersebut sangat mengkhawatirkan hanya akan menjadi mimpi karena realitas mengungkapkan bahwa saat ini Gerakan Pramuka mengalami degradasi eksistensi.
Cita-cita Gerakan Pramuka di masa lalu untuk bagaimana membentuk kader-kader pemimpin mengalami stagnansi diakibatkan persoalan global yang melanda kaum muda saat ini sehingga mengakibatkan dicetuskannya revitalisasi Gerakan Pramuka.
Olehnya itu sudah saatnya Pramuka harus terun langsung dalam mengawasi jalannya prosss demokrasi melalui tahapan Pemilu secara serentak 2024 .
Saya yakin bahwa Pramuka dari mental dan fisik serta integritas sudah teruji dan siap melaksanakan tugas untuk membantu jalannya Pemilihan Umum serentak 2024.
Sudah saatnya Pramuka seyogyanya mengambil peran dalam partisipasi politik bersama- sama mengawasi jalanya pemilihan umum secara baik dan benar sehingga pramuka tidak lagi pada pusaran kegiatan ke pramukaan tapi harus untuk kegiatan-kegiatan kepemiluan.
Hakekat Pramuka sebagai pemimpin tidak dapat dipungkiri begitu saja, karena secara epistemilogi kata pramuka berasal dari bahasa sangsekerta yang artinya memimpin.
Oleh sebab itu pramuka paling tidak dapat melakukan upaya-upaya kepemimpinan dalam melatih dirinya sendiri untuk tidak terhegemoni melihat kondisi organisasi yang mengalami degradasi.
Meski tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi Pramuka yang identik berpangkalan dari SD, SMP, SMU & perguruan tinggi penuh dinamika yang kompleks sehingga istilah pramuka menjadi barang taruhan, apakah anggota pramuka kader Pramuka yang integritas sangat baik, terdidik, terlatih dan mampu mengimplementasikan Gerkan Pramuka untuk berlartispasi Politik (pengawasan Pemilu ) untuk bangsa dan negara.
Pramuka tentunya bukan mengambil hak Bawaslu tapi pramuka mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam eksitensi dan integritasya untuk mengawasli jalanya pross pemilu yang baik dan benar Implemantasi pramuka sebagai wujud kongreat dapat ditunjukkan dengan menggunakan manjemen waktu sehingga tercermin bahwa seorang pramuka tegas dan tepat dan mampu untuk melaksanakan pengawasan Pemilu serentak 2024.
Meski hal ini bukan awal dari pramuka untuk berpatislasi politik dalam penyelenggaran pemilu
Tapi paling tidak hal tersebut menjadi cerminan bahwa pramuka bisa berkontribusi nyata kepada bangsa dan negara menuju Pemilu yang jujur dan bermartabat.(*)





















