
NN, GORONTALO- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mendorong kolaborasi konkret antara pemerintah daerah dan Kementerian Kehutanan dalam menangani persoalan lahan kritis serta memperkuat kelembagaan kehutanan di daerah. Penegasan tersebut disampaikan saat rapat koordinasi pembangunan sektor kehutanan Provinsi Gorontalo Tahun 2026 di Aula BPDAS Bone Limboto, Selasa (5/5/2026).
Dalam paparannya, Gusnar menyoroti luas lahan kritis di Gorontalo yang mencapai sekitar 304 ribu hektar berdasarkan laporan terbaru. Ia menilai angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan data sebelumnya, sehingga memerlukan langkah penanganan yang serius dan terkoordinasi.
Sebagai solusi, Gubernur mendorong penerapan terasering pada lahan pertanian dengan kemiringan di atas 30 persen sebagai langkah konkret mengurangi lahan kritis. Ia mengaku telah memulai komunikasi dengan sejumlah kepala daerah untuk mengimplementasikan program tersebut meskipun diakui membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Kalau saya di pemkab sudah berbicara dengan para bupati untuk mulai mencoba mengimplementasikan terasering. Kita wujudkan. Kalau terjadi terasering, mudah-mudahan lahan kritis ini juga mulai berkurang,” kata Gusnar.

Selain itu, Gusnar juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali program penghijauan serta memperkuat usulan ke pemerintah pusat. Ia menyatakan kesiapannya untuk berkomunikasi langsung dengan pejabat Kementerian Kehutanan guna memperjuangkan program-program strategis bagi Gorontalo.
Lebih lanjut, Gubernur mengungkapkan dukungannya untuk rencana pengusulan pembentukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gorontalo sebagai upaya memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati di daerah. Ia menilai, potensi keunikan flora dan fauna Gorontalo menjadi nilai strategis yang perlu diangkat dalam pengajuan tersebut.
“Jadi kita target, kita usulkan BKSDA, kemudian harus kita barengi dengan program terasiring di Gorontalo dan penghijauan agar supaya kementerian juga bisa tertarik untuk membantu kita semua,” ungkap Gusnar.
Berdasarkan tren data luas lahan kritis (2020–2024), total luas lahan kritis di Provinsi Gorontalo mengalami peningkatan signifikan dari 217.177 hektar (2020) menjadi 304.073 hektar (2024), atau meningkat sekitar 40% dalam empat tahun. Kabupaten Gorontalo mencatat luas lahan kritis tertinggi 91.458 hektar pada 2024, diikuti Gorontalo Utara 68.682 hektar. Tren kenaikan ini memerlukan intervensi rehabilitasi yang masif dan segera.(rls/NN)





















