
NN, GORONTALO – Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Gorontalo, Rachmat Gobel mengapresiasi SPPG Libuo, Dungingi, Kota Gorontalo.
“Semua tertata rapi, bersih, dan mengikuti semua prosedur yang ditetapkan BGN,” katanya, Rabu, 6 Mei 2026.
Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Kepala SPPG Siti Riani Claurenza Polontalo menyampaikan, saat ini SPPG tersebut baru melayani 927 porsi. Namun selanjutnya akan menyediakan 1.987 porsi.
SPPG ini baru melayani 3 TK dan 4 SD di Kelurahan Libuo dan Kelurahan Tuladenggi. Selanjutnya akan melayani 4 TK dan 6 SD. Total karyawan ada 30 orang, masing-masing bagian persiapan 5 orang, bagian pengolahan 5 orang, pemorsian 7 orang, sopir 2 orang, cuci food tray 7 orang, keamanan 1 orang, kebersihan 2 orang, dan asisten lapangan 1 orang. Rachmat Gobel berkeliling SPPG mulai dari dapur, ruang penyimpanan food tray, ruang pimpinan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan sebagainya. Toilet dan musola berada di gedung terpisah. Semua yang masuk ruangan harus steril, mengenakan masker dan penutup kepala. “Mereka bekerja dari tengah malam dan proses masak selesai pukul lima pagi, dan pukul tujuh sudah siap didistribusikan,” kata Siti.
Pada kesempatan itu hadir pula kepala dinas lingkungan hidup dan kepala dinas kesehatan Kota Gorontalo. Mereka secara rutin memberikan supervisi dan memonitor pengolahan limbah, kebersihan, dan kesehatan. Di Provinsi terdapat 89 SPPG.
Sebagai bentuk apresiasi, Gobel menyumbangkan mesin penjernih air agar air yang digunakan lebih steril. Namun ia menyarankan agar ada blower di pintu masuk agar setiap orang yang masuk disemprot dengan udara agar terbebas dari debu. Hal ini sesuai dengan standar yang diterapkan di pabrik industri kuliner Chateraise yang ia miliki.
“Indonesia ini, apalagi di Gorontalo, banyak debu. Jadi perlu lebih steril lagi dari debu,” beberya.
Gobel juga meminta agar dinas terkait di pemerintah daerah melaksanakan fungsinya dengan terus melakukan pengawasan dan pengecekan penerapan standar kesehatan, kebersihan, dan pengolahan limbah. Selain itu, ia memuji langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang menempatkan ahli gizi, kepala dapur, dan juga akuntan yang memastikan pelaksanaan standar operasional (SOP) SPPG. Namun ia mengingatkan agar SOP yang telah dibuat benar-benar diterapkan dan terus diperbarui agar tak terjadi masalah keracunan maupun penurunan kualitas makanan.
“Kritik dari masyarakat adalah masukan. Jangan dijadikan sebagai bentuk kebencian atau ketidaksukaan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini program yang bagus, massal, dan harus didukung. Memang ada saja kekurangan dalam pelaksanaan di lapangan. Indonesia ini luas dan beragam, sehingga ada saja pengelola yang belum paham atau tak cukup komitmen. Jadi jika ada yang meleset sesuatu yang mungkin sehingga muncul kritisisme. Itu harus dilihat sebagai masukan,” katanya.
Kunjungan Gobel ke SPPG ini bagian dari perhatian dirinya terhadap pengembangan kualitas sumberdaya manusia di Gorontalo. Program MBG ini, katanya, bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
“Kami harus memastikan semua berjalan dengan baik dan benar. Saya meminta kepada BGN, SPPG, dan pemerintah daerah agar benar-benar melaksanakan semua prosedur dan ketentuan. Ini menyangkut masa depan generasi penerus kita. Sumberdaya manusia harus dimulai dari asupan gizi, kecukupan asupan, dan proses belajar mengajar yang baik dan benar. Jadi semua pihak, termasuk pengawasan dari masyarakat harus menjadi bagian dari ekosistem yang sehat dan berkualitas,” katanya.
Dia menilai, munculnya kritisisme dari masyarakat harus diterima sebagai realitas. “Lihat substansinya, perbaiki diri, dan tanggapi secara terukur dan positif. Kita semua ingin Indonesia yang berkualitas dan maju,” pungkasnya.(*)




















