
Oleh: Dr.H. Abdul Wahid, MA-(Muballigh & Akademisi Makassar)
Indonesia bagaikan rumah besar di dalamnya terdapat sebuah taman bunga yang asri dan indah, ditumbuhi beraneka ragam bunga yang subur dan sangat memanjakan mata bagi siapa pun yang memandangnya. Inilah gambaran kondisi ril masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari beragam suku, ras, agama dan lain sebagainya.
Menyadari akan hal tersebut, sepertinya penting diingatkan kembali kita sebagai sebuah bangsa akan perlunya mengukuhkan kembali semangat toleransi dan persatuan sesama anak bangsa, apa lagi saat ini negara kita baru saja selesai menggelar Pilkada serentak di tengah masa pandemi yang telah berdampak pada seluruh sektor kehidupan umat manusia baik dalam sektor kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya.
Membangun semangat toleransi dan persatuan ini penting dihadirkan dalam konteks bernegara saat ini, karena kita harus jujur akui, bermula dari pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta pada 2017 silam, kemudian diikuti oleh Pilpres pada 2019 lalu, dua pesta demokrasi tersebut bisa dikatakan sebagai titik awal membuat masyarakat Indonesia seakan terbelah hingga saat ini.
Pembelahan tersebut kemudian sampai sekarang sepertinya belum seutuhnya hilang, hal ini terbukti dari berbagai statement dan postingan di media sosial oleh oknum elit dan masyarakat tertentu sering menimbulkan kegaduhan dan provokasi, karena isu yang diangkat sangat sensitif menyinggung masalah SARA, kemudian lahirlah kelompok yang mengklaim dirinya paling nasionalis, paling Pancasilais dan paling NKRI.
Kita tentu tidak mau Indonesia yang diperjuangkan oleh para pendiri negara ini di masa silam dengan mengorbankan darah dan nyawa hancur hanya karena ego oleh segelintir orang di republik ini. Belajar dari berbagai negara di Timur Tengah, seperti Suriah, Irak, Yaman, Libia dan lainnya hingga saat ini terjadi perang saudara yang mengakibatkan seluruh tatanan kehidupan mereka hancur berantakan, hal ini terjadi karena sejak awal mereka sebagai bangsa tidak sadar jika ada oknum tertentu yang ingin menghancurkan kedamaian dan persatuan yang selama ini telah terjalin di negara tersebut.
Bukanlah hal yang mustahil hal serupa akan terjadi di Indonesia, jika pembelahan atau polarisasi di tengah masyarakat dibiarkan berlarut-larut. Saling caci dan hina seakan sudah menjadi “karakter sebagian oknum dari bangsa kita”.
Untuk itu, diantara hal yang prioritas segera dilakukan saat ini sebagai bangsa adalah harus kita sebagai masyarakat tidak mudah terpancing dengan berbagai isu hoax yang dapat merusak tatanan kamtibmas yang selama ini telah kita bangun bersama dengan susah payah.
Perdamaian itu adalah kebutuhan mendasar dan sangat penting bagi berbangsa, untuk itu kita sebagai umat Islam khususnya hendaklah bisa menjadi pelopor pedamaian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi saw. dimasa silam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis“Dari Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu anhu bahwa penduduk Quba’ telah bertikai hingga saling lempar batu, lalu Rasûlullâh saw. dikabarkan tentang peristiwa itu, maka beliau bersabda: Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka”. (HR. Bukhari).
Substansi pesan hadis di atas bahwa Nabi saw. mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa mampu menjadi juru damai di tengah masyarakat. Dengan kata lain umat Islam harus dapat menjadi pelopor keamanan dan perdamaian apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini masih menjadi ancaman yang sangat berbahaya.
Di sisi lain kita sebagai masyarakat merupakan suatu keniscayaan untuk terus mendukung berbagai kebijakan yang telah dicanangkan oleh pemerintah diantaranya, tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menghindari kerumunan terutama pergantian tahun baru beberapa hari ke depan.
Untuk mendukung kebijakan pemerintah tersebut Kapolri Jenderal Pol Idham Azis menerbitkan Maklumat Nomor Mak/4/XII/2020 tentang Kepatuhan Terhadap Protokol Kesehatan dalam Pelaksanaan Libur Natal Tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 pada Rabu (23/12/2020).
Maklumat Kapolri ini menunjukkan kepedulian Polri terhadap kesehatan dan kemaslahatan masyarakat, karena sebagaimana kita saksikan diberbagai media angka yang positif Covid-19 semakin meningkat termasuk di kota Makassar.
Olehnya itu upaya yang paling tepat dan bijak saat ini dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19 adalah masyarakat harus menumbuhkan semangat persatuan sesama anak bangsa untuk disiplin mematuhi protokol kesehatan, dan pada saat yang sama tidak mudah terprovokasi dengan berbagai isu hoax dan berupaya menghadirkan toleransi sesama umat beragama, maka kehidupan yang aman dan damai diseluruh nusantara bisa terwujud dengan baik.(*)





















