Newsnesia.id
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
  • Home
  • TrendingHot
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Baliknew
No Result
View All Result
Newsnesia.id
No Result
View All Result
Home Opini

Sekulerisme Membunuh Masa Depan Generasi

by NN Indonesia
10 November 2025
in Opini
Reading Time: 4 mins read
Karmila

Oleh : Karmila N./Pengajar

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bunuh diri pada anak di Indonesia menjadi perhatian serius. Data Kemenkes RI menunjukkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor kedua pada remaja usia 15-29 tahun di Indonesia. Survei Nasional Kesehatan Jiwa dan Riskesdas 2018 juga mencatat bahwa sekitar 6,1% remaja pernah memiliki ide bunuh diri, dan angka ini diperkirakan naik setelah pandemi Covid 19.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pernah menyampaikan bahwa program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dijalankan Kemenkes RI menemukan indikasi lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa, mulai dari kecemasan, depresi, hingga penyalahgunaan gawai dan media sosial. Program ini dilakukan sebagai bagian dari upaya deteksi dini yang menargetkan lebih dari 20 juta penduduk di seluruh Indonesia. WHO juga memperingatkan bahwa 1 dari 7 anak usia 10-19 tahun di dunia mengalami gangguan mental, dan bunuh diri menyumbang lebih dari 70 ribu kematian remaja per tahun secara global.

BUKAN MASALAH PRIBADI, TAPI SISTEMIK

Fenomena meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar tidak bisa dibaca secara dangkal sebagai kasus akibat bullying semata. Sebaliknya, akar persoalannya jauh lebih dalam, menyentuh dimensi ideologis yang membentuk cara pandang generasi muda terhadap hidup dan diri mereka. Tidak mengherankan jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2023) mencatat bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbesar pada remaja usia 15-29 tahun di dunia, sehingga data ini jadi alarm keras bahwa terdapat masalah struktural yang serius dalam pembentukan karakter generasi saat ini.

Selain itu, meningkatnya kecenderungan bunuh diri menunjukkan bahwa pondasi kepribadian generasi muda tidak kokoh. Mereka mudah rapuh dihadapkan tekanan akademik, eksistensial, maupun sosial. Survei UNICEF Indonesia (2021) mengungkap bahwa 1 dari 3 remaja mengalami gejala depresi dan kecemasan. Kondisi tersebut semakin parah akibat pendidikan sekuler yang hanya menekankan pencapaian intelektual, sementara agama diletakkan sebatas teori tanpa pengaruh nyata pada pembentukan perilaku. Akibatnya, remaja menjadi pandai namun mudah gelisah, berprestasi tetapi kehilangan pegangan hidup, serta terlihat kuat padahal rapuh secara ruhiyah. Di sisi lain, paradigma Barat yang menetapkan kedewasaan pada usia 18 tahun juga berimplikasi buruk bagi remaja yang sudah balig. Mereka memiliki dorongan syahwat dan potensi akal yang berkembang, namun tidak diberi tanggung jawab peran, sehingga muncul role confusion yang semakin menenggelamkan mereka dalam kebingungan identitas. Bahkan, UNICEF (2023) menegaskan bahwa kebingungan peran pada remaja modern jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Tidak berhenti di sana, penerapan sistem kapitalisme juga menjadi akar tekanan mental yang melahirkan standar hidup berbasis materi, persaingan tanpa nilai ruhiyah, serta disharmoni keluarga akibat tekanan ekonomi. Kemenkes RI (2022) mencatat bahwa 42% gangguan mental remaja dipicu konflik keluarga dan tekanan ekonomi. Ditambah lagi, paparan masif media sosial terhadap konten bunuh diri menciptakan fenomena suicide contagion, di mana WHO (2021) menyebut anak yang terpapar pemberitaan bunuh diri berisiko 37% lebih tinggi untuk menirunya. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa lonjakan bunuh diri pelajar merupakan indikator bahwa pendidikan sekuler dan paradigma Barat gagal membangun generasi yang kokoh akidahnya, matang akalnya, dan kuat kepribadiannya. Selama sistem pendidikan memisahkan agama dari proses pembentukan karakter dan tunduk pada kapitalisme, maka krisis kejiwaan anak dan remaja tidak akan pernah selesai, justru akan terus meningkat dan semakin mengkhawatirkan.

 

SOLUSI SISTEMIK, SELAMATKAN GENERASI

Dalam perspektif Islam, akidah Islam merupakan fondasi utama dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan baik di keluarga, sekolah, maupun seluruh jenjang institusi pendidikan. Akidah menjadi dasar bagi terbentuknya pola pikir dan pola sikap yang benar sehingga peserta didik memiliki kekuatan mental dan spiritual untuk bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqān (kemampuan membedakan yang hak dan batil)…” (QS. Al-Anfal: 29). Akidah yang kuat melahirkan keteguhan berpikir furqan yang menjadi modal dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Oleh karena itu, dasar ini menjadi pijakan penting dalam mengarahkan seluruh tujuan pendidikan Islam.

Selanjutnya, tujuan pendidikan Islam telah ditegaskan dengan sangat jelas, yakni membentuk kepribadian Islam melalui integrasi pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) Islami. Dengan begitu, pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi membentuk manusia yang mampu menilai segala sesuatu berdasarkan syariat, dan bertindak sesuai ketentuan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Akhlak yang mulia merupakan buah dari iman yang benar dan ilmu yang mendalam dua aspek inti dalam pembentukan kepribadian Islam. Dengan demikian, capaian kepribadian menjadi fokus yang tidak dapat ditawar dalam sistem pendidikan Islam.

Adapun dalam proses pendidikan, Islam memberikan perhatian khusus pada fase sebelum anak mencapai balig. Dalam Islam, saat anak mencapai usia balig, ia tidak hanya matang secara fisik, tetapi juga matang dalam akal dan tanggung jawab hukum syariat (aqil baligh). Karena itu, pendidikan sebelum balig harus diarahkan untuk  mematangkan pemahaman dan pemikiran Islam, menanamkan kebiasaan-taat yang lahir dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak melakukannya) pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud). Fase pembiasaan terarah agar ketika anak balig ia telah siap menjadi Muslim yang bertanggung jawab penuh pada syariat, sekaligus memiliki mentalitas yang kokoh menghadapi tantangan hidup.

Dalam kerangka lebih luas, Islam juga memberikan solusi komprehensif terhadap persoalan gangguan mental yang semakin meningkat di masyarakat. Kesehatan mental dalam Islam tidak hanya diukur dari sisi klinis, juga terkait kondisi sosial, ekonomi, dan spiritual yang stabil. Penerapan Islam secara menyeluruh menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, menghadirkan keluarga harmonis, serta memberikan arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan manusia. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar dan ketenangan iman, maka faktor-faktor pemicu gangguan mental dapat dicegah. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang imam (khalifah) adalah penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, penerapan syariat secara kaffah oleh negara merupakan aspek preventif sekaligus kuratif terhadap krisis psikologis masyarakat modern.

Sedangkan kurikulum dalam sistem pendidikan Islam yang dalam sejarahnya diterapkan oleh Khilafah dibangun atas penguatan kepribadian Islam  (akidah, akhlak, tsaqafah Islam) dan penguasaan kompetensi ilmu kehidupan (sains, matematika, teknologi, dll.). Tujuannya agar peserta didik mampu menyikapi berbagai persoalan secara syar‘i, memanfaatkan sains untuk memakmurkan bumi tanpa terjebak pada materialisme. Allah SWT berfirman: “Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar…” (QS. Ali Imran: 110). Menegaskan bahwa output pendidikan Islam adalah generasi pemimpin peradaban yang mengarahkan kemajuan ilmu dan tatanan masyarakat sesuai syariat, bukan sekadar menjadi tenaga kerja dalam sistem ekonomi kapitalistik.(*)

 

Tags: Sekularisme
ShareSendTweetShare

Berita Terkait

f.antara
Opini

Karhutla Meluas, Korban Berjatuhan: Akumulasi Kejahatan Negara-Korporasi?

19 September 2026
Aris Setiawan
Opini

Bubarkan Saja KADIN Gorontalo

18 September 2026
Headline

Meluruskan Pandangan Kewenangan Polri dan PPNS Dalam Penegakan Hukum Cagar Budaya

11 September 2026
Next Post
Weny Gaib-f.hms

Wali kota Weny Irup Peringatan Hari Pahlawan

f.ist

Wali kota Weny bersama Wawali Rendy Ziarah dan Tabur Bunga di TMP Mongkonai

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Trending

f.ist

Sekulerisme Membunuh Masa Depan Generasi

12 bulan ago

Bappeda Gorontalo Utara Raih Penghargaan Pemimpin dan Agen Perubahan Terbaik

4 tahun ago
f.ist

IGA Kotamobagu 2026, 28 Peserta OPD Ikuti Presentasi dan Wawancara

1 bulan ago
f.hms

Pemprov Gorontalo Usul Dua Putra Daerah Masuk Direksi BSG

14 jam ago
f.hms

Maxim Perluas Jangkauan Layanan ke Tolangohula

2 hari ago
Layanan PERINTIS 10 hari di Kantah Kota Gorontalo.

Kantor Pertanahan Kota Gorontalo Implementasikan Layanan PERINTIS 10 Hari Tahap III

2 minggu ago
Kepala Kantah Kota Gorontalo saat hadiri rapat bersama DPRD Kota Gorontalo.

Kantah Kota Gorontalo Bahas Evaluasi Penerbitan Sertipikat Tanah Bersama DPRD

1 minggu ago
Gedung Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo-(f.ist)

Dosen Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Terhadap Mahasiswi Diskorsing

7 hari ago
Ilustrasi

MasNya ATR/BPN Diluncurkan, Masyarakat Bisa Tanya Soal Layanan Pertanahan Lewat Live TikTok

4 minggu ago
Rapat Expose Pengadaan Tanah yang dihadiri Kantah Kota Gorontalo

Seksi Pengadaan Tanah Kantah Kota Gorontalo Hadiri Rapat Expose Laporan Data TA 2026

1 minggu ago

Terbaru

f.hms
Headline

Provinsi Gorontalo Terbaik Pengentasan Kemiskinan

by NN Indonesia
27 Oktober 2026
0

f.hms NN, GORONTALO- Pemerintah Provinsi Gorontalo meraih penghargaan Mandaya Award 2026 dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat,...

f.hms

Pemprov Gorontalo Usul Dua Putra Daerah Masuk Direksi BSG

27 Oktober 2026
f.hms

Maxim Perluas Jangkauan Layanan ke Tolangohula

26 Oktober 2026
f.ist

ASUS Rilies Duo Laptop Kreator Profesional Terbaru

25 Oktober 2026
Pelatihan bahasa Jepang yang dibuka oleh Kadis Naker ESDM dan Transmigrasi Gorontalo.

Bekali Calon Pekerja Migran, Disnaker Gorontalo Fokus pada Penguasaan Bahasa Jepang

24 Oktober 2026
f.ist

Hadiri Rakornas TPAKD, Prabowo Sapa Wagub Idah; Masih Keluarga Pak B.J. Habibie ?

22 Oktober 2026
Gedung Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo-(f.ist)

Dosen Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Terhadap Mahasiswi Diskorsing

21 Oktober 2026
Kapolres Pohuwato AKBP Busroni dapat penghargaan dari Kapolda Gorontalo

Kapolres Pohuwato dapat Penghargaan dari Kapolda, Buah Kerja Berantas Aktivitas PETI

21 Oktober 2026
Pengerukan sungai oleh PGM

Pani Gold Mine Lanjutkan Komitmen, Dukung Normalisasi dan Pemeliharaan Intake Air Terang PDAM

21 Oktober 2026
Kepala Bidang SMA dan DIKSUS, Dikbud Provinsi Gorontalo, Agus Sumba. (Foto: dok).

Insiden Dugaan Perundungan di SMA Negeri 1 Kota Gorontalo, Dikbud Provinsi Bersikap

21 Oktober 2026
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman & Kode Etik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.

No Result
View All Result
  • Home
  • Trending
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
      • Kota Gorontalo
      • Kab Gorontalo
      • Boalemo
      • Pohuwato
      • Bone Bolango
      • Gorontalo Utara
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kilas Balik

© 2025 Newsnesia.id - Mewarnai Nusantara.